Posted by: luckymulyadisejarah | June 11, 2008

Aceh , Resensi Buku 2

 

Judul Buku                               :

Kerajaan Aceh Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636)

Judul Asli                                 :

Le sultanat d’ Atjeh au temps d’Iskandar Muda (1607-1636)

Penulis                                      :

Denys Lombard

Penterjemah                              :

Winarsih Arifin

Tahun Terbit                             :

2006

Tebal Buku                               :

408 halaman

Penerbit                                    :

Kepustakaan Kompas Gramedia, Forum Jakarta-Paris, Ecole francaise d’Extreme-Orient

Kekuasaan dan Kemakmuran di Aceh

Oleh : Linda Sunarti

Bagaimanakah Aceh membangun kejayaannya pada masa Iskandar Muda? Denys Lombard menjawabnya melalui karya tulis sejarahnya yang khas, yaitu kaya dengan detil dan upaya-upaya menghubungkan benang merah antara satu fenomena dengan fenomena lainnya dengan apik yang ditandai dengan catatan kaki yang cermat. Dalam menghubungkan satu fenomena dengan fenomena lainnya, misalnya saja mengenai kenapa pemimpin Aceh yang berhasil membawa Aceh ke puncak kejayaannya ini dinamakan Iskandar? Denys Lombard menyatakan bahwa hal itu tidak terlepas dari impian-impian kerajaan di Timur yang mengidolakan Iskandar Zulkarnaen. Bahkan sampai saat ini legenda beberapa etnis di Sumatra menghubungkan bahwa dirinya merupakan keturunan langsung dari Iskandar Zulkarnaen.

Kejayaan kerajaan Aceh yang dicapai pada masa Iskandar Muda menorehkan suatu fenomena tersendiri dalam sejarah, dia merupakan salah seorang pemimpin yang naik tahta dalam usia muda, kira-kira 24 tahun dan meninggal dalam usia yang relatif muda pula yaitu dalam usia 54 tahun. Dalam rentang waktu kekuasaannya selama 30 tahun banyak kisah mengenai kemakmuran dan kejayaan yang telah dicapai kerajaan Aceh, misalnya saja hubungan-hubungan diplomatik Aceh dengan manca negara, suatu tempat perdagangan yang mendunia, dan menjadi kerajaan yang besar di Nusantara.

Iskandar Muda sebagai seorang pemimpin menimbulkan “bias sejarah” yaitu sebagai orang yang dipuja rakyat Aceh karena kebijaksanaannya, sementara ahli sejarah Barat memandangnya sebagai seorang pemimpin yang kejam dan suka mabuk. Bias sejarah tersebut membingungkan ahli sejarah Barat, karena keburukan sifat Iskandar Zulkarnaen tersebut tidak menurunkan wibawanya pada saat memerintah. Kebingungan lainnya dari ahli sejarah Barat adalah Iskandar Muda begitu percaya tahayul  akan tetapi begitu besar perhatiannya pada bidang agama dan perundang-undangan.

            Pengamatan seorang pengembara Barat yang bernama Bealieu mengenai Iskandar Muda menyatakan bahwa Sultan selalu berhasil mengatasi segala urusan dari yang besar sehingga hal-hal yang sepele, hal itu menyebabkan adanya anggapan bahwa Sultan Iskandar Muda sebagai tukang sihir ulung. Bealieu sendiri menganggapnya sebagai  seorang yang pandai menyusun pendapat, segala sesuatu yang dikerjakannya telah dipertimbangkan dengan matang, serta Sultan Iskandar Muda adalah raja yang paling makmur dari kerajaan-kerajaan tetangganya.

            Kemakmuran kerajaan Aceh diperoleh melalui perdagangan dan penaklukan. Selain itu sultan secara pribadi juga mempunyai sumber penghasilan yang sangat besar dan tidak henti-hentinya selalu berupaya menambah penghasilannya semaksimal mungkin. Sumber penghasilan sultan terdiri dari dua sumber, yaitu darat dan laut. Pendapatan dari darat adalah beras, daging (hasil ternak), ikan, sampai pinang yang wajib dikirim oleh rakyatnya ke kerajaan. Hasil penyerahan secara wajib itu kemudian dibagi untuk kebutuhan pangan istana, hamba sultan, dan sisanya dijual ke pasar umum.

            Jaminan pangan yang berupa beras di Aceh pada umumnya selalu menimbulkan masalah, hal ini dikarenakan masyarakat Aceh kurang suka menanam padi. Pada masa Iskandar Muda permasalahan tersebut dipecahkan dengan cara setiap tahun mengumpulkan beras dari daerah-daerah yang tunduk kepadanya; tanah-tanah disewakan kepada rakyatnya yang harus menjamin bahwa beras selalu tersedia tidak peduli panen berhasil atau tidak. Para petani akan selalu bekerja keras karena kegagalan menyediakan beras akan mengakibatkan kematiannya. Dengan demikian, di kerajaan Aceh pasokan beras selalu tersedia dengan baik selama pemerintahan Iskandar Muda.

            Sumber kekayaan lainnya di darat adalah raja menjadi pewaris dari semua rakyatnya yang meninggal tanpa anak laki-laki. Anak gadis yang belum kawin ketika ayahnya meninggal akan dibawa ke istana untuk dijadikan dayang. Seorang terpidana mati pun secara otomatis akan kehilangan seluruh harta bendanya, karena disita untuk Sultan. Anehnya banyak yang dihukum mati tersebut berasal dari golongan yang kaya.

Selain melalui upeti, kekayaan Aceh juga diperoleh melalui penaklukan-penaklukan perang. Mengawasi dan menduduki negeri-negeri yang dianggap strategis sebagai jalur perdagangan seperti Johor dan Pahang, serta menghancurkan kerajaan yang dianggap sebagai saingan seperti Kedah.

Selain pendapatan di darat, sultan juga mendapat kekayaan dari lautan. Pendapatan tersebut dapat berupa berbagai pajak yang dipungut dari perdagangan. Sultan juga menjadi pewaris dari semua orang asing yang meninggal di wilayahya. Pendapatan lainnya yang diperoleh Sultan dari laut adalah hak tawan karang. Suatu hak untuk menyita semua barang dan orang yang karam dan mencapai pantai. Hak tawan karang ini sebenarnya bukan sesuatu yang khas dilakukan oleh kerajaan Aceh. Beberapa kerajaan lain di Indonesia dalam waktu yang sama memberlakukan hak tawan karang. Bahkan hak tersebut sebelunya juga sudah diberlakukan di Eropa.

Sebagai sumber pendapatan raja yang tidak menentu dan besar jumlahnya adalah “hadiah”, mengenai hadiah ini sebenarnya lebih mirip dengan kewajiban tambahan. Besarnya tidak ditetapkan, tetapi seringkali lebih besar dari pajak yang telah ditetapkan. Hadiah ini bisa berasal dari rakyat, pedagang setempat maupun orang asing yang singgah di Aceh.

Hubungan antara kemakmuran dan kekuasaan menunjukkan suatu hubungan timbal balik. Dengan kemakmuran yang diperolehnya Aceh membangun tentara darat yang hebat, terdiri dari pasukan gajah dan kuda-kuda (kebanyakan didatangkan dari Perancis) kemudian meriam-meriam yang didatangkan dari Turki atau buatan setempat dibantu teknisi asing. Di laut Aceh pun membangun angkatan perang dengan kapal-kapal yang dipersenjatai meriam. Senjata-senjata perang Aceh juga menunjukkan suatu kemakmuran, kebanyakan senjata seperti pedang dan tumbak dilapisi oleh perak dan emas. Bahkan tali kekang kuda juga dilapisi oleh perak dan emas, demikian pula halnya dengan gading gajah. Tentara Aceh yang hebat tersebut selalu berupaya memperluas kekuasaannya, sehingga dapat menaklukan seluruh kerajaan di wilayah Sumatra dan beberapa di antaranya di Malaysia seperti Johor, Pahang, dan Kedah. Aceh bahkan merupakan lawan tangguh bagi Portugis yang bercokol di Malaka pada waktu itu. Di sisi lain penaklukan-penaklukan yang dilakukan oleh tentara Aceh telah membawa Aceh pada peningkatan kemakmuran yang lebih besar. Aceh mendapatkan hak monopoli atas hasil-hasil alam dari kerajaan-kerajaan yang ditaklukannya.

Melalui sumber sejarah yang melimpah dan penguasaan atas sumber yang baik, Denys Lombard berhasil menguraikan seluruh bentuk kemakmuran lainnya di kerajaan Aceh dengan baik. Buku ini merupakan suatu sangahan yang tepat atas mitos yang dikemukakan oleh Snouck Hurgronje bahwa “kejayaan kerajaan Aceh hanya mitos belaka”.

 

Linda Sunarti

Staf  Pengajar Departemen Sejarah

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia

 

 


Responses

  1. Zaman kerajaan Aceh Darussalam memang sungguh luar biasa….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: