Posted by: luckymulyadisejarah | February 10, 2009

Kajian Budaya dan Sejarah

Penjelasan Kajian antar Teks
terhadap Konstruksi Identitas Budaya

Oleh: R Muhammad Mulyadi

Teks merupakan suatu representasi dari kehidupan masyarakat dan kajian budaya berupaya merepresentasikan masyarakat melalui kajian antar teks. Repre-sentasi yang dihadirkan memang tidak pernah lengkap, sama halnya dengan kajian-kajian disiplin lain seperti sejarah misalnya, masa lalu yang dihadirkan kembali tidak pernah utuh. Hal itu disebabkan adanya proses seleksi yang mengakibatkan sebagian aspek dari realitas masyarakat dapat ditangkap dan sebagian realitas lainnya di-abaikan. Dalam ilmu sejarah misalnya ada data-data (bisa data apa saja yang di-kategorikan sebagai teks) yang dapat ditemukan dan data-data yang tidak atau belum ditemukan, maka seorang sejarawan hanya menangkap realitas dari masyarakat berdasarkan data-data yang ditemukannya saja. Di samping itu, dapat juga sejarawan tersebut mengabaikan data-data yang ditemukannya karena dianggap tidak relevan dengan bidang yang dikajinya. Dengan kata lain, sejarawan dapat saja memfokuskan diri pada sebagian realitas masyarakat. Dengan demikian, realitas yang direpresen-tasikan oleh seorang sejarawan tidak dapat utuh.
Demikian pula kaitannya dengan dengan teks sebagai bahan kajian, apakah suatu teks telah merepresentasikan secara utuh atau benar mengenai realitas masya-rakat? Ketidakyakinan bahwa teks dapat merepresentasikan masyarakat tersebut muncul karena misalnya, dalam beberapa kasus pemberitaan di media massa ada yang menonjolkan suatu masalah bersifat ekonomi sementara media massa yang lain menonjolkan masalah politik atau kriminal. Hal itu disebabkan wartawan dan redaksi lah yang menetapkan pemilihan berita atau isu-isu dan menyingkirkan berita dan isu-isu yang lain. Dengan demikian realitas dikontruksi, dalam istilah Ben Anderson sebagai hal yang dibayangkan, oleh para penggiat media massa.
Kebenaran yang sesuai dengan kenyataan atau tidak, menjadi sesuatu hal yang kurang penting dengan mempertimbangkan bahwa media massa tidak mungkin merepresentasikan realitas secara menyeluruh. Dalam arti kata digambarkan secara mendetail dan kemudian dilihat dari berbagai perspektif. Realitas yang diangkat dalam satu media hanyalah representasi, yang mengandung implikasi. Artinya, ada hal-hal tertentu dari realitas yang dihilangkan atau ditambah.
Realitas secara utuh memang tidak dapat ditangkap, meskipun demikian kajian budaya telah memberikan suatu sumbangan yang sangat penting dalam merepresentasikan masyarakat yaitu melalui kajian interdisiplin atau anti-disiplin. Kajian budaya disebut suatu kajian anti-disiplin karena menolak pengkotak-kotakan ilmu pengetahuan yang saling mengklaim kebenaran yang dihasilkan disiplin ilmunya masing-masing. Kajian budaya justru harus mengakomodasi kontribusi teori maupun metode dari berbagai disiplin ilmu yang dipandang strategis untuk merepresentasikan realitas masyarakat terutama representasi terhadap permasalahan kekinian. Kajian budaya berkembang pada batas-batas dan pertemuan berbagai jenis wacana yang telah dilembagakan dalam berbagai bidang disiplin ilmu, terutama dalam ilmu sejarah, linguistik, susastra, antropologi, dan sosiologi. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana kebudayaan (produksi sosial makna dan kesadaran) dapat dijelaskan dalam dirinya sendiri dan dalam hubungannya dengan berbagai bidang ilmu lainnya seperti ekonomi (produksi dan konsumsi) dan politik (relasi sosial dan kekuaaan). Dalam hal ini kajian budaya berupaya merepresentasikan masyarakat secara multidimensi, dengan demikian dapat memperjelas dan mem-perkaya pemahaman terhadap suatu permasalahan yang dikaji.
Sumbangan kedua dari kajian budaya adalah membangun sebuah kerangka kerja yang berusaha menempatkan dan menemukan kembali kebudayaan dari kelompok-kelompok masyarakat yang sering termarjinalkan atau sering diabaikan, yang kemudian dikenal dengan subaltern.
Demikian pula halnya dalam kaitannya dengan konstruksi identitas nasional kajian budaya telah menawarkan beberapa hal yang harus dijelaskan seperti pema-haman terhadap dunia sehari-hari sebagai bagian dari budaya yang penting di-perhatikan. Dunia sehari-hari adalah suatu wacana yang biasa dilakukan, dirasakan, dibicarakan, dilihat dan didengar dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat. Hal ini yang disebut oleh Melani Budianta sebagai acuan/wacana yang beredar di masyarakat.
Oleh karena, wacana yang beredar di masyarakat maka budaya yang harus diperhatikan dalam kajian budaya bukan saja budaya yang bersifat adiluhung. Akan tetapi, juga budaya populer dan budaya sebagai keseluruhan cara hidup (way of life) suatu masyarakat.
Suatu hal terpenting bagi pendekatan yang memandang budaya sebagai kegiatan sehari-hari adalah pemahaman tentang konstruksi sosial atas realita. Dalam perspektif ini realitas dipahami dan diabaikan, dibicarakan dan dilupakan, dihidupkan atau dimatikan, dikelola atau dirusak, dimanfaatkan atau dibuang, berdasarkan sistem konstruksi yang beredar di masyarakat. Jadi, sesuatu selalu berubah-ubah, baik disebabkan oleh keterbukaan maupun dari interaksi berbagai arah.
Dalam hal identitas budaya proses perubahan juga harus dikaitkan dengan globalisasi. Harus diperhatikan pula dampak-dampak yang disebabkan oleh globali-sasi terhadap identitas kebudayaan.
Dalam penjelasan kontruksi identitas kebudayaan menurut kajian budaya harus dilakukan suatu dekontruksi, yaitu mengidentifikasi hal-hal yang kontradiksi dalam masyarakat (kontradiksi internal) seperti nasional versus global atau nasional versus lokal. Kemudian melihat ke arah mana perubahan akan terjadi. Menurut penulis, dekontruksi ini merupakan sumbangan sumbangan ketiga dari kajian budaya dalam merepresentasikan masyarakat.
Melalui dekontruksi, kajian budaya yang memberikan suatu interpretasi dan representasi harus membantu masyarakat memahami dominasi dan jenis perubahan yang diinginkan. Sehingga dalam identitas kebudayaan nasional masyarakat harus “disadarkan” mengenai pemahaman arus budaya global terhadap budaya nasional. Apa pengaruh budaya global tersebut terhadap identitas budaya, bagaimana resistensi dan penerimaan atas budaya global? Perubahan-perubahan apa saja yang diakibatkan oleh globalisasi, apakah bangsa Indonesia menjadi pemangsa atau mangsa dari globalisasi budaya tersebut. Selain itu desakan dari bawah (lokal) terhadap kebudayaan nasional juga harus diamati. Kebudayaan lokal suatu saat dapat juga menjadi suatu identitas bagi kebudayaan nasional.
Kesadaran masyarakat tersebut pada akhirnya akan memberikan suatu sumbangan lainnya dari kajian budaya, yaitu tidak adanya kebenaran tunggal. Sehingga identitas kebudayaan nasional pada dasarnya mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan interaksi dari berbagai arah. Identitas kebudayaan nasional yang kita akui saat ini dapat saja berubah sewaktu-waktu. Perubahan tersebut merupakan hasil konstruksi.
Konstruki budaya tersebut terjadi karena adanya dominasi ideologi yang dikuasai oleh penguasa. Di sinilah terjadi apa yang dinamakan sebagai hegemoni, suatu kondisi temporer dalam “lapangan pertempuran”. Kajian budaya kemudian adalah untuk mengekplorasi bagaimana ideologi yang berasal kelas-kelas berkuasa mampu bertahan dan hidup tanpa disadari. Cara-cara ideologis tersebut bisa terus mengacaukan sistem kekuasaan (power) yang eksis. Melalui kekuasaan inilah identitas budaya dikontruksi, baik itu kekuasaan politik maupun oleh kuasa modal (capital). Kuasa modal misalnya melalu media massa, berbagai acara televisi tidak luput dari beragam muatan ideologis yang berada di dalamnya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa para pemilik modal (dalam hal ini pemilik stasiun tv) lah yang mengkonstruksi suatu budaya tertentu sehingga menjadi suatu identitas kebudayaan. Sedangkan pemerintah dapat saja merekontruksi identitas budaya melalui kuasa politiknya misalnya dengan mengeluarkan suatu undang-undang tertentu tentang identitas budaya. Contohnya adalah Soekarno yang berupaya mengkontruksi identitas nasional dengan mengeluarkan larangan untuk memainkan musik Barat yang dicapnya sebagai perusak kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional dikontruksikannya dengan melihat unsur-unsur budaya lokal tanpa pengaruh kebudayaan Barat.

Daftar Pustaka

Anderson, Benedict. 1983. Imagined Communities: Reflection on the Origin and Spread of Nation. London-New York: Verso.
Budianta, Melani. 2000. Discourse of cultural identity in Indonesia during the 1997-1998 monetary crisis. Inter-Asia Cultural Studies, Volume 1, Number 1.


Responses

  1. TERIMAKASIH TAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

  2. Tulisan yang menarik. Konstruksi identitas budaya menurut saya sifatnya akan selalu cair dan akan mencari bentuknya sendiri.

  3. Salam. Kajian budaya membuka mind set untuk memahami pola2 perkembangan peradaban manusia dari zaman dahulu, sekarang dan yang akan datang. artikelnya saangat bermanfaat. terima kasih banyak. salniwati-kajian budaya UHO


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: