Posted by: luckymulyadisejarah | July 11, 2008

Jawa; Sejarah Budaya; Denys Lombard

 

 

Judul Asli

Le Carrefour Javanais Essai d H’Histoire Globale

Judul Buku (terjemahan)

Nusa Jawa Silang Budaya

Penulis

Denys Lombard

Penerbit

PT Gramedia

Tahun Terbit

1996

 

 

Mengkaji Sejarah Cara Denys

 

Oleh : R Muhammad Mulyadi

 

Karya Denys Lombard ini terdiri dari tiga jilid dengan anak judul yang berbeda pada setiap jilidnya. Jilid pertama dengan anak judul Batas-batas Pembaratan, yang mengamati dampak dan perkembangan hubungan Jawa dengan Eropa, dengan memaksimalkan sumber-sumber Belanda dan Indonesia. Jilid kedua beranak judul  Jaringan  Asia mengamati lingkungan masyarakat urban yang muncul pada abad ke 15. Masyarakat  pedagang itu menjadi saingan bangsa berat bangsa pendatang (terutama Eropa) yang seringkali tidak menyadari kekuatannya. Sumber kajian dalam bab ini antara lain kesustraaan Melayu untuk peranan agama Islam sebagai pembentuk masyarakat baru, dan pendekatan sejarah dan etnografis untuk menilai peranan kaum Cina peranakan. Jilid terakhir beranak judul Warisan-warisan Kerajaan Konsentris, mengkaji peranan negara-negara  yang  pernah berkembang di Jawa Tengah, di Jawa Timur (Majapahit) dan kembali ke Jawa Tengah lagi (Mataram).

Indonesia dan Pulau Jawa khususnya, selama dua ribu tahun sejarahnya telah menjadi sebuah persilangan budaya, peradaban-peradaban yang penting di dunia  (Islam, India, Cina, dan Eropa) bertemu di situ, diterima, diolah, dikembangkan, dan diperbarui. Untuk kalangan ilmuwan, Pulau Jawa merupakan suatu contoh yang luar biasa untuk penelitian konsep-konsep tradisi, pengaruh budaya, kesukuan, dan  akulturasi. Tidak mengherankan Jawa melahirkan karya-karya besar seperti History of Java yang ditulis oleh Thomas Stamford Raffles, Pigeaud menulis Java in the  14th Century, a Study in Cultural History, kemudian Religion of Java karya Clifford Geerzt yang menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa antropologi dan sejarah di Cornell University.

Denys Lombard adalah pengajar Asia Tenggara di Paris, sejarah kebudayaan Indonesia bukan barang baru baginya. Bidang kajian ini telah digelutinya hamper selama tigapuluh tahun. Karya beliau terdiri dari sejumlah buku dan artikel dalam berbagai bidang antara lain, Aceh, Sejarah Jawa, Masyarakat Cina Peranakan, serta Bahasa dan Sastra Indonesia.

Dalam ketiga jilid karyanya ini Lombard cenderung mengabaikan peristiwa-peristiwa yang dianggap penting dan klasik bagi sejarah Jawa dan republic. Seperti politik colonial, pergerakan nasional, atau perang melawan penguasa colonial. Pengabaian tersebut dimungkinkan oleh pendekatan sejarah structural. Suatu pendekatan sejarah yang menyatakan bahwa struktur-struktur social yang ada adalah suatu proses perjalanan panjang yang telah berurat berakar. Dengan demikian, walaupun mengalami goncangan-goncangan yang terlihat mengganti struktur yang sudah ada. Namun pada kenyataannya struktur lama masih tetap ada. Misalnya masuknya agama Islamke Jawa tidak menghapuskan struktur yang sebelumnya sudah ada secara total. Masih ada yang Islam sekaligus kejawen. Hal itu menandakan bahwa struktur lama itu tidak hilang begitu saja.

Dalam epilog karyanya Denys Lombard menegaskan bahwa prosedur  yang ditempuhnya bersifat klasifikatoris yang berupaya menonjolkan hal-hal yang tetap (tidak berubah) dalam jangka waktu yang panjang dan menampilkan kontras unsur-unsur pokok masyarakat  Jawa modern. Sebagai contoh dia menunjukkan masih adanya sisa-sisa masyarakat dari fase pra Negara di luar Jawa bahkan di Pulau Jawa sendiri (masyarakat Baduy) dan bias diduga bahwa asal masyarakat tersebut lebih kuno daripada kerajaan-kerajaan konsentris, betapa langgeng unsure-unsur arkais tertentu seperti perlambang macapat, penempatan warna-warna dasar, sistem penanggalan, atau ciri-ciri magis pewayangan dan kaitan antara pengorbanan kerbau dengan pemujaan arwah-arwah mati.

Pendekatan structural yang digunakan harus dipahami dengan melihat latar belakang Denys Lombard sebagai sejarawan Perancis, yang didominasi oleh konvensi historiografi mahzab Annales yang dibentuk oleh Marc Bloch pada tahun 1929. pendekatan ini menginginkan suatu penulisan sejarah secara komprehensif dan multidimensional dalam jangka waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu, karya-karya dari mazhab Annales ini biasanya merupakan karya raksasa. Karya Lombard ini saja misalnya, jilid pertama terdiri 309 halaman, jilid kedua terdiri dari 498 halaman, dan jilid tiga 346 halaman, dengan 2.500 catatan kaki, daftar pustaka sebanyak 60 halaman, dan 45 halaman daftar kata, tentunya bukan data kuantitatif itu saja yang menjadikan karya ini digolongkan menjadi karya raksasa, tetapi keluasan isi serta pembahasan yang mendalam harus menjadi pertimbangan utama.

 

 

R. Muhammad Mulyadi. Dosen di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

 

Tulisan ini dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat tanggal 2 Februari 1997.


Responses

  1. bisa kah saya anda bantu.
    mengapa di web ini tidak ada peta perjalanan thomas stamford rafless.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: