Posted by: luckymulyadisejarah | June 15, 2008

Douwes Dekker

Ernest Francois Eugene Douwes Dekker

(Tokoh Pers dan Nasionalisme)

 

Oleh: Linda Sunarti

 

 “Sekarang tahukah tuan isi program politik kami?

 Dengan tiga perkataan ia dapat dijelaskan Hindia untuk kami

 Kami, orang yang tinggal menetap disini (blijvers),

 kami yang memindahkan kampung halamannya ke negeri  ini (kolonisten), kami orang bumiputera!

 Untuk kami, yang pertama kali mempunyai hak milik atas tanah-tanah kelahiran, Hindia buat orang Hindia!”

 

 

            Douwes Dekker adalah seorang indo yang dilahirkan di Pasuruan, Jawa Timur, pada 8 Oktober 1879. Dalam tubuhnya mengalir darah Belanda, Perancis, Jerman, dan Jawa.  Setelah menyelesaikan sekolah dii Hoogere Burger Scholl  pada 1897 dia bekerja sebagai pengawas di perkebunan kopi Sumber Duren di daerah Malang. Douwes Dekker akrab dengan para buruh perkebunan. Di tempat inilah dia mula-mula menyaksikan tindakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh para majikan Belanda terhadap bawahannya yang mayoritas bumiputra. Di perkebunan itu pula dia mulai menyaksikan sikap kasar dan angkuh para pembesar perkebunan. Oleh karena merasa tidak sejalan dengan isi hatinya, maka Douwes Dekker mengundurkan diri dari pekerjaannya tersebut.

            Douwes Dekker kemudian pindah kerja  ke Pabrik Gula Pajarakan di Pasuruan  sebagai ahli kimia. Di tempat ini, awalnya ia mendapatkan kecocokan dan kesenangan kerja. Akan tetapi ketika para pembesar di perkebunan tebu itu melakukan kecurangan pada pembagian air irigasi antara kebun-kebun tebu dan sawah penduduk pribumi yang mengakibatkan sawah  penduduk pribumi sering mengalami kekeringan, ia  akhirnya meninggalkan pekerjaannya pula.

            Akhirnya Douwes Dekker mengambil keputusan untuk merantau ke seluruh dunia dengan maksud mengadu nasib, berdagang.  Pada tahun 1900 bersama kakaknya, ia meninggalkan Hindia Belanda. Mereka kemudian singgah di Transvaal, Afrika Selatan. Pada saat itu di Transvaal sedang terjadi peperangan yang dikenal dengan Boeren Oorlog (perang petani) yaitu suatu peperangan yang dilakukan oleh petani Transvaal melawan penjajahan Inggris.  Douwes Dekker bersama kakaknya kemudian bergabung menjadi tentara sukarelawan petani. Pada 1902 Douwes Dekker tertangkap oleh tentara Inggris dan di penjara di berbagai tempat di Afrika Selatan dan Srilanka. Oleh karena kesehatannya yang buruk, Douwes Dekker kemudian dikirim kembali ke Hindia Belanda.

            Setibanya di Hindia Belanda, Douwes Dekker  mempunyai keyakinan bahwa kemerdekaan suatu bangsa hanya dapat dicapai dengan kekuatan dan kesadaran rakyat sendiri. Douwes Dekker kemudian terjun ke dalam kancah perjuangan kemerdekaan bersama-sama rakyat Indonesia. Langkah pertama dari perjuangannya ditempuh dengan melakukan propaganda politik melalui media jurnalistik. Douwes Dekker kemudian bekerja sebagai penulis lepas di beberapa surat kabar.  Kemudian dia bekerja sebagai redaktur pada surat kabar De Lokomotief dari Semarang, kemudian pindah sebagai redaktur di Surabaya’s Handelsblaad. Di surat kabar ini Douwes Dekker  merasakan hanya sebagai  alat kolonial yang dapat dibeli. Oleh karena tidak merasa cocok dengan pendiriannya Douwes Dekker mengundurkan diri dari Surabaya’s Handelsblaad.

            Douwes Dekker kemudian menjadi editor pada Bataviaasch Nieuwsblad, di surat kabar ini dia merasa cocok sehingga dapat bekerja dengan baik. Karena prestasi kerjanya yang baik, maka Douwes Dekker kemudian diangkat menjadi pemimpin redaksi. Sebagai pemimpin redaksi Douwes Dekker kemudian mengangkat Suryopranoto, Cipto Mangunkusumo, Gunawan Mangunkusumo dan beberapa  pelajar lainnya sebagai pembantu redaksi. Pada saat itu Douwes Dekker memang telah banyak bergaul dengan para pelajar STOVIA, sekolah dokter untuk bumiputera. Karena akrabnya, maka rumahnya yang terletak di Jl. Kramat, Jakarta seolah-olah digunakan menjadi “perpustakaan” oleh para pelajar STOVIA. Tidak hanya itu, para pelajar STOVIA bahkan sering mengadakan diskusi dengan Douwes Dekker di tempat tersebut. Berkat bantuan pemuda-pemuda yang menjadi tokoh pergerakan nasional maka harian Bataviaasch Nieuwsblad menyediakan ruang untuk  propaganda pergerakan nasional.

            Dalam  Bataviaasch Nieuwsblad  Douwes Dekker banyak menulis artikel yang bersifat  membela kepentingan rakyat, dan juga mengecam  politik pemerintah kolonial. Sebagai contohnya dia tidak setuju kaum kapitalis yang menghendaki tetap adanya tanah partikelir di daerah Pamanukan dan Ciasem, maka dengan segala upaya dia menulis artikel tentang pengembalian tanah-tanah partikelir tersebut. Douwes Dekker menyatakan bahwa adanya tanah pertikelir tersebut telah menyebabkan  kesengsaraan di kalangan rakyat karena tuan tanah hanya menghitung  keuntungan saja tanpa memperhatikan kepentingan rakyat.

            Douwes Dekker melihat keganjilan-keganjilan dalam masyarakat kolonial, khususnya diskriminasi antara keturunan Belanda totok dengan kaum Indo. Tetapi lebih daripada hanya membatasi pandangan dan kepentingan golongan kecil masyarakat Indo saja, Douwes Dekker meluaskan pandangannya terhadap  masyarakat Indonesia umumnya, yang masih tetap hidup dalam situasi kolonial. Nasib para Indo tidak ditentukan oleh pemerintah kolonial tetapi terletak dalam bentuk kerjasama dengan penduduk Indonesia lainnya. Douwes Dekker tidak mengenal supremasi Indo atas penduduk pribumi. Sikap Dowes Dekker tersebut bersebrangan dengan  Zaalberg, atasannya di  Bataviaasch Nieuwsblad,  yang lebih menonjolkan kepentingan golongan indo.

            Perbedaan sikap tersebut mengakibatkan Douwes Dekker keluar dari Bataviaasch Nieuwsblad.  Selanjutnya  dia mendirikan majalah yang dikelola sendiri yang bernama Het Tijdscrijft.  Majalah tersebut terbit dua minggu sekali, bersifat ilmiah dan memuat soal-soal politik. Melalui majalah tersebut  Douwes Dekker dapat mengemukakan pandangan-pandangannya dengan bebas. Oleh karena  Het Tijdscrijft  dianggap sudah tidak memadai lagi untuk menyampaikan gagasan-gagasan politiknya, maka Douwes Dekker kemudian mendirikan surat kabar  De Expres pada tahun 1912.

            Kedua media yang didirikan oleh Douwes Dekker tersebut terbit dalam bahasa Belanda. Akan tetapi, isi artikel-artikelnya mencerminkan masa depan Hindia Belanda dan selalu menjiwai semangat perjuangan pada waktu itu. Kedua media cetak tersebut telah menjadi contoh dari beberapa surat kabar bumi putera yang anti kolonialisme.

            Douwes Dekker mempunyai suatu pandangan yang menarik  tentang dunia pes pada saat itu. Ia berpendapat bahwa kedudukan pers berbahasa Melayu lebih penting dari pada  pers berbahasa Belanda. Karena pers itu dapat langsung menarik pembaca pribumi. Lebih-lebih setelah berdirinya organisasi Budi Utomo, Sarekat Islam, dan Indische Partij, maka pers berbahasa Melayu mempunyai kedudukan yang sangat penting terutama sebagai alat perjuangan dan media untuk menyampaikan suara organisasi agar dapat tersebar luas di kalangan penduduk pribumi.

            Sehubungan dengan hal tersebut, Pemerintah Hindia Belanda kemudian berupaya untuk menghindarkan pengaruh pers bumi putera yang cenderung radikal terhadap rakyat banyak. Pemerintah Hindia Belanda kemudian membuat surat kabar berbahasa Melayu dan memberikan bantuan kepada suart kabar yang dinilai lunak dalam pemberitaannya, seperti misalnya:

 

“Sekarang tahukah tuan isi program politik kami?

Dengan tiga perkataan ia dapat dijelaskan

Hindia untuk kami

Kami, orang yang tinggal menetap disini (blijvers), kami yang memindahkan kampung halamannya ke negeri ini (kolonisten), kami orang bumiputera!

Untuk kami, yang pertama kali mempunyai hak milik atas tanah-tanah kelahiran, Hindia buat orang Hindia!”

 

            Paragrap tersebut merupakan program politik Douwes Dekker yang dicantumkan dalam majalah Het Tijdschrijft, yang terbit pada 15 Mei 1912. Pengertian  Hindia bukan hanya orang Indonesia (pribumi) melainkan juga  semua orang keturunan bumiputera, Belanda, Cina, Arab dan sebagainya yang  mengakui Hindia sebagai tanah air dan kebangsaannya. Dengan kata lain yang dimaksud dengan rakyat Hindia ialah orang-orang yang dilahirkan, bertempat tinggal dan akhirnya dikebumikan di tanah Hindia.

            Pandangan nasionalismenya sangat luas, Douwes Dekker menekankan persatuan dan kesatuan di antara segenap rakyat Hindia untuk mencapai kemerdekaan. Keyakinannya itu dikemukakan dalam pidatonya di dalam rapat Indische Bond (suatu perkumpulan bangsa Eropa yang bertujuan untuk memperhatikan nasib bangsa Indo) pada 12 Desember 1911 di Jakarta. Selanjutanya  Douwes Dekker mengatakan bahwa bangsa Indo sangat sedikit, sehingga tidak mungkin memperoleh kemenangan apabila hanya bertindak seorang diri. Salah satu syarat untuk mendapatkan kemenangan di dalam pertentangan dengan penjajah Belanda adalah dengan menggabungkan diri kepada bangsa Indonesia, dan berjuang bersama-sama mereka dengan membentuk suatu partai politik.

Untuk membentuk suatu partai, Douwes Dekker bersama-sama dengan Van der Poel dan Brunsveld Van Hulten dalam suatu rapat yang diadakan oleh Indische Bond pada 25 Agustus 1912 di Jakarta mengusulkan agar Indische Bond diubah dan diganti oleh suatu partai politik. Usul tersebut disetujui oleh peserta rapat, dan kemudian dibentuk suatu panitia untuk membentuk partai.  Pada 6 September  1912 Douwes Dekker mengadakan rapat di Bandung. Rapat tersebut mendapat sambutan dan kunjungan yang luar biasa, pada saat itulah suatu partai politik baru yang bernama Indische Partij muncul menggantikan Indische Bond. Dalam kesempatan tersebut Douwes Dekker menyatakan bahwa berdirinya Indische Partij merupakan “deklarasi perang” melawan tirani, atau pernyataan perang budak pembayar pajak kolonial terhadap Belanda yang disebutnya sebagai negara pemeras. Dalam kesempatan tersebut ia menunjukkan bagaimana seharusnya suatu rapat raksasa berlangsung.

Untuk mensosialiskan Indische Partij, Douwes Dekker bersama-sama dengan Van der Poel dan Brunsveld Van Hulten mengadakan perjalanan propaganda di pulau Jawa yang dimulai dari kota Bandung pada 15 September dan berakhir pada 3 Oktober 1912.  Di  dalam perjalanan propaganda itulah Douwes Dekker  bertemu dengan Cipto Mangunkusumo, sebelumnya ketika menjadi mahasiswa STOVIA Cipto sering mengadakan diskusi dengan Douwes Dekker mengenai permasalahan-permasalahan untuk mendirikan suatu partai  yang bercorak nasional. Di Yogyakarta dia mendapat sambutan dari pengurus Budi Utomo, redaktur-redaktur Surat Kabar di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat mendukung terhadap segala upaya yang dilakukan Douwes Dekker untuk mendirikan Indische Partij. Demikian juga perhimpuanan Tionghoa Hweekwan ikut mngirimkan  wakilnya dalam rapat-rapat yang diadakan oleh Indische Partij.

Hasil dari propaganda yang dijalankannya, Indische Partij mempunyai 30 cabang  diberbagai wilayah di Pulau Jawa, dengan jumlah anggota seluruhnya 7.300 orang. Dari jumlah tersebut 6.800 anggotanya adalah golongan Indo, sedangkan 1.500 orang  terdiri adalah golongan pribumi.

Komposisi keanggotaan tersebut tidak berarti berdampak kecil bagi kalangan pribumi. Gagasan Hindia Belanda untuk warga Hindia Belanda merupakan suatu pandangan baru bagi penduduk pribumi berpendidikan Barat.  Rapat raksasa yang digagas Douwes Dekker  sangat banyak memberi inspirasi bagi Cokroaminoto untuk mengadakan rapat-rapat sejenis bagi Sarekat Islam.

Perkembangan Indische Partij selanjutnya telah menarik ribuan orang termasuk para priyayi. Para priyayi tersebut mempunyai alasan sendiri untuk mendukung Indische Partij, mereka menolak dikuranginya hak pribumi untuk masuk Europa Lager School.  Mereka keberatan  terhadap hak-hak istimewa bupati dengan tatacara kenaikan pangkat dan masalah penghormatan di kalangan pangreh praja.

Pengaruh terpenting Indische Partij adalah  memasukkan unsur politik dalam pandangan berbagai kelompok sosial yang hidup di kota-kota besar. Pertentangan antara penjajah dan yang dijajah sejak itu semakin mempengaruhi kehidupan kaum intelektual di kota-kota besar Indonesia. Bagaimanapun Indische Partij merupakan fase dalam sejarah pergerakan nasional yang seratus persen politik.

Setelah dilakukan rapat para wakil-wakil Indische Partij dari berbagai cabang di Bandung pada 25 Desember 1912, maka tersusunlah anggaran dasar Indische Partij. Dari anggaran dasar tersebut dapat diketahui mengenai tujuan dasar dari Indische Partij, yaitu untuk membangunkan patriotisme semua “Indiers” terhadap tanah air, yang telah memberi lapangan hidup kepada mereka, agar  mereka mendapat dorongan untuk bekerjasama atas dasar persamaan ketatanegaraan untuk memajukan tanah air “Hindia” dan untuk mempersiapkan kehidupan rakyat yang merdeka. Cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah:

a.      Memelihara nasionalisme Hindia dengan meresapkan cita-citakesatuan kebangsaan semua “Indiers”, meluaskan penge-tahuan umum tentang sejarah budaya “Hindia”, mengasosiasikan  intelek secara bertingkat ke dalam suku dan inter-suku yang masih hidup berdampingan pada masa ini, menghidupkan kesadaran diri dan kepercayaan pada diri sendiri.

b.      Memberantas rasa kesombongan rasial dan keistimewaan ras baik dalam bidang ketatanegaraan maupun dalam bidang ke-masyarakatan.

c.      Memberantas usaha-usaha untuk membangkitkan kebencian agama dan sektarisme yang bisa mengakibatkan “Indiers” asing satu sama lain, sehingga dapat memupuk kerjasama atas dasar nasional.

d.      Memperkuat daya tahan rakyat Hindia dengan mengembangkan  individu ke arah aktivitas yang lebih besar secara teknis  dan memperkuat kekuatan batin dalam masalah  susila.

e.      Berusaha untuk mendapatkan persamaan hak  bagi semua orang Hindia.

f.        Memperkuat daya rakyat Hindia untuk dapat mempertahankan Tanah Air dari serangan asing.

g.      Mengadakan unifikasi, perluasan, pendalaman dan menghindiakan pengajaran, yang di dalam semua hal harus ditujukan kepada kepentingan ekonomis Hindia, dimana tidak diperkenankannya adanya perbedaan perlakuan karena ras, sex atau kasta dan harus diupayakan semaksimal mungkin.

 

            Douwes Dekker pada 25 Desember 1912 mengajukan permohonan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar Indische Partij mendapat pe-ngesahan sebagai partai politik. Permohonan tersebut ditolak oleh Pe-merintah Hindia Belanda dengan alasan bahwa perkumpulan ini berdasarkan politik dan mengancam hendak merusak keamanan dan ketertiban. Pada 5 Maret 1913 Indische Partij mengajukan  permintaan untuk kedua kalinya, tetapi usaha ini pun kembali mengalami kegagalan. Gubernur Jenderal Belanda menujukkan sikap yang jelas bahwa pemerintah tidak akan mengakui partai subvesif yang bertujuan menentang pemerintah kolonial untuk memerdekakan  Hindia Belanda untuk warga Hindia Belanda.

            Dalam situasi tidak menentu dengan dibubarkannya Indische Partij,  Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat mendapat kabar tentang maksud Pemerintah Hindia Belanda untuk mengadakan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda dari Perancis. Hal itu dianggap menghina kaum pribumi yang sedang mengalami penjajahan, oleh karena itu Suwardi Suryaningrat kemudian menulis artikel “Als Ik Nederlands Was (andai Saya Seorang Belanda)” di harian De Express. Artikel tersebut dengan tajam mengkritik perayaan tersebut dan menolaknya diadakan di Hindia Belanda.  Artikel tersebut kemudian didukung oleh artikel dari Cipto Mangunkusumo pada keesokan harinya di harian yang sama. Akibatnya kedua tokoh ini  ditahan oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan tuduhan menghasut rakyat pribumi untuk melawan pemerintah.

            Douwes Dekker yang baru pulang dari Belanda segera menulis artikel yang isinya memuji artikel Suwardi Suryaningrat dan Cipto Mangunkusumo di surat kabar De Expres. Bahkan menyatakannya sebagai pahlawan. Pada intinya tulisan Douwes Dekker merupakan pembelaan terhadap teman seperjuangannya yang ditangkap dan ditahan oleh pemerintah. Akibatnya empat hari kemudian Douwes Dekker ditahan dan pada bulan Agustus 1913 ia bersama Cipto dan Suwardi diasingkan ke negeri Belanda. Di Belanda selain tetap aktif melakukan kegiatan politik, Douwes Dekker, Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat yang dikenal sebagai tiga serangkai juga memperdalam ilmunya masing-masing. Douwes Dekker sendiri melanjutkan studinya di Zurich dalam bidang ilmu ekonomi dan politik. Hanya dalam waktu sepuluh bulan Douwes Dekker berhasil memperoleh gelar doctor dengan predikat cum laude.

            Setelah masa pengasingannya selesai, Douwes Dekker pada tahun 1918 kembali pulang ke Hindia Belanda dan bergabung dengan Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat  dalam National Indische Partij. Dalam organisasi tersebut  Douwes Dekker menerbitkan majalah Nieuw Expres. Oleh karena kegiatan-kegiatannya itu, Douwes Dekker sering dipanggil oleh polisi rahasia Belanda. Akhirnya, pada 1922 National Indische Partij dilarang oleh Pemerintah Hindia Belanda.

            Setelah National Indische Partij dilarang, Douwes Dekker kemudian menetap di Sukabumi, Jawa Barat, sebagai peternak ayam. Meskipun demikian dia tetap melakukan propaganda politiknya. Oleh karena kurang mendapat sambutan, Douwes Dekker kemudian mengambil jalan pendidikan sebagai alat perjuangannya. Douwes Dekker kemudian melamar untuk mengajar di Sekolah  Dasar swasta di jalan Kebon Kalapa No 17 Bandung. Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengijinkan Douwes Dekker mengajar dengan pertimbangan lebih baik mengajar daripada menghasut rakyat.

            Sejak September 1922 Douwes Dekker mengajar di sekolah tersebut, pada tahun 1923 sekolah tersebut berganti nama menjadi Preanger Instituut van de Vereeniging Volksonderwijs (Institut Priangan dari Perkumpulan Pengajaran Rakyat). Di lembaga baru itu Douwes Dekker menjabat sebagai direktur MULO (setingkat SMP), olehnya lembaga pendidikan ini kmudian diubah menjadi suatu yayasan yang bernama Schoolvereeninging Het Ksatrian Instituut, sering juga disebut dengan Ksatriaan School. Sekolah  tersebut mempunyai cabang di Ciwidey, Cianjur dan Sukabumi.

            Tujuan pendidikan di Ksatriaan School dirumuskan berdasakan jiwa  nasional dan pendidikan ke arah manusia yang merdeka.

 

“…..tujuan pengajaran selalu bertalian dengan kegembiraan hidup dan diarahkan untuk memperkuat dan menciptakan rasa harga diri, pengembangan insiatif dan ksadaran kemerdekaan, meninggikan peradaban sendiri, satu dan lain hal berdasarkan cinta kepada lingkungannya, tanah air dan bangsanya sendiri dan kemudian kepada kemanusiaan.

Dalam arti kecerdasan otak, maka pengajaran ditujukan untuk me-nambah pngetahuan tentang sumber-sumber bantu bagi perkem-bangan tanah-air sendiri dan tentang kemungkinan-kemungkinan membangun apa yang berguna dan terhormat di masa mendatang”.

 

Douwes Dekker selalu berupaya menanamkan cinta tanah air dalam hati murid-muridnya. Dia menghendaki agar para muridnya kelak menjadi manusia nasionalis yang berguna, mandiri dan dapat mencari lapangan hidup yang parktis. Oleh karena itu  Douwes Dekker kemudian mendirikan sekolah guru (Kweekschool) dan sekolah menengah dagang modern (Moderne Middelbare Handelsschool).

Ksatriaan Instituut berupaya memenuhi kebutuhan sekolahnya secara mandiri misalnya, untuk memenuhi bahan ajar Ksatriaan Instituut meren-canakan dan berusaha agar dapat menerbitkan sendiri buku pelajarannya. Usaha ini dapat berjalan dengan baik.

Kegiatan Douwes Dekker dalam bidang pendidikan pun tidak luput dari perhatian pemerintah Hindia Belanda. Pada Januari 1941 Douwes Dekker  ditangkap dan ditahan di Ngawi. Pemerintah Hindia Belanda menuduhnya sebagai mata-mata Jepang. Hal itu disebabkan oleh rencana Douwes Dekker untuk mengirim pelajar-pelajar tamatan Ksatriaan Instituut ke Jepang. Douwes Dekker kemudian dipindahkan ke Jakarta dan kemudian dipenja-rakan di Suriname. Setelah mengalami penahanan selama empat setengah tahun di penjara di Suriname Douwes Dekker kemudian diasingkan ke Belanda dan tidak diperkenankan untuk kembali ke Hindia Belanda.  Akan tetapi, dengan cara menjadi penumpang gelap di kapal laut Belanda dengan tujuan  Indonesia akhirnya Douwes Dekker dapat kembali ke Hindia Belanda pada tahun 1947, pada tahun tersebut  Douwes Dekker mengganti namanya menjadi Danudirja Setiabudhi. 

Dalam revolusi kemerdekaan pun Douwes Dekker tidak luput dari kejaran Belanda. Pada 1948 Douwes Dekker ditahan di penjara Wirogunan, Yogyakarta. Karena kesehatannya semakin buruk Douwes Dekker kemudian dipindahkan ke kamp pengungsian di Jakarta. Akhirnya dipindahkan ke Prapat, tidak lama setelah dibebaskan  Douwes Dekker meninggal  pada 28 Agustus 1950, tepat sehari setelah memperingati ulang tahunnya yang ke 70.  Douwes Dekker dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra Bandung secara Islam sesuai dengan pesan almarhum yang terakhir.

 

 

Linda Sunarti

Staf Pengajar Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya

Universitas Sejarah

Kandidat Doktor Ilmu Sejarah Universitas Indonesia

lindsayrani@yahoo.co.uk ,

 

 

Daftar Pustaka

 

Notosutanto Nugroho,.et al. 1977. Sejarah Nasional  Indonesia. Jilid V. Jakarta: balai Pustaka.

Pranata. 1959. Ki Hajar Dewantara, Perintis Perjuangan Kemerdekaan Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Mulyono, Slamet. 1968. Nasionalisme Sebagai Modal Perjuangan Bangsa Indonesia. Jilid I. Jakarta: Balai Pustaka.

Tashadi. 1984. Dr. D.D. Setiabudhi.  Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Sejarah  dan Nilai Tradisional. Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Responses

  1. wah thanks bgt ya info-nya, lengkap bgt, info-nya sangat membantu saya dalam pembuatan TA. kbetulan tema TA saya kbangkitan nasional, n saya mengmbil peristiwa indische partij.

    thank a lot yaaaaaaaaaa,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,

  2. pahlawan sejati,mengharukan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: