Posted by: luckymulyadisejarah | June 19, 2008

Sejarah; Gereja; Bandung; Bala Keselamatan

PELAYANAN SOSIAL

GEREJA BALA KESELAMATAN

DI TENGAH MASYARAKAT HINDIA BELANDA (1894-1942)

 

Oleh : Gibson Tambunan

 

Mahasiswa Program Studi Ilmu Sejarah

Universitas Padjadjaran (1998)

 

 

Latar Belakang Masalah

       Bala Keselamatan ialah sebuah lembaga gereja yang berawal dari sebuah organisasi misi Kristen di Kawasan London Timur. Organisasi ini pertama kali muncul pada tahun 1865, di tengah masyarakat Inggris yang sedang mengalami krisis kemasyarakatan sebagai dampak dari Revolusi Industri. Oleh karena itu, pada awal kemunculannya organisasi ini tidak hanya berperan menyiarkan Injil dikalangan masyarakat London Timur yang miskin, melainkan membantu mencarikan jalan keluar untuk menolong mereka menghadapi setiap permasalahan hidup. Pengaruh dari situasi dan kondisi tersebut menyebabkan organisasi misi penyiaran Injil ini memiliki karakteristik unik dan bersifat khas Gereja Bala Keselamatan, yaitu pelayanan sosial terhadap masyarakat tanpa membedakan latar belakang mereka.

       Kenyataan dari kuatnya perhatian Gereja Bala Keselamatan terhadap situasi dan kondisi masyarakat luas, terlihat dari berbagai konsep pelayanan sosial  yang  dikemukakan  oleh  pendiri  Bala Keselamatan,  William   Booth, dalam buku yang dikarangnya “The Darkest England And The Way Out.” Ia menyatakan bahwa perhatian terhadap kerohanian masyarakat yang sedang dilanda krisis multidimensional harus disertai dengan perhatian terhadap berbagai kebutuhan jasmani mereka (Encyclopaedia Britanica, t.t., volume 19: 912). Oleh karena itu, jika penyiaran Injil tanpa disertai usaha mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat yang kekurangan, usaha penyiaran itu akan menjadi timpang (pincang), atau hanya sebatas teori belaka (Aritonang, 2003: 264-267).

       Beberapa konsep pelayanan sosial yang ia coba terapkan ialah: Pembentukan lembaga bantuan hukum bagi kaum miskin, pembentukan tim rehabilitasi bagi para pecandu alkohol, pendirian rumah singgah bagi narapidana yang baru bebas dari penjara, pendirian tempat rehabilitasi para wanita tuna susila (selanjutnya disingkat WTS), tempat penampungan bagi ibu-ibu terlantar (wanita yang hamil di luar nikah), tempat penampungan (panti asuhan)  bagi anak-anak jalanan, pendirian panti jompo, pembentukan sistem penanggulangan masalah pengangguran, dan pembentukan koloni (pemukiman) penduduk miskin (Booth, 1890: 90-285).

       Sebelum buku tersebut terbit tahun 1890, baru beberapa program penanggulangan masalah sosial yang telah terealisasi, diantaranya ialah: tempat rehabilitasi bagi para pecandu alkohol, tempat rehabilitasi bagi para WTS, tempat penampungan ibu-ibu terlantar (wanita yang hamil diluar nikah), tim penolong narapidana yang baru bebas dari penjara, pembuatan rumah singgah, dan penjualan makanan dengan harga yang sangat murah supaya bisa dibeli oleh masyarakat yang tidak mampu (Encyclopaedia Britanica, t.t., volume 3: 890).

        Di Indonesia pada masa Hindia Belanda, pelayanan sosial Bala Keselamatan mulai dilakukan pada tahun 1901, ketika pemerintah mempercayakan penanganan korban bencana gunung meletus dan banjir di daerah Jawa Tengah. Beberapa tahun kemudian, berbagai jenis pelayanan sosial lainnya mulai dibentuk, seperti didirikannya tempat perawatan para penderita kusta, rumah sakit, poliklinik, panti asuhan, sekolah rakyat, dan berbagai  pelayanan sosial lainnya dalam waktu yang berbeda.  Hal ini terlihat dari pernyataan Bala Keselamatan Hindia Belanda dalam Majalah Kabar Selamat edisi Oktober 1904:

 

“Mengabarken Indjil Keslametan, piaraken anak piatoe dan miskin, toeloeng djoega dan mengobatti orang sakit, tjari pekerjaan voor orang jang tiada ada pentjarian, kasi pengadjaran sama anak2, bikin baik orang jahat, melepasken orang ketagian tjandoe atawa minoeman dari ranteinya iblis, menilik roemah sakit dan orang tertoetoep dalem pendjara dan boei, menilik dan menghiboerkan orang kesoesahan, pegang Militair Tehuis boeat orang soldadoe, d.l.l” (Kabar Selamat edisi Oktober 1904).

 

       Periode 1894-1942 dijadikan batasan temporal penelitian karena tahun 1894 merupakan awal perintisan dan tahun 1942 kegiatan Bala Keselamatan harus terhenti seiring dengan beralihnya pemerintahan secara mendadak dari Hindia Belanda kepada Jepang.

     

 

Perumusan Masalah

 

       Berdasarkan Latar Belakang  yang telah diuraikan, maka perumusan masalah dalam skripsi ini adalah mengapa pelayanan sosial Gereja Bala Keselamatan dapat berkembang di wilayah Hindia Belanda. Perumusan masalah tersebut selanjutnya dijabarkan dalam pertanyaan-pertanyaan berikut:

1.  Apa yang melatarbelakangi munculnya pelayanan sosial Bala Keselamatan di    Hindia Belanda?

2.  Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan berkembangnya pelayanan sosial Bala Keselamatan ?

3.   Sejauh mana dampak pelayanan sosial tersebut terhadap kehidupan masyarakat dan    pertumbuhan Gereja Bala Keselamatan ?

 

Kerangka Pemikiran Teoretis

              Untuk menganalisis pekerjaan sosial Bala Keselamatan di tengah masyarakat Hindia Belanda digunakan teori fungsional struktural yang dikemukakan oleh Neil Smelser. Perubahan sosial ditentukan oleh identifikasi variable-variabel independent yang terdiri dari empat tahapan yaitu, kondisi struktural, dorongan terhadap perubahan,  mobilisasi perubahan, dan kontrol sosial (Smelser dalam Laver, 1993: 118-119).

       Kondisi struktural menyangkut implikasi perubahan yang melekat pada struktur sosial. Hal ini diindikasikan oleh semakin banyaknya sarana dan prasarana yang dapat menampung berbagai keluhan masyarakat, termasuk lembaga-lembaga sosial (Smelser dalam Laver, 1993: 119). Kondisi masyarakat Hindia Belanda pada saat Bala Keselamatan melakukan usahanya, diwarnai dengan munculnya berbagai pelayanan sosial, termasuk salah satunya pelayanan sosial yang dimiliki oleh Bala Keselamatan.

       Kondisi struktural ini dianggap masih belum memadai untuk suatu perubahan. Oleh karena itu, diperlukan faktor (kekuatan) lain untuk mendorong terjadinya suatu perubahan. Kekuatan tersebut bisa berupa kekuatan dari dalam (faktor internal), seperti kekuatan demografis, ataupun kekuatan dari luar (faktor internal), seperti ancaman ekonomi, militer, bencana alam, dan yang lainnya (Smelser dalam Laver, 1993: 119-120). Faktor internal yang mendorong perubahan masyarakat Hindia Belanda adalah pertambahan jumlah penduduk, dan  proses modernisasi yang sangat cepat. Faktor eksternalnya ialah munculnya berbagai bencana alam, mewabahnya sakit penyakit menular, merajalelanya kelaparan dan kemiskinan akibat perekonomian yang fluktuatif serta kebijakan pemerintah yang memberatkan masyarakat.

       Struktur dan dorongan terhadap perubahan belum menentukan kearah mana perubahan tersebut akan terjadi. Oleh karena itu, diperlukan sumber-sumber mobilisasi untuk mempengaruhi jalannya perubahan. Sumber mobilisasi perubahan tersebut sangat terkait  dengan kepemimpinan yang terlibat didalamnya (Smelser dalam Laver, 1993: 120). Gereja Bala Keselamatan yang memiliki sarana pelayanan sosial  memiliki fungsi ini. Mereka berupaya mengarahkan berbagai perubahan di tengah masyarakat ke arah cita-cita Gereja Bala Keselamatan seperti yang dicetuskan oleh pendirinya, William Booth:

 

“My only hope for the permanent deliverance of all mankind from misery, either in the world or the next is regeneration of remaking of the individualy the power of The Holy Ghost through Jesus Christ. But in providing for the temporal misery recon that I am only making it easy where it is now difficult, and possible where it is now all but impossible, for men and women to find their way to the cross of  our  Lord  Jesus  Chris” (Booth., 1890: 4).

    

       Setelah perubahan termobilisasi menuju arah tertentu, peran kontrol sosial diperlukan sebagai penyeimbang perubahan. Hal ini  bisa berwujud kekuatan-kekuatan yang mapan, seperti pejabat pemerintah, media masa, atau pemimpin-pemimpin agama (Smelser dalam Laver, 1993: 120). Dalam pelayanan sosial yang dilakukan oleh Bala Keselamatan  ini, peran kontrol sosial dilakukan oleh pemerintah, yang memberikan nasehat serta perijinan atas setiap usaha yang mereka lakukan.



 


Responses

  1. masukan dari saya :
    tolong agar korps2 yg ada dipelosok2
    juga diperhatikan.bnyk korps yang belum direnofasi.

  2. Btw, q bru gabung lho ma Salvation Army🙂

    lam kenal n JLU

  3. Aku berkata kepadamu,
    -Hanya ada satu pembaptisan yang sah, yaitu yang dibaptis dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus
    -Satu lambang kemenangan, Salib Suci Tuhan Yesus
    -Dan hanya satu gereja yang didirikan oleh Yesus sendiri, yaitu Gereja Katholik,

    • Satu yang Lw Lupa….

      Dmna iman Lw..

      N rasa saling mmbangub trhadap orang yg prcaya….???

    • Dalam Nama Bapa,Putera Dan Roh Kudus Itu Adh Tritunggal Allah
      Tritunggal Allah Pasti ada Baik Gereja Apapun itu Yg Yg mengakui Yesus Kristus Adh Tuhan
      Sudah Ditetapkan Bahwa Kerajaannya Akan Berkembang, Jgn Menyangkal Yg Sudah Di tetapkan

    • di dalam Alkitab tdk ada yg tertulis Tuhan mndirikan hnya satu gereja..
      klaw kmu dpt dlam alkitab hnya gerejamu sjalah yg didirikan Tuhan, ksih tahu ayat berapa…. klaw kmu dpat krim lewat e-mail sya..

    • kimen memang gaweane proteessss

  4. Payah loe…..eksklusive banget. Periksa iman loe dulu…, brhenti saling menghakimi. Mw bw damai apa mw bkn kisruh loe…paimin…..

  5. Hallo, saya sedang mengumpulkan informasi ttg bala kesehatan william booth surabaya, apakah anda punya informasi ttg bala kesehatan ini, jika ada mungkin berkenan sharing? Saya butuh informasi tentang sejarah berdirinya terutama…
    terima kasih sebelumnya…

  6. Balla keslamatan emang top kalo urusan sosial.
    Berita Gereja di Indonesia

  7. mohon maaf mohon minta bimbingan nya untuk menganut keyakinanku ini tuk menjadi kristiani karna aku masih status sebagai muslim dan bantulah aku untuk mamperbaiki hidupku ini yang sudah ta punya siapa siapa didunia ini aku mohon perlindungan nya dan bimbingan nya amin.

    • Kamu Masih Mempunyai bapa Yg Tak Pernah Meninggalkanmu & Yg Akan Selalu Menopangmu
      Ikutlah Kristus

  8. still do the best! for you ” SALVATION ARMY ”
    And do your mission!!!
    Jesus love you

  9. Masukan Ke kantor pusat,
    korps yang ada di solo cukup potensial berkembang, mohon kantor pusat kalau punya kebijakan dimusyawarahkan ke OS (opsir setempat) biar jemaat melihat keatas tidak bersifat diktaktor, karena sekarang ini jamannya reformasi.
    (contoh pengunaan pos mojosongo) Trim, Tuhan memberkati, amin

  10. aq mau gabung

  11. I LOVE SALVATION ARMY….
    salut : HALELUYA

  12. saya alumni panti asuhan bala keselamatan bandung,(pap)
    saya ingin supaya panti asuhan bala keselamatan selalu di kenang di badan masyarakatan yang beradap

  13. saya rindu sekali dengan angota bala keselamatan,.

  14. maju terus bala keselamatan .
    Jesus Bless Us .

  15. salut! haleluya!…salam kepada seluruh prajurit dan simpatisan BK di seluruh Indonesia..mari bersatu membangun Bala di Indonesia.. Dengan semangat hand to man harth to God salam dari PKP Korps Jakarta 2 GBU…

  16. Ini sebenernya gereja apa tentara sih?? Jadi bingung…gw ikut kebaktiannya ada jendral lah dsb..tolong info donk..kan klo di agama gw cuma 1 aja pastur..pemimpin gereja nya..klo disini ada jendral dsb..tapi dimna-mana semua agama baik mengajarkan persatuan dan tujuannya pun sama yaitu Yesus kristus..tetapi setau saya gereja kristen yang percaya tritunggal maha kudus hanya beberapa..contohnya GKI,GPIB,HKBP..itu aja sih.

  17. Sudah saatnya Bala Keselamatan merubah paradigma berpikir para jebolan Opsir yang bertugas di pedesaan d kawasan wilayah komunitas Rumpun Daa Sulawesi Tengah. Hal ini perlu karena sudah berpuluh-puluh tahun Bala Keselamatan Diwilayah ini perkembangan Iman dan Rohani belum belum nampak jelas,malah banyak warga yang dengan mudah pindah agama,ini disebabkan pengetahuan masyarakat tentang adanya Tuhan Mengambang dan penjelasan tentang cerita Firman mengambang,ketika godaan datang dengan mudah mengambil sikap terjun ke agama lain. Seharusnya KPT BK sudah harus merancang pendidikan apa yang dibutuhkan masyarakat ketika OP turun kepelayanan. barometer apa untuk mengukur keimanan terhdp jemaat?? Jangan d jdikan patokan Korps itu maju atau pertumbuhan itu maju ketika Kolekte atau perpuluhan masyarakat meningkat. sangat keliru dan sangat-sangat keliru. Logikanya dalam satu desa saya orang yang mempunyai pencaharian yang bagus dan berpenghasilan yang rata-rata di atas 1 juta/bulan jdi saya memberikan perpuluhan perbulan berarti 100rbu sedangkan masyarakat yang berpenghasilan rendah apakah kita bisa paksa mereka untuk meberikan 10% dari hasil penghasilan merka??ini konyol namanya…dan sudah saatnya BK untuk berpikir rasional bertumbuh diwilayah NKRI karena peradaban Masyarakat makin jelas berkembang jadi jangn berpikir masyarakat tdk menentang kebijakan yang ditelorkan tdk sesuai dengan kehidupan realita masyarakat dan jangan berpikir hanya untuk kepentingan Organisasi. dan saya bertekad suatu saat akan muncul gereja Kerapatan Daa yang mempunyai agitasi dan edukasi yang rasional untuk percaya terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Penulis Sekretaris Umum Forum Komunikasi Keluarga Besar Rumpun Da;a Sulawesi Tengah.. (Melvan Pandorante)

  18. shalom..

  19. paimen iku protes gaweane.. payahh

  20. saat in jgn kta sahkan atw kpt tentng bk..kpt khan udah menyrhkan setiap opsir yg d utus untk mlyani d pedesaan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: