Posted by: luckymulyadisejarah | June 30, 2008

Sultan Makmoen Al-Rasyid: Sumatra Timur

Peranan Sultan Makmoen Al-Rasyid

dalam Pembangunan Daerah Sumatra Timur

1873 – 1924

 

Oleh : Tengku Azwansyah A Teruna

 

Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah

Universitas Padjadjaran Angkatan 1999

 Saat ini menjadi Staf Pengajar UNINDRA (Jakarta)

Sejarah daerah Pesisir Pantai Timur Sumatra sebagai sejarah lokal menyimpan sebagian ingatan kolektif dari suatu komponen dari Bangsa Indonesia. Kedudukannya sebagai sejarah makro akan turut membantu dalam memberikan bahan pelengkap bagi sejarah nasional. Selain itu, sejarah lokal juga bisa memberi bahan bagi pengetahuan yang lebih umum, lebih dari itu juga diharapkan akan dapat menyumbang bagi keperluan khusus lainnya.
Sejarah mengenai orang-orang Melayu dan peranannya di Sumatra Timur, khususnya Kota Medan cukup unik dan menarik untuk dibahas. Ironis, karena masyarakat sekarang cenderung mengidentikkan Kota Medan dengan Suku Batak. Sebenarnya, pendapat tersebut tidaklah sepenuhnya benar. Peranan orang-orang Melayu dalam pembangunan daerah ini cukup besar.
Kesultanan Deli merupakan salah satu kesultanan besar yang cukup berpengaruh di daerah Pesisir Pantai Timur Sumatra. Kesultanan Deli pernah diperintah oleh Sultan Makmoen Al-Rasyid yang merupakan Sultan ke-9. Pada masa pemerintahannya kemakmuran Negeri Deli (pada masa itu) mencapai Puncaknya. Hasil kontrak perkebunan dan hasil bumi lainnya mengalir menghasilkan dana yang tidak sedikit, sehingga pada masa itu tanah Deli pernah dijuluki Negeri Dollar. Kemakmuran dan perkembangan yang begitu pesat menyebabkan pemerintahan dipindahkan dari Labuhan Deli ke Padang Datar (sekarang Medan).
Sultan Makmoen Al-Rasyid mempunyai peranan yang sangat besar sekali dalam pembangunan Kota Medan pada saat itu. Penanganan daerah pelabuhan pada masa itu merupakan salah satu permasalahan yang menarik, daerah ini menjadi bagian dari Daerah Kerajaan Deli, namun ekploitasi pelabuhan diserahkan kepada pemerintahan kolonial. Begitu juga dengan masalah tanah dan lahan perkebunan, hak milik tanah (domein) tetap dimiliki oleh Kesultanan Deli. Sedangkan untuk hak pakai diserahkan kepada pemerintahan kolonial, sehubungan dengan pasal 12 jo pasal 15d dari kontrak politik. Peranan dari Sultan Makmoen Al-Rasyid ini cukup menarik untuk dibahas.
Akibat keanekaragaman dan tingkat interpretasi yang berbeda, terbatasnya sumber sejarah Deli, data-data dan arsip berbahasa asing, serta tingkat penggunaan bahasa yang terbatas, sehingga muncul beberapa versi cerita sejarah Deli, dan akhirnya tidak dapat tercapai keragaman pendapat, dan semakin mempersulit pemahaman mengenai karya penulisan ini. Keanekaragaman pendapat ini membawa konsekuensi ke arah ketidaksinambung-an, segmentasi atau pengkotak-kotakan dalam memahami sejarah Deli pada masa itu. Keadaan ini menuntut pengkajian yang lebih mendalam dan melingkupi segenap aspek dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu, terutama kalangan sejarawan yang memiliki perhatian dan minat untuk mengungkapkan eksistensi sejarah pemerintahan Kesultanan Deli, khususnya mengenai peranan Sultan Makmoen Al-Rasyid dalam pembangunan Kota Medan.
Selama ini memang telah banyak karya tulis tentang Sejarah Deli, tetapi yang sangat disayangkan orang yang menulis karya tentang sejarah Deli apabila dilihat dari latar belakang mereka sedikit yang memiliki basic yang kuat tentang ilmu sejarah. Mereka membuat karya tersebut hanya karena tertarik pada materi saja, dan umumnya karya-karya tersebut hanya bersifat naratif tanpa menggunakan analisis yang merupakan ciri dari karya penulisan sejarah. Mereka dalam meneliti, menyusun, dan menulis mengenai sejarah Deli lebih banyak yang membahas mengenai berdirinya kesultanan Deli, perkebunan tembakau Deli yang terkenal, revolusi Sumatra Timur, atau sistem pemerintahan Kesultanan Deli setelah Kemerdekaan Republik Indonesia.
Setiap sejarawan dalam mempelajari sejarah harus menghayati kembali peristiwa-peristiwa masa lampau tersebut dengan mengadakan rethinking and reliving of past events (merenungkan kembali dan mengalami kembali peristiwa-peristiwa dari masa lampau), kemudian re-enacment (mementaskan kembali masa silam dalam batin sejarawan). Masalahnya sekarang bagaimana berusaha untuk menempatkan kerangka sejarah pemerintahan daerah Deli pada periode tersebut sesuai dengan setting histories (panggung sejarah) yang sebenarnya berdasarkan fakta-fakta yang ada, dan bagaimana untuk menuliskannya sebagaimana yang terjadi, wie es eigentlich gewessen ist (Kartodirdjo,1982: 42, 88, 225).
Kesultanan Deli adalah salah satu Kesultanan Islam di Sumatra yang merupakan cikal-bakal Kota Medan yang saat ini menjadi pusat pemerintahan Sumatra Utara. Sultan Makmoen Al-Rasyid pada masa pemerintahannya mempunyai peran yang penting dalam membangun Kota Medan dan sekitarnya. Oleh karena itu penulis merasa tertarik untuk mengkaji mengenai masalah ini, maka dalam penelitian ini penulis mengambil judul “Peranan Sultan Makmoen Al-Rasyid dalam Pembangunan Daerah Sumatra Timur 1873 – 1924”.
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka masalah yang akan dibahas dalam buku ini adalah bagaimana perkembangan sistem pemerintahan yang dijalankan Sultan Makmoen Al-Rasyid setelah mewarisi kepemerintahan yang dijalankan pada masa sultan-sultan sebelumnya. Untuk memperjelas perumusan masalah tersebut penulis menguraikan permasalahan tersebut dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:

1. Bagaimana perubahan fokus pemerintahan yang dilakukan oleh Sultan Makmoen Al-Rasyid?
2. Kebijakan-kebijakan apa saja yang dikeluarkan Sultan Makmoen Al-Rasyid dalam menjalankan pemerintahannya?
3. Sejauh mana peranan Sultan Makmoen Al-Rasyid dalam pembangunan Daerah Sumatra Timur?

Untuk memperjelas masalah tersebut maka tulisan ini dibatasi ruang lingkupnya, peranan Sultan Makmoen Al-Rasyid dalam pembangunan pemerintahan daerah Sumatra Timur 1873 – 1924. Pengambilan batasan waktu tahun 1873 disebabkan karena pada tahun tersebut adalah tahun awal pemerintahan Sultan Makmoen Al-Rasyid ketika beliau ditabalkan menjadi Raja Deli ke-9, sedangkan pengambilan batas tahun akhir 1924 adalah karena pada tahun itu adalah tahun akhir kepemimpinannya yaitu wafatnya Sultan Makmoen Al-Rasyid, yang kemudian digantikan oleh putranya Sultan Amaludin Sani Perkasa Alamsyah.
Tujuan dari penulisan ini yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui perkembangan pemerintahan Kesultanan Deli pada masa pemerintahan Sultan Makmoen Al-Rasyid, kebijakan yang dikeluarkan oleh Sultan Makmoen Al-Rasyid terhadap pemerintahan kolonial dan terhadap masyarakatnya, serta peranan Sultan Makmoen Al-Rasyid dalam pembangunan fisik Kota Medan.
Dengan penuliisan ini diharapkan agar kita dapat melihat perkembangan dari suatu kesultanan yang pada masa pemerintahannya Kesultanan Deli mencapai puncak kemakmuran dan kejayaannya. Selain itu diharapkan menambah perbendaharaan Historiografi Indonesia umumnya, penulisan sejarah lokal, sejarah politik, sejarah pemerintahan dan juga studi tokoh khususnya.
Hal terakhir dan tak terlepas pula aspek-aspek sejarah yang krusial dan menentukan dalam penulisan ini, yakni aspek spasial, aspek temporal, dan aspek fungsional. Aspek-aspek tersebut merupakan unsur terpenting dan memberikan warna dalam penulisan ini.


Responses

  1. Assamuikum Wr Wb
    Kepada Seluruh masyarakat Sumatra Timur
    Ijin saya Untuk Melanjutkan Pembangunan
    Kawasan Sumatra Timur City Darussalam

    Sultan Yusuf Iskandar Muda
    Calon Gubenur Sumatra Timur

    • ayo pak maju terus


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: