Posted by: luckymulyadisejarah | June 12, 2008

Aceh , Resensi Buku

                                          

Data Buku

 

Judul Buku                           

Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636)

Judul Asli                               

Le sultanat d’ Atjeh au temps d’Iskandar Muda (1607-1636)

Penulis

Denys Lombard

Penterjemah  

Winarsih Arifin

Tahun Terbit                            

2006

Tebal Buku                         

408 halaman

Penerbit

Kepustakaan Kompas Gramedia, Forum Jakarta-Paris, Ecole francaise d’Extreme-Orient

Aceh di  Puncak Kejayaan

 

 

Oleh: Muhammad Mulyadi Lucky

 

Kejayaan Kerajaan Aceh hanya sebuah dongeng, itulah pernyataan yang dicetuskan oleh Snouck Hurgronye. Pernyataan itu dapat dipahami dalam dua sisi. Pertama, sisi pandangan kolonial yang selalu menganggap orang pribumi tidak memiliki kemampuan dalam bidang apapun atau selalu direndahkan, termasuk masa lalunya. Kedua, sisi pengetahuan sejarah yang dimiliki oleh Snouck Hurgronye tidak memadai untuk mengadakan suatu rekontruksi ulang mengenai Kerajaan Aceh.

Berbeda dengan Snouck, Denys Lombard melalui bukunya yang berjudul Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) ini menyatakan bahwa kejayaan Kerajaan Aceh benar adanya. Bahkan kejayaan tersebut dapat dipaparkan dengan baik olehnya. Seperti karya-karya lainnya yang ditulis oleh sejarawan Perancis ini, kaya dengan detil-detil yang apik. Dimulai dari daily life yang dianggap “ringan” dalam sejarah, meluas ke masalah-masalah yang dianggap “rumit” dalam sejarah seperti politik pemerintahan dalam negeri, hubungan luar negeri, perdagangan (dalam dan luar negeri), dan kebudayaan.

Selain apik dengan detil, keunggulan lain dari Denys Lombard dalam menulis sejarah adalah pemanfaatan sumber-sumber yang sangat luas. Dalam karyanya ini Denys Lombard memanfaatkan sumber-sumber Melayu setempat (Bustan al-Salatin, Hikayat Aceh, Adat Aceh), Eropa, dan Cina. Menyangkut sumber yang terakhir ini adalah suatu sumber sejarah yang sangat jarang disentuh oleh sejarawan Indonesia.

Kejayaan Aceh dirasakan selama duapuluh sembilan tahun masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Bahkan, pada saat itu Aceh dapat dikatakan merupakan salah satu kerajaan kosmopolitan di Asia Tenggara. Hal itu dapat dilihat dari hubungan-hubungan politik dan perdagangan yang dilakukan kerajaan Aceh. Dalam bidang politik luar negeri tidak diragukan lagi bahwa Aceh telah mengadakan berbagai hubungan dengan berbagai kerajaan di dunia. Selama abad ke –16 dan ke-17 sudah terjalin hubungan diplomatik dan dagang antara Aceh dan Turki. Aceh memandang Sultan Turki dapat dijadikan sekutu dalam menghadapi Portugis, meskipun secara geografis berjauhan letak satu dengan yang lainnya. Kelihaian Aceh dalam politik luar negeri terlihat dari kemampuannya melobi Turki, yang pada saat itu merupakan suatu kerajaan super power, untuk memberikan bantuan persenjataan dalam menghadapi kekuatan asing yang mengancam Aceh. Lobi itu menampakkan hasil, beberapa kali Turki mengirimkan bantuan meriam, amunisi, senjata api, tukang cor besi, dan nahkoda yang handal kepada Aceh.

Bantuan-bantuan tersebut menambah kekuatan Aceh dalam pertahanan, Aceh memang selalu menambah kekuatan perangnya. Hal itu dikarenakan Aceh menghadapi lawan yang tidak tanggung-tanggung kekuatannya, yaitu Portugis. Yang bersama Spanyol merupakan raksasa kembar pada masa awal imperialisme. Perang yang dilakukan Kerajaan Aceh selama belasan tahun terhadap Portugis telah membuat  raksasa imperialisme itu gagal memperluas wilayah kekuasaannya di Asia Tenggara. Paling.tidak, Portugis merasa tidak nyaman berdiam di Malaka.

Aceh adalah kerajaan yang disegani di wilayah Asia Tenggara, kerajaan Siam yang akan membalas dendam terhadap pemberontakan masyarakat Patani (sekarang bagian selatan Thailand) pun terlebih dahulu meminta ketegasan bahwa Aceh tidak ada kepentingan di Patani. Sikap netralitas Aceh diperlukan oleh Kerajaan Siam supaya para pemberontak Patani tidak mendapat bantuan dari Aceh. Di wilayah Asia Tenggara Aceh berkuasa atas raja-raja vassal di semenanjung Malaysia, seperti Johor, Kedah, Pahang, dan Perak.

Melalui kekuatan perang, Aceh memperluas wilayah kekuasaannya di nusantara sehingga meliputi jaringan yang luas. Pada abad ke-17 Sultan Aceh adalah raja Pulau Sumatra yang tidak ada tandingannya, wilayah kekuasaan Aceh adalah Pedir, Pacem, Deli dan Aru di sebelah timur. Sementara di sebelah barat, wilayah kekuasaan Aceh meliputi Daya, Labo, Cinquel, Barros, Batahan, Passaman, Tiku, Priaman, dan Padan.

Di wilayah-wilayah kekuasaannya Aceh memberlakukan monopoli atas lada, dan mewajibkan beberapa daerah untuk menjual hasil panen ke pasar Aceh. Sultan Aceh mempunyai hak istimewa atas rempah-rempah yang bernilai tinggi. Dia berhak menetapkan harga dan menjualnya kepada siapapun. Kadang-kadang harga ditentukan dengan sesuka hatinya.

Kemakmuran yang diperoleh Aceh tentu saja bukan karena keberuntungan semata, melainkan adanya kemampuan untuk melaksanakan kebijakan yang jeli dalam bidang perdagangan. Perdagangan yang besar di Aceh telah menampakkan bahwa daya pikir ekonomis masyarakat dan pemerintah Aceh saat itu sudah berkembang. Daya pikir ekonomis itu nampak juga dengan dibuatnya alat tukar yang berupa uang emas di wilayah perdagangan Aceh.

Kemakmuran menimbulkan perkembangan budaya, hal itu dialami oleh kerajaan Aceh. Dalam periode-periode keemasan itulah kebudayaan Aceh tumbuh pesat. Selain pusat penciptaan sastra, Aceh merupakan suatu tempat berkembangnya agama Islam. Perkembangan tersebut tumbuh melalui perdebatan-perdebatan pemikiran. Sejak abad ke-15 sufisme tumbuh subur di Aceh, cendikiawan dan ulama mendapat tempat yang baik di Aceh. Para sufi terkenal di nusantara seperti Hamzah Fansuri, Syam ud-Din, Nur ud-Din ar Raniri, dan Abdul Rauf dari Singkel adalah sufi-sufi yang tumbuh bersama kejayaan Aceh. Pengaruh pemikiran sufi-sufi tersebut luas pengaruhnya dalam pemikiran keislaman di nusantara. Bahkan, Denys Lombard sangat meyakini bahwa apabila dilakukan penelitian sinkronis mengenai seluruh Asia Tenggara, maka akan terlihat hubungan timbal balik antara semua fakta yang berkaitan dengan pemikiran sufi asal Aceh.

Banyak bukti yang dipaparkan Denys Lombard mengenai kemakmuran Aceh pada saat itu, misalnya pemakaman salah satu sultan Aceh, Iskandar Thani dilakukan dengan kemewahan kerajaan. Peti jenazahnya dibuat dari campuran setengah emas dan setengah tembaga (soosa), diiringi 260 ekor gajah yang didandani dengan  sutera, kain emas, dan sulaman. Gading mereka dihiasi dengan emas dan perak. Selain itu kuda-kuda pengiring adalah kuda-kuda Parsi yang tali kekangnya terbuat dari emas dan perak. Iring-iringan itu juga diikuti oleh sebagian besar selir raja (hal 211-212). Iskandar Tani adalah pengganti dari Sultan Iskandar Muda, lalu bagaimana Iskandar Muda dimakamkan? Yang jelas pasti lebih megah dari Iskandar Tani, soalnya peti jenazahnya saja terbuat dari emas, bukan seperti peti jenazah Iskandar Tani.  Uraian rinci mengenai bukti kemakmuran Aceh, bukan saja melalui uraian tentang pemakaman sang sultan. Tetapi juga mengenai keadaan fisik dan kehidupan istana serta rakyat Aceh. Demikian juga halnya dengan dengan kekuatan perang Aceh yang banyak dilengkapi meriam, baik di laut maupun di darat, dan juga kehebatan pasukan-pasukan gajah dan kuda.

Kemakmuran yang diperoleh Aceh bukan karena penguasa telah “berpengalaman” memerintah, melainkan hasil dari kebijakan Iskandar Muda yang menjadi raja dalam usia sangat muda yaitu kira-kira 24 tahun. Dalam usia  muda, raja kebanggaan masyarakat Aceh dan masyarakat Indonesia itu  dapat menjalankan pemerintahan dengan baik. Banyak hasil yang dicapai bersifat monumental.

Iskandar Muda lah yang membuat mesjid Baitu-ur Rahman dan beberapa mesjid pada tiap-tiap negeri dialah yang menegakkan agama Islam di Aceh. Memerintahkan rakyat Aceh shalat lima waktu, puasa ramadhan dan puasa sunat serta menjauhkan rakyat Aceh dari judi dan minuman yang memabukkan. Tokoh Iskandar Muda kemudian dibesar-besarkan namanya bahkan seperti menjadi dongeng. Melalui buku ini Denys Lombard menginginkan adanya penetapkan garis batas yang tegas antara dongeng dan sejarah.

 

Muhammad Mulyadi Lucky

Staf Pengajar di Jurusan Sejarah Unpad.

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: