Posted by: luckymulyadisejarah | January 27, 2009

Sejarah Industri Musik

Industri Musik Indonesia dan Sumber Daya Budaya

Oleh: Lucky Muhammad Mulyadi

 

Apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, industri musik Indonesia sebenarnya termasuk yang beruntung. Keberuntungan Indonesia terletak pada akar budaya yang telah ditanamkan sejak orde lama.

Peran Soekarno yang dicemooh sebagai pembelengu kebebasan dalam ekspresi seni pasca keruntuhannya, saat ini justru harus dikaji sebagai orang yang berjasa menggali dan mempertahankan kebudayaan Indonesia dari gempuran budaya asing. Tanpa kebijakannya tersebut, rasanya sulit untuk mengatakan bahwa industri musik Indonesia akan ada pecinta setianya. Meskipun ada fakto-faktor lainnya seperti musisi-musisi Indonesia yang memanfaatkan momentum kebijakan tersebut dengan menciptakan berbagai musik dan lagu yang selaras dengan kebijakan Soekarno.

Untuk menciptakan kecintaan terhadap musik Indonesia, Soekarno juga mendorong kreativitas musisi dengan mendirikan Lokananta. Suatu perusahaan rekaman negara yang mendokumentasikan dan menyebarluaskan musik-musik Indonesia ke berbagai daerah. Kebijakan Soekarno yang antibarat telah mengakibatkan dominannya lagu-lagu berbahasa Indonesia dan lagu-lagu daerah di tanah air.

Era Soeharto, disengaja atau tidak, juga telah melanjutkan ke-Indonesia-an melalui musik terus berlanjut. Pada era pemerintahan Soeharto inilah industri musik Indonesia semakin berkembang. Soeharto tidak mengeluarkan kebijakan anti barat seperti yang dilakukan Soekarno, tetapi melalui kebijakannya yang menetapkan TVRI sebagai satu-satunya stasiun tv di Indonesia, telah menjaga keberuntungan industri musik Indonesia. Keberuntungan tersebut disebabkan TVRI hanya menyiarkan musik-musik Indonesia. TVRI merupakan media yang paling efektif untuk mengiklankan, secara tersembunyi, musik Indonesia sampai ke pelosok daerah.

Dibandingkan dengan negara tetangga, misalnya Malaysia dan Filipina pelaku industri musik di Indonesia seharusnya menyadari adanya kekuatan sumber daya budaya bangsa Indonesia dalam hal musik. Malaysia sudah digempur oleh label asing sejak tahun 1960-an, dalam ukuran industri karya-karya lokal Malaysia dapat dikatakan tidak berkembang terlalu baik. Pasar lokal mereka dikuasai oleh label asing. Pasar industri musik Malaysia sendiri sejak tahun 1960-an sudah menjadi pasar bagi industri musik Indonesia. Saat ini para pelaku industri musik di Malaysia sedang menunggu diberlakukannya ketentuan untuk membatasi lagu-lagu asing, termasuk. lagu Indonesia. Industri musik Malaysia menganggap perlu melindungi dirinya dari serbuan asing. Meskipun dilihat dari kacamata “semangat jaman” kebijakan pelaku industri Malaysia itu sudah tidak cocok lagi.

Filipina meskipun terkenal dengan kemampuan musisi dan penyanyinya yang banyak main di berbagai club dan hotel mancanegara ternyata tidak berdaya dalam industri musiknya sendiri. Sampai akhirnya beberapa musisi Filipina meminta kebijakan Presiden Marcos untuk memutar satu lagu Filipina dalam satu jam siaran di radio-radio swasta di Filipina. Hal itu disebabkan stasiun-stasiun radio di Filipina dalam jam siarnya hampir secara penuh menyiarkan lagu berbahasa Inggris dari penyanyi asing. Pada saat presiden Aquino, kebijakan itu berubah menjadi tiga lagu untuk satu jam siaran. Karena akar budaya yang tidak kuat dalam musik pop nya generasi muda Filipina lebih menyenangi musik barat daripada musiknya sendiri.

Dengan kenyataan seperti itu, harus dipertimbangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh generasi muda Malaysia dan Filipina untuk belanja musik pop asing. Dalam kasus di Malaysia, betapa frustasinya pelaku industri musik di Malaysia sehingga melemahkan semangat daya cipta mereka dan meminta kekuasaan pemerintah bertindak melindungi  pasar.

Akar musik nasional yang telah ditanamkan oleh Soekarno hampir sama dengan yang terjadi di Korea Selatan. Pada tahun 1960-1970-an  pemerintah Korea Selatan juga melakukan kebijakan yang sama dengan kebijakan Soekarno. Bedanya, di Indonesia pelarangan dilakukan saat kebudayaan Barat belum masuk secara intens, sementara di Korea Selatan pelarangan dilakukan ketika musik asing sudah intens sejak tahun 1950an. Pemerintah Korea Selatan pada tahun 1960-1970an menganggap bahwa generasi mudanya telah terpengaruh oleh budaya yang tidak sehat, seperti penggunaan rok mini dan gaya rambut yang kebaratan-baratan, dan terutama nyanyian yang tidak sehat. Untuk itu pemerintah melarang musik asing dan dikembangkanlah musik yang harus mencerminkan identitas nasional.

Langkah yang ditempuh Orde Lama dan Pemerintah Korea Selatan dalam melindungi kebudayaannya telah menghasilkan sesuatu yang sama pula yaitu Indonesia dan Korea Selatan sama-sama memiliki akar budaya yang kuat. Akan tetapi, kita tidak seperti Korea Selatan yang telah mendunia melalui K-pop nya. Lewat akarnya yang kuat, ditunjang oleh manajemen yang baik, dan dukungan pemerintah, Korea Selatan telah berhasil menapaki industri musik dunia. Ini tentu bukan keberuntungan, melainkan kerja keras dan kecerdasan membaca pasar.

Seperti halnya Korea Selatan, industri musik Indonesia mempunyai modal sumber daya budaya yaitu bangsa Indonesia sebagai konsumen yang setia pada musiknya dan musisi yang kreatif. Akan tetapi,  hal tersebut tidak akan menunjukkan tingkat keberartian apabila tidak ditunjang manajemen yang baik dan dukungan pemerintah. Masalah-masalah klasik dalam industri musik harus segera dibenahi seperti pembajakan misalnya, dalam penelitian Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Universitas Indonesia (PPKB-UI) pada tahun 2005 telah memperlihatkan bahwa 46,50% konsumen musik di berbagai daerah sampel yang diteliti menyatakan bahwa mereka membeli musik bajakan. Angka ini kemungkinan terus bertambah, dan harus segera diambil tindakan “tanpa ampun” apabila pemerintah serius ingin mengembangkan industri kreatif.

Apabila dikaitkan dengan isu “industri musik Indonesia kiamat” yang salah satunya ditandai dengan penurunan angka penjualan album rekaman nasional, sebetulnya hanya menunjukkan adanya pergeseran dan perubahan saja. Pergeseran terjadi dari nasional menuju lokal. Munculnya indie label di berbagai daerah di Indonesia yang mempunyai pasar tidak hanya di dalam komunitas lokalnya melainkan sampai ke luar negeri. Indie label disini tidak hanya diartikan sebagai kelompok musik tertentu, melainkan segala kelompok musik, termasuk musik pop berbahasa daerah dan musik tradisional. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PPKB-UI di beberapa daerah di Indonesia yang sebelumya tidak mengenal industri rekaman, sejak sekitar lima tahun yang lalu mulai memperlihatkan hal yang berbeda. Teknologi yang semakin murah dan familiar telah menyebabkan minat masyarakat untuk membuat rekaman sendiri.

Kemunculan tv swasta lokal di berbagai daerah juga telah menyuburkan industri musik di daerah. Tv-tv swasta lokal di Bandung tentunya selalu memerlukan lagu-lagu berbahasa Sunda, penyanyi dan band-band lokal. Tv swasta lokal di Bali menampilkan artis lokalnya seperti Widi Widiane atau Lolot, demikian juga halnya J-TV di Jawa Timur Sony Joss menjadi bintangnya di sana. Munculnya lokalitas mungkin menjadi salah satu sebab mengapa angka penjualan album nasional menurun. Tetapi, di sisi lan telah menunjukkan adanya aktivitas industri rekaman di daerah yang angka penjualan sering tidak tercatat.

Sementara perubahan yang terjadi adalah dalam bentuk wujud musik, masa kaset dan cd hampir berlalu. Saat ini, wujud perdagangan musik yang berkembang di Indonesia adalah melalui internet dan Ring Back Tone (RBT). Dengan bergesernya konsumen kepada internet dan RBT telah memotong beberapa jalur distribusi industri, seperti distributor dan toko-toko kaset. Dan jelas menurunkan angka penjualan album rekaman dalam bentuk konvensional. Selain itu, saat ini produser rekaman harus berbagi keuntungan dengan provider telepon seluler. Akan tetapi, apakah angka penjualan secara keseluruhan dengan demikian dapat dikatakan menurun? Juga penghasilan artis apakah menurun?  Gejala penurunan angka penjualan album rekaman memang menurun secara global, tetapi angka penjualan digital secara global juga mulai menunjukkan trend yang meningkat. HP yang pernah dituduh sebagai salah satu penyebab turunnya penjualan album, karena generasi muda lebih banyak mengalokasikan dananya untuk pulsa daripada membeli lagu, ternyata telah menjadi penyelamat. Generasi muda adalah konsumen utama RBT. Selain itu,  RBT bebas dari pembajakan.

Dengan demikian pergeseran dan perubahan dalam industri musik inilah yang patut dicermati pelaku industri rekaman. Kiamat bagi musik industri musik Indonesia dapat terjadi apabila masyarakat Indonesia sudah tidak mau mendengarkan dan tidak mempunyai kreativitas dalam bermain musiknya. Hal itu dimungkinkan dengan serbuan musik asing, bukan hanya Barat, yang semakin gencar ke Indonesia.

Kegairahan anak-anak muda dalam skala nasional maupun daerah dalam bermusik harus disikapi sebagai peluang dalam industri musik. Penggalian dan pemasaran sumber daya budaya dalam industri musik harus dilakukan terus menerus. Bahkan harus dipikirkan secara serius untuk mengekspor musik Indonesia. Bukan hanya bertahan dari serbuan-serbuan musik asing. Keberhasilan mengekspor musik ke luar negeri akan membangkitkan kebanggaan. Umpan baliknya masyarakat kita akan semakin bangga terhadap musiknya.  Korea bisa, kenapa kita tidak bisa?

 

Lucky Muhammad Mulyadi, Peneliti Industri Budaya, dosen Sejarah Unpad.

 

Tulisan dimuat di Seputar Indonesia tanggal 10 November 2008


Responses

  1. Bro, kalo gue pikir2, Kreasi musik Indonesia sudah bermacam2. Tetapi, selera Indonesia tidak bermacam2. Kita bisa lihat bahwa pelaku industri musik Indonesia sudah kehabisan kreativitas, sehingga mereka berbondong- bondong mengikuti alias memplagiati musik LN. Dan, trandsetter selalu menciptakan teman2 barunya di industri musik Indonesia. Seperti saat ini, boy band dan girl band menjadi topik hangat di kalangan penikmat musik Indonesia

  2. nggak juga…..pada dasarnya jenis musik yang populer di dunia jg yg lahir dari budaya musik di barat. Mau gk mau,,,,musisi lokal harus beracuan ma barat klo mau ningkatin kualitas. Namun kreatifitas dalam mengarang lagu itu adalah wujud kemampuan utama musisi indo dalam berkompetisi dg musisi asing. dan jujur aja,,,musisi lokal yng gabungin musik tradisional dg elemen penulisan lagu serta alat musik barat dpt dibilang…punya kemampuan ganda lbih baik dari musisi barat sndiri…krena ada dua karakter budaya yg bercampur di dalam lagu-lagunya. Dwiki, dan teman2 dari lintas etnika,,,to bambang (dosen USU, gw bilang ni orang paduin tekniknya si raja gitar joe satriani dg lagu etnik sumtera) adalah contoh musisi lokal yg sperti gw bilang di atas


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: