<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Lucky Mulyadi "Sejarah "</title>
	<atom:link href="http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com</link>
	<description>Sejarah Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 Jan 2012 04:41:40 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='luckymulyadisejarah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Lucky Mulyadi "Sejarah "</title>
		<link>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/osd.xml" title="Lucky Mulyadi &#34;Sejarah &#34;" />
	<atom:link rel='hub' href='http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Historiografi Musik Indonesia:dua periode</title>
		<link>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/08/30/historiografi-musik-indonesiadua-periode/</link>
		<comments>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/08/30/historiografi-musik-indonesiadua-periode/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 05:45:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadisejarah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi buku]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Historiografi Musik Indonesia di Dua Orde Judul buku: Industri Musik Indonesia: Suatu Sejarah Penulis: Muhammad Mulyadi Cetakan: I, Agustus 2009 Penerbit: Koperasi Ilmu Pengetahuan Sosial, Bekasi Hal: 223 MASIH terbilang jarang manuskrip historiografi, yang secara khusus membedah industri musik nasional. Terlebih, melakukan telaahan tak hanya menempatkan musik semata sebagai entitas hiburan &#8211;serta bagaimana pengaruhnya secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=143&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Historiografi Musik Indonesia di Dua Orde<br />
Judul buku: Industri Musik Indonesia: Suatu Sejarah<br />
Penulis: Muhammad Mulyadi<br />
Cetakan: I, Agustus 2009<br />
Penerbit: Koperasi Ilmu Pengetahuan Sosial, Bekasi<br />
Hal: 223<br />
MASIH terbilang jarang manuskrip historiografi, yang secara khusus membedah industri musik nasional. Terlebih, melakukan telaahan tak hanya menempatkan musik semata sebagai entitas hiburan &#8211;serta bagaimana pengaruhnya secara ekonomi&#8211; tetapi lebih dari itu, juga menempatkannya dalam konteks sosial politik di negeri ini. Satu dari yang segelintir itu adalah buku bertajuk Industri Musik Indonesia: Suatu Sejarah.<br />
Buku ini ditulis oleh Muhammad Mulyadi, dosen tetap komunikasi di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung. Semula merupakan hasil tesis penulisnya pada Program Pascasarjana Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Indonesia.<br />
Konteks waktu yang ditulis dalam buku ini, dibatasi pada rentang 1960 sampai 1990. Dengan demikian, secara substantif dapat merupakan kajian historis dan komparatif bagaimana &#8220;konstelasi&#8221; musik Indonesia pada dua rezim pemerintahan, Orde Lama dan Orde Baru. Satu batas tegas dimunculkan dalam buku ini bahwa pada era Soekarno musik tidak memberikan sumbangan ekonomi, baik terhadap negara maupun musisi.<br />
Hal itu dikarenakan banyak pembatasan terhadap musik, sehingga musik sebagai industri belum berkembang. Musik lebih mewujud sebagai alat politik. Hal itu lebih terlihat dalam rangka &#8220;pengganyangan budaya barat&#8221; ketika perang dingin berlangsung. Pada saat itu, politik luar negeri Indonesia tampak cenderung memihak blok timur.<br />
Kemudian, pada masa peralihan Orde Lama ke Orde Baru, wujud musik sebagai alat politik masih tampak jelas. Pada masa peralihan ini, ABRI banyak memegang peran, misalnya melalui panggung prajurit. Tujuan diadakannya panggung prajurit adalah untuk mewujudkan integrasi ABRI dengan rakyat dalam operasi-operasi penangkapan anggota partai komunias di daerah-daerah. Para penyanyi dan musisi dalam era ini, sebagaimana terpapar dalam buku, juga sering tampil untuk mengumpulkan dana bagi kegiatan politik.<br />
Dalam perkembangannya kemudian, peran media massa khususnya TVRI dan RRI pada masa itu, tidaklah bisa dikesampingkan. Perubahan kebijakan politik antibarat yang kemudan dilakukan Orde Baru, bagaimanapun memberikan dampak luas berkat peran yang dilakukan TVRI dan RRI. Ragam acara seperti Variety Show yang kemudian menjadi Kamera Ria, Pemilihan Bintang Radio, Aneka Ria Safari, dan lain-lain, turut mewarnai jejak sejarah permusikan negeri ini. Peran media massa ini terus meluas, seiring dengan hadirnya rubrik musik dan hiburan di koran-koran serta hadirnya beragam majalah musik. Salah satunya yang melegenda adalah Aktuil yang sepat menjadi barometer dalam membaca perkembangan musim era akhir 1960-an sampai 1970-an.<br />
Membaca salah satu tesis sejarah, memang menjadi hal mengasyikkan, terutama setelah dijadikan buku. Kita akan menuai deskripsi yang menarik dan &#8220;nostalgik&#8221; tentang sepak terjang para artis dan musisi kita tempo dulu, terutama di saat musik Indonesia belum mengindustri. Juga bagaimana awal mula terdorongnya musik Indonesia menjadi salah satu entitas industri, baik dalam bentuk panggung maupun hiburan. Dengan catatan, jenis musik yang menjadi objek penelitian buku ini terbatas pada tiga jenis musik diatonis yang berakar dari barat yakni pop, jazz, dan rock.<br />
Menurut penulisnya, pertimbangan kenapa demikian, karena ketiga jenis musik itu banyak mengalami perkembangan dalam industri musik di Indonesia. Ketiga jenis musik itu juga mempunyai dinamika tinggi dalam konstelasi politik, ekonomi, dan perkembangan teknologi. Sebetulnya, musik dangdut demikian ditulis dalam pendahuluan buku, juga mempunyai perkembangan dan dinamika tinggi dalam industri musik. Akan tetapi, musik dangdut mempunyai aspek-aspek khusus seperti tidak berakar dari barat, mempunyai keunikan tersendiri dan luasnya cakupan mengenai musik dangdut, maka studi musik dangdut dalam industri musik memerlukan suatu studi khsusus.<br />
Bagaimanapun, buku ini dapat dijadikan salah satu referensi autentik dalam mengkaji industri musik Indonesia, terutama pada perubahan dua rezim pemerintahan awal negeri ini. Juga menjadi pijakan, manakala kita mencoba menelaah lebih jauh hadirnya industri musik Indonesia adalah wajah kontemporernya saat ini. (Weni, kolektor buku sejarah, tinggal di Bandung)***<br />
Pikiran Rakyat 27 Agustus 2009.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/143/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/143/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/143/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=143&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/08/30/historiografi-musik-indonesiadua-periode/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9a7d927023f818dbbfc586ca6699ccae?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadisejarah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>musik indonesia</title>
		<link>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/08/17/musik-indonesia/</link>
		<comments>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/08/17/musik-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 05:56:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadisejarah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi buku]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/?p=136</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa Ronald Reagan dan Bill Clinton ke Indonesia demi indsutri musik mereka? Apa hubungannya dengan Indonesia? Ingat kan Aneka Ria Safari. Di balik tontonan paling menggairahkan era orde baru ada cerita-cerita menarik. Masyarakat Kita diarahkan untuk bercitra rasa seperti musik yang ditampilkannya, tapi apakah semuanya negatif? Baca buku Industri Musik Indonesia: Suatu Sejarah, Muhammad Mulyadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=136&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa Ronald Reagan dan Bill Clinton ke Indonesia demi indsutri musik mereka?  Apa hubungannya dengan Indonesia? Ingat kan Aneka Ria Safari. Di balik tontonan paling menggairahkan era orde baru ada cerita-cerita menarik. Masyarakat Kita diarahkan untuk bercitra rasa seperti musik yang ditampilkannya, tapi apakah semuanya negatif? Baca buku Industri Musik Indonesia: Suatu Sejarah, Muhammad Mulyadi (sejarawan). Harga Rp45.000 termasuk ongkos kirim P Jawa, tebal 239 hal, hvs. Berminat? SMS 085716640738 atau imel to mulyadilucky@yahoo.com.. Salam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/136/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/136/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/136/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=136&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/08/17/musik-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9a7d927023f818dbbfc586ca6699ccae?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadisejarah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Industri musik Indonesia: Suatu Sejarah</title>
		<link>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/08/17/industri-musik-indonesia-suatu-sejarah/</link>
		<comments>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/08/17/industri-musik-indonesia-suatu-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 01:57:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadisejarah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Resensi buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/?p=133</guid>
		<description><![CDATA[Kenapa ABRI sering menyelenggarakan panggung prajurit pada tahun 1967-an? Kenapa mereka mendukung kedatangan Blue Diamond? Main musik jadi penyanyi adalah tabu, bagaimana kalau main musik dapat doku?Apakah menjadi musisi dan penyanyi suatu pekerjaan? Penyanyi-penyanyi cantik, bersuara pas-pas an merajai industri musik Indonesia. Kenapa demikian? Ada apa di belakang fenomena tersebut? Ingat kan Aneka Ria Safari? [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=133&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kenapa ABRI sering menyelenggarakan panggung prajurit pada tahun 1967-an? Kenapa mereka mendukung kedatangan Blue Diamond? Main musik jadi penyanyi adalah tabu, bagaimana kalau main musik dapat doku?Apakah menjadi musisi dan penyanyi suatu pekerjaan? Penyanyi-penyanyi cantik, bersuara pas-pas an  merajai industri musik Indonesia. Kenapa demikian? Ada apa di belakang fenomena tersebut? Ingat kan Aneka Ria Safari? Di balik tontonan paling menggairahkan era orde baru ada cerita-cerita menarik Baca buku Industri Musik Indonesia: Suatu Sejarah, Muhammad Mulyadi (sejarawan). Harga Rp 45.000. termasuk ongkos kirim P Jawa. 239 hal, hvs. Berminat? hubungi mulyadilucky@yahoo.com.. atau SMS 085716640738 Salam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/133/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/133/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/133/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=133&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/08/17/industri-musik-indonesia-suatu-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9a7d927023f818dbbfc586ca6699ccae?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadisejarah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BUKU: SEAJARAH INDUSTRI MUSIK (BARU)</title>
		<link>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/08/16/buku-seajarah-industri-musik-baru/</link>
		<comments>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/08/16/buku-seajarah-industri-musik-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 16 Aug 2009 00:32:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadisejarah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimana kondisi musik rock Indonesia tahun 1970-1990? Konser besar, konser di gedung olah raga, kerusuhan, kegagalan dalam rekaman, bagaimana mereka dapat menembus industri rekaman? Penyanyi-penyanyi cantik, bersuara pas-pas an merajai industri musik Indonesia. Kenapa demikian? Ada apa di belakang fenomena tersebut? Baca buku Industri Musik Indonesia: Suatu Sejarah, Muhammad Mulyadi (sejarawan). Harga Rp45.000, termasuk ongkos [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=127&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bagaimana kondisi musik rock Indonesia tahun 1970-1990? Konser besar, konser di gedung olah raga, kerusuhan, kegagalan dalam rekaman, bagaimana mereka dapat menembus industri rekaman?<br />
Penyanyi-penyanyi cantik, bersuara pas-pas an  merajai industri musik Indonesia. Kenapa demikian? Ada apa di belakang fenomena tersebut?  Baca buku Industri Musik Indonesia: Suatu Sejarah, Muhammad Mulyadi (sejarawan). Harga Rp45.000, termasuk ongkos kirim P Jawa, tebal 239 hal, HVS. Berminat? hubungi mulyadilucky@yahoo.com..  atau SMS 085716640738, Salam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=127&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/08/16/buku-seajarah-industri-musik-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9a7d927023f818dbbfc586ca6699ccae?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadisejarah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Paul Ricoeur</title>
		<link>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/03/23/paul-ricoeur/</link>
		<comments>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/03/23/paul-ricoeur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Mar 2009 16:31:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadisejarah</dc:creator>
				<category><![CDATA[ilmu sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Paul Ricoeur: Penafsiran yang Tidak Pernah Selesai Oleh: R Muhammad Mulyadi Sebagai salah seorang tokoh filsafat yang memusatkan perhatiannya pada hermeneutika, Paul Ricoeur berpandangan bahwa hermeneutika merupakan suatu teori mengenai aturan-aturan penafsiran terhadap suatu teks atau sekumpulan tanda maupun simbol yang dipandangnya atau dikelompokkan sebagai teks juga. Ricoeur menganggap bahwa tidak ada pengetahuan langsung tentang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=120&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Paul Ricoeur: Penafsiran  yang Tidak Pernah Selesai</p>
<p>Oleh: R Muhammad Mulyadi</p>
<p>Sebagai salah seorang tokoh filsafat yang memusatkan perhatiannya pada hermeneutika, Paul Ricoeur berpandangan bahwa hermeneutika merupakan suatu teori mengenai aturan-aturan penafsiran terhadap suatu teks atau sekumpulan tanda maupun simbol yang dipandangnya atau dikelompokkan sebagai teks juga. Ricoeur menganggap bahwa tidak ada pengetahuan langsung tentang diri sendiri, oleh sebab itu pengetahuan tentang diri sesungguhnya hanya diperoleh melalui kegiatan penafsiran. Melalui kegiatan ini, setiap hal yang melekat pada diri (yang bisa dianggap sebagai teks) harus dicari makna yang sesungguhnya/objektif agar dapat diperoleh suatu kebenaran (pengetahuan) yang hakiki  tentang diri tersebut. <span id="more-120"></span><br />
Hermeneutika bertujuan untuk menggali makna yang terdapat pada teks dan simbol dengan cara menggali tanpa henti makna-makna yang tersembunyi ataupun yang belum diketahui dalam suatu teks. Penggalian tanpa henti harus dilakukan mengingat interpretasi dalam teks bukanlah merupakan interpretasi yang bersifat mutlak dan tunggal, melainkan temporer dan multi interpretasi. Dengan demikian, tidak ada kebenaran mutlak dan tunggal dalam masalah interpretasi atas teks karena interpretasi harus selalu kontekstual dan tidak selalu harus tunggal. Dalam pengertian kontekstual, seorang interpreter dituntut untuk menerapkan her-meneutika yang  kritis agar selalu kontekstual. Dalam konteks ini, barangkali inter-preter perlu menyadari bahwa sebuah pemahaman dan interpretasi teks pada dasarnya bersifat dinamis. Sementara itu, dalam pengertian bahwa makna hasil dari interpretasi tidak selalu tunggal mengandung pengertian bahwa suatu teks akan memiliki makna yang berbeda ketika dihubungkan dengan konteks yang lainnya, sehingga akan membuat pengkayaan interpretasi dan makna.<br />
Hermeneutika tidak dimaksudkan untuk mencari kesamaan antara maksud pembuat pesan dan penafsir. Melainkan menginterpretasi makna dan pesan se-objektif mungkin sesuai dengan yang diinginkan teks yang dikaitan dengan konteks. Seleksi atas hal-hal di luar teks harus selalu berada dalam petunjuk teks. Suatu interpretasi harus selalu berpijak pada teks. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa proses penafsiran selalu merupakan dialog antara teks dan penafsir.<br />
Objektivitas interpretasi dapat dicapai melalui empat kategori metodologis yang meliputi objektivasi melalui struktur, distansiasi melalui tulisan, distansiasi melalui dunia teks, dan apropriasi. Dua yang pertama sangat penting sebagai prasyarat agar teks bisa “mengatakan” sesuatu. Objektivasi melalui struktur adalah suatu upaya yang menunjukkan relasi-relasi intern dalam struktur atau teks, hermeneutika berkaitan erat dengan analisis struktural. Analisis struktural adalah sarana logis untuk menafsirkan teks.<br />
Namun begitu, analisis hermeneutik kemudian melampaui kajian struktural, karena hermeneutika melibatkan berbagai disiplin yang relevan sehingga memungkinkan tafsir menjadi lebih luas dan dalam. Bagaimanapun juga berbagai elemen struktur yang bersifat simbolik tidak bisa dibongkar dengan hanya melihat relasi antar elemen. Oleh sebab itu, penafsiran dalam perspektif hermeneutika juga mencakup semua ilmu yang dimungkinkan ikut membentuknya seperti sejarah psikologi, sosiologi, antropologi dan lain sebagainya. Apabila teks (objek) dipahami melalui analisis relasi antar unsurnya (struktural), maka bidang-bidang lain yang belum tersentuh bisa dipahami melalui bidang-bidang ilmu dan metode lain yang relevan dan memungkinkan. Fenomena tersebut dalam hermeneutika disebut dengan distansi.<br />
 Posisi Ricoeur dalam hermeneutika dapat dikategorikan sebagai salah seorang tokoh hermeneutika fenomenologi, seperti halnya Heidegger dan Gadamer. Hermeneutika fenomenologi merupakan suatu teori interpretasi reflektif yang didasarkan pada perkiraan filosofis fenomenologi. Hermeneutika fenomenologi mempertanyakan hubungan subjek-objek, dari pertanyaan tersebut dapat diamati bahwa ide dari objektivitas merupakan sebuah hubungan yang mencakup objek yang tersembunyi. Ricoeur menyatakan bahwa setiap pertanyaan yang diajukan berkenaan dengan teks yang diinterpretasi adalah sebuah pertanyaan tentang arti dan makna teks. Arti dan makna teks itu diperoleh dari upaya pencarian dalam teks berdasarkan bentuk, sejarah, pengalaman membaca, dan refleksi diri dari inter-preter. Oleh karena itu, setiap teks selalu terbuka untuk diinterpretasi terus-menerus. Meskipun demikian, proses pemahaman dan interpretasi teks bukanlah merupakan suatu upaya menghidupkan kembali atau reproduksi, melainkan sesuatu hal yang bersifat rekreatif dan produktif. Oleh karena, peran subjek sangat menentukan dalam interpretasi teks sebagai pemberi makna, maka subjek sebagai interpreter harus dapat menampilkan keaktualitasan/kekinian kehidupannya sendiri berdasar-kan pesan yang dimunculkan oleh objek yang ditafsirkannya.<br />
Kedudukan subjek yang sangat menentukan dalam pemberi makna (interpreter) menurut Ricoeur nampak juga dalam bidang ilmu budaya. Apa yang dikatakan Ricoeur ternyata nampak pula pada materi kuliah Prof. Bachtiar Alam Phd yang memberikan kuliah perdana Teori Kebudayaan pada program S3 FIB UI, pada kesempatan tersebut Prof. Bachtiar Alam Phd menerangkan mengenai berbagai pengertian kebudayaan, salah satunya adalah mengenai  kebudayaan sebagai sesuatu yang diperoleh manusia melalui proses belajar. Proses tersebut seringkali diartikan sebagai &#8220;nilai-nilai budaya&#8221; yang digunakan manusia untuk menafsirkan pengalaman dan mengarahkan tindakan.<br />
Pengertian kebudayaan yang dimaksud mengacu pada pendekatan simbolik atau interpretatif yang dipelopori oleh Clifford Geertz. Pada tahun 1970-an pendekatan tersebut kemudian dikembangkan oleh para antropolog di Amerika Serikat. Pendekatan interpretatif melihat kebudayaan sebagai sistem konsepsi yang digunakan manusia untuk menafsirkan hidup dan menentukan sikap terhadapnya.<br />
Namun sejak pertengahan dekade 1980-an, pendekatan interpretatif banyak dikritik oleh para antropolog lainnya, atau dalam istilah Ricoeur mengalami interpretasi kembali. Salah satu pengkritik teori interpretatif adalah Talal Asad, seorang antropolog Inggris yang menyatakan bahwa konsep kebudayaan interpre-tatif menggambarkan hubungan antara simbol-simbol budaya dan kehidupan sosial sebagai suatu &#8220;hubungan satu arah&#8221;. Simbol-simbol budaya menginformasikan, mempengaruhi dan membentuk kehidupan sosial. Dalam konsep tersebut, sama se-kali tidak ditunjukkan bagaimana nilai-nilai budaya dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman manusia sehari-hari, simbol-simbol budaya dilihat sebagai sesuatu yang sui generis (terbentuk dengan sendirinya atau the given).<br />
Salah satu teori yang dinilai dapat mengisi kelemahan seperti itu adalah teori &#8220;praktek&#8221; (practice) yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu, seorang antropolog. Teori praktek, muncul pada tahun 1980-an, menekankan &#8220;keterlibatan si subyek&#8221; dalam proses konstruksi budaya. Seperti diungkapkan oleh Asad, pendekatan interpretatif memiliki kelemahan karena tidak dijelaskannya posisi manusia sebagai &#8220;subyek&#8221; yang dapat ikut membentuk nilai-nilai budaya. Hal tersebut kemudian dijelaskan oleh Bourdieu yang mengatakan bahwa di antara manusia dan kebudayaannya terdapat suatu proses interaksi terus-menerus. Manusia mencoba mengolah dan mengkonstruksi simbol-simbol budaya demi &#8220;kepentingan&#8221;-nya dalam kondisi sosial, ekonomi, dan politik tertentu. Usaha-usaha manusia untuk mengkonstruksi simbol atau nilai budaya tersebut oleh Bourdieu praktek.<br />
Hampir sama dengan interpretasi teks menurut Ricoeur, simbol-simbol maupun nilai-nilai yang terkandung dalam suatu kebudayaan menurut teori praktek selalu bersifat cair, dinamis, dan sementara, karena keberadaannya tergantung pada praktek para pelakunya yang berada pada konteks sosial tertentu, yang sudah barang tentu mempunyai kepentingan tertentu.<br />
Implikasi lain dari pendekatan praktek seperti ini ialah, bahwa suatu kebudayaan hanya dapat terwujud dalam kaitannya dengan &#8220;subyek,&#8221; yaitu melalui prakteknya. Salah satu praktek yang sangat unik, karena secara langsung meng-konstruksi kebudayaan, adalah &#8220;wacana&#8221; (discourse). Wacana dalam pengertian Bourdieu adalah bentuk penuturan verbal yang berkaitan erat dengan kepentingan si penutur, berbeda dari &#8220;teks&#8221; yang merupakan penuturan verbal yang harus dilepas-kan dari posisi si penutur seperti dalam pengertian Ricoeur.<br />
Eksplorasi atau interpretasi tiada henti dalam hermeneutika dan kebudayaan nampak pula dalam ilmu pengetahuan. Siklus ilmu pengetahuan yang digambarkan oleh Walter Wallace memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan juga bersifat temporal dalam hal kebenarannya. Selalu ada penyempurnaan bahkan penggalian teori baru dalam ilmu pengetahuan. Selalu ada dialektika dalam ilmu pengetahuan. Dalam hal ini penggalian teori-teori baru dihasilkan oleh manusia sebagai subjek ilmu pengetahuan.<br />
Dengan demikian manusia sebagai subjek berada dalam sistem budaya dan manusia pula yang membentuk budaya tersebut melalui eksplorasi interpretasi yang tidak pernah selesai. Selalu ada interpretasi dan teori-teori baru dalam ilmu pengetahuan, terlepas dari penemuan teori-teori baru itu berjalan cepat atau lambat, formal atau informal, ditemukan oleh sekelompok komunitas ilmuwan atau individual, bahkan kadang-kadang dalam kenyataan sebenarnya atau hanya dalam imajinasi seorang ilmuwan saja.<br />
Kaitan hermeneutika, kebudayaan baru, dan teori-teori baru dengan rencana  penelitian disertasi penulis, nampaknya contoh yang diberikan Prof. Dr. Toety Heraty dalam perkuliahan  mengenai lima kaidah estetika dan tiga persfektif estetika, serta sebuah kata pengantarnya mengenai “Keberhasilan dan Mutu” memberikan suatu tantangan penulis. Hal itu disebabkan bahwa penulis meren-canakan suatu tema disertasi mengenai sejarah artis, apakah artis di Indonesia yang muncul selalu ditopang oleh team work, promosi, dan sistem konsumsi sesuai dengan penjelasan Prof.Dr. Toety Heraty dalam kata pengantar mengenai “Keberhasilan dan Mutu”. Lalu bagaimana kaitannya dengan modal, serta perjuangan anak-anak muda untuk menjadi artis dengan melakukan perlawanan budaya terhadap kaum pemodal dalam industri hiburan (indie label dan underground). Demikian juga halnya dengan proses kreatif seorang seniman, struktur karya, dan pengalaman reseptif-apresiatif. Semua fenomena industri hiburan tersebut adalah teks yang nampaknya memerlukan suatu interpretasi baru, melalui teori-teori yang telah dan akan diberikan dalam mata kuliah ini, dengan demikian bisa saja muncul “makna baru” atau “fakta baru” “ walaupun dengan “data yang lama”. </p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Alam, Bachtiar. “Konsep kebudayaan dewasa ini: Seputar pertanyaan mengenai kontruksi budaya, esensialisme dan kekuasaan”. Makalah Pengantar Ceramah Umum di Program S3 FIB UI September 2008.<br />
Grondin, Jean. 1994. Introduction to Philosophical Hermeneutics. New Heaven: Yale University Press.<br />
Haryatmoko, 2000, Hermeneutika Paul Riceour, dalam majalah BASIS, edisi 05-06 tahun ke 49 Mei-Juni 2000, Yogyakarta:  Kanisius.<br />
Ricoeur, Paul. Interpretation Theory, Discourse and the Surplus of Meaning. Texas: CU Press.<br />
Sumaryono, E. 1999. Hermeneutik; Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.<br />
Wallace, Walter.1971.”An overview of elements in the scientific process”. From The Logic of Science in Sociology. Chicago: Aldine-Atherton. Introduction, hal 16-25.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=120&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/03/23/paul-ricoeur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9a7d927023f818dbbfc586ca6699ccae?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadisejarah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kajian Budaya dan Sejarah</title>
		<link>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/02/10/kajian-budaya-dan-sejarah/</link>
		<comments>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/02/10/kajian-budaya-dan-sejarah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Feb 2009 16:29:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadisejarah</dc:creator>
				<category><![CDATA[ilmu sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/?p=118</guid>
		<description><![CDATA[Penjelasan Kajian antar Teks terhadap Konstruksi Identitas Budaya Oleh: R Muhammad Mulyadi Teks merupakan suatu representasi dari kehidupan masyarakat dan kajian budaya berupaya merepresentasikan masyarakat melalui kajian antar teks. Repre-sentasi yang dihadirkan memang tidak pernah lengkap, sama halnya dengan kajian-kajian disiplin lain seperti sejarah misalnya, masa lalu yang dihadirkan kembali tidak pernah utuh. Hal itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=118&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penjelasan Kajian antar  Teks<br />
terhadap Konstruksi Identitas Budaya</p>
<p>Oleh: R Muhammad Mulyadi</p>
<p>Teks merupakan suatu representasi dari kehidupan masyarakat dan kajian budaya berupaya merepresentasikan masyarakat melalui kajian antar teks. Repre-sentasi yang dihadirkan memang tidak pernah lengkap, sama halnya dengan kajian-kajian disiplin lain seperti sejarah misalnya, masa lalu yang dihadirkan kembali tidak pernah utuh. Hal itu disebabkan adanya proses seleksi yang mengakibatkan sebagian aspek dari realitas masyarakat dapat ditangkap dan sebagian realitas lainnya di-abaikan. Dalam ilmu sejarah misalnya ada data-data (bisa data apa saja yang di-kategorikan sebagai teks) yang dapat ditemukan dan data-data yang tidak atau belum ditemukan, maka seorang sejarawan hanya menangkap realitas dari masyarakat berdasarkan data-data yang ditemukannya saja. Di samping itu, dapat juga sejarawan tersebut mengabaikan data-data yang ditemukannya karena dianggap tidak relevan dengan bidang yang dikajinya. Dengan kata lain, sejarawan dapat saja memfokuskan diri pada sebagian realitas masyarakat. Dengan demikian, realitas yang direpresen-tasikan oleh seorang sejarawan tidak dapat utuh. <span id="more-118"></span><br />
Demikian pula kaitannya dengan dengan teks sebagai bahan kajian, apakah suatu teks telah merepresentasikan secara utuh atau benar mengenai realitas masya-rakat? Ketidakyakinan bahwa teks dapat merepresentasikan masyarakat tersebut muncul karena misalnya, dalam beberapa kasus pemberitaan di media massa ada yang menonjolkan suatu masalah bersifat ekonomi sementara media massa yang lain menonjolkan masalah politik atau kriminal. Hal itu disebabkan wartawan dan redaksi lah yang menetapkan pemilihan berita atau isu-isu dan menyingkirkan berita dan isu-isu yang lain. Dengan demikian realitas dikontruksi, dalam istilah Ben Anderson sebagai hal yang dibayangkan, oleh para penggiat media massa.<br />
Kebenaran yang sesuai dengan kenyataan atau tidak, menjadi sesuatu hal yang kurang penting dengan mempertimbangkan bahwa media massa tidak mungkin merepresentasikan realitas secara menyeluruh. Dalam arti kata digambarkan secara mendetail dan kemudian dilihat dari berbagai perspektif. Realitas yang diangkat dalam satu media hanyalah representasi, yang mengandung implikasi. Artinya, ada hal-hal tertentu dari realitas yang dihilangkan atau ditambah.<br />
Realitas secara utuh memang tidak dapat ditangkap, meskipun demikian kajian budaya telah memberikan suatu sumbangan yang sangat penting dalam merepresentasikan masyarakat yaitu melalui kajian interdisiplin atau anti-disiplin. Kajian budaya disebut suatu kajian anti-disiplin karena menolak pengkotak-kotakan ilmu pengetahuan yang saling mengklaim kebenaran yang dihasilkan disiplin ilmunya masing-masing. Kajian budaya justru harus mengakomodasi kontribusi teori maupun metode dari berbagai disiplin ilmu yang dipandang strategis untuk merepresentasikan realitas masyarakat terutama representasi terhadap permasalahan kekinian. Kajian budaya berkembang pada batas-batas dan pertemuan berbagai jenis wacana yang telah dilembagakan dalam berbagai bidang disiplin ilmu, terutama dalam ilmu sejarah, linguistik, susastra, antropologi, dan sosiologi. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana kebudayaan (produksi sosial makna dan kesadaran) dapat dijelaskan dalam dirinya sendiri dan dalam hubungannya dengan berbagai bidang ilmu lainnya seperti ekonomi (produksi dan konsumsi) dan politik (relasi sosial dan kekuaaan). Dalam hal ini kajian budaya berupaya merepresentasikan masyarakat secara multidimensi, dengan demikian dapat memperjelas dan mem-perkaya pemahaman terhadap suatu permasalahan yang dikaji.<br />
Sumbangan kedua dari kajian budaya adalah membangun sebuah kerangka kerja yang berusaha menempatkan dan menemukan kembali kebudayaan dari kelompok-kelompok masyarakat yang sering termarjinalkan atau sering diabaikan, yang kemudian dikenal dengan subaltern.<br />
Demikian pula halnya dalam kaitannya dengan konstruksi identitas nasional kajian budaya telah menawarkan beberapa hal yang harus dijelaskan seperti  pema-haman terhadap dunia sehari-hari sebagai bagian dari budaya yang penting di-perhatikan. Dunia sehari-hari adalah suatu wacana yang biasa dilakukan, dirasakan, dibicarakan, dilihat dan didengar dalam kehidupan sehari-hari oleh masyarakat. Hal ini yang disebut oleh Melani  Budianta sebagai acuan/wacana yang beredar di masyarakat.<br />
Oleh karena, wacana yang beredar di masyarakat maka budaya yang harus diperhatikan dalam kajian budaya bukan saja budaya yang bersifat adiluhung. Akan tetapi, juga budaya populer dan budaya sebagai keseluruhan cara hidup (way of life) suatu masyarakat.<br />
Suatu hal terpenting bagi pendekatan yang memandang budaya sebagai kegiatan sehari-hari adalah pemahaman tentang konstruksi sosial atas realita. Dalam perspektif ini realitas dipahami dan diabaikan, dibicarakan dan dilupakan, dihidupkan atau dimatikan, dikelola atau dirusak, dimanfaatkan atau dibuang, berdasarkan sistem konstruksi yang beredar di masyarakat. Jadi, sesuatu selalu berubah-ubah, baik disebabkan oleh keterbukaan maupun dari interaksi berbagai arah.<br />
Dalam hal identitas budaya proses perubahan juga harus dikaitkan dengan globalisasi. Harus diperhatikan pula dampak-dampak yang disebabkan oleh globali-sasi terhadap identitas kebudayaan.<br />
Dalam penjelasan kontruksi identitas kebudayaan menurut kajian budaya harus dilakukan suatu dekontruksi, yaitu mengidentifikasi hal-hal yang kontradiksi dalam masyarakat (kontradiksi internal) seperti nasional versus global atau nasional versus lokal. Kemudian melihat ke arah mana perubahan akan terjadi. Menurut penulis, dekontruksi ini merupakan sumbangan sumbangan ketiga dari kajian budaya dalam merepresentasikan masyarakat.<br />
Melalui dekontruksi, kajian budaya yang memberikan suatu interpretasi dan representasi harus membantu masyarakat memahami dominasi dan jenis perubahan yang diinginkan. Sehingga dalam identitas kebudayaan nasional masyarakat harus “disadarkan” mengenai pemahaman arus budaya global terhadap budaya nasional. Apa pengaruh budaya global tersebut terhadap identitas budaya, bagaimana resistensi dan penerimaan atas budaya global? Perubahan-perubahan apa saja yang diakibatkan oleh globalisasi, apakah bangsa Indonesia menjadi pemangsa atau mangsa dari globalisasi budaya tersebut. Selain itu desakan dari bawah (lokal) terhadap kebudayaan nasional juga harus diamati. Kebudayaan lokal suatu saat dapat juga menjadi suatu identitas bagi kebudayaan nasional.<br />
Kesadaran masyarakat tersebut pada akhirnya akan memberikan suatu sumbangan lainnya dari kajian budaya, yaitu tidak adanya kebenaran tunggal. Sehingga identitas kebudayaan nasional pada dasarnya mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan interaksi dari berbagai arah. Identitas kebudayaan nasional yang kita akui saat ini dapat saja berubah sewaktu-waktu. Perubahan tersebut merupakan hasil konstruksi.<br />
Konstruki budaya tersebut terjadi karena adanya dominasi ideologi yang dikuasai oleh penguasa. Di sinilah terjadi apa yang dinamakan sebagai hegemoni, suatu kondisi temporer dalam “lapangan pertempuran”. Kajian budaya kemudian adalah untuk mengekplorasi bagaimana ideologi yang berasal kelas-kelas berkuasa mampu bertahan dan hidup tanpa disadari. Cara-cara ideologis tersebut bisa terus mengacaukan sistem kekuasaan (power) yang eksis. Melalui kekuasaan inilah  identitas budaya dikontruksi, baik itu kekuasaan politik maupun oleh kuasa modal (capital).  Kuasa modal misalnya melalu media massa, berbagai acara televisi tidak luput dari beragam muatan ideologis yang berada di dalamnya. Hal tersebut memperlihatkan bahwa para pemilik modal (dalam hal ini pemilik stasiun tv) lah yang mengkonstruksi suatu budaya tertentu sehingga menjadi suatu identitas kebudayaan. Sedangkan pemerintah  dapat saja merekontruksi identitas budaya melalui kuasa politiknya  misalnya dengan mengeluarkan suatu undang-undang tertentu tentang identitas budaya. Contohnya adalah Soekarno yang berupaya mengkontruksi identitas nasional dengan mengeluarkan larangan untuk memainkan musik Barat yang dicapnya sebagai perusak kebudayaan nasional. Kebudayaan nasional dikontruksikannya dengan melihat unsur-unsur budaya lokal tanpa pengaruh kebudayaan Barat.</p>
<p>Daftar Pustaka</p>
<p>Anderson, Benedict. 1983. Imagined Communities: Reflection on the Origin and Spread of  Nation. London-New York: Verso.<br />
Budianta, Melani. 2000. Discourse of cultural identity in Indonesia during the 1997-1998 monetary crisis. Inter-Asia Cultural Studies, Volume 1, Number 1. </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/118/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/118/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/118/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=118&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/02/10/kajian-budaya-dan-sejarah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9a7d927023f818dbbfc586ca6699ccae?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadisejarah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SWAMI dan kritik sosial</title>
		<link>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/02/02/swami-dan-kritik-sosial/</link>
		<comments>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/02/02/swami-dan-kritik-sosial/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 05:40:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadisejarah</dc:creator>
				<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Kritik Sosial dalam Empat Lirik Lagu di Album Kelompok Musik Swami I Tugas mata kuliah Seminar dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Budaya Semester Ganjil 2008/2009 Oleh: Agnes Setyowati H. Dhita Hapsarani Irzanti S. Muhammad Mulyadi R. Suryanto Satrio Arismunandar Program S3 &#8211; Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Desember 2008 I. Latar Belakang Kesenian, khususnya seni musik, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=114&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>
<strong>Kritik Sosial dalam Empat Lirik Lagu di Album Kelompok Musik Swami I</strong><br />
Tugas mata kuliah Seminar dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Budaya<br />
Semester Ganjil 2008/2009</p>
<p>Oleh:<br />
Agnes Setyowati H.<br />
Dhita Hapsarani<br />
Irzanti S.<br />
Muhammad Mulyadi<br />
R. Suryanto<br />
Satrio Arismunandar</p>
<p>Program S3 &#8211; Fakultas Ilmu Budaya<br />
Universitas Indonesia<br />
Desember 2008</p>
<p>I. Latar Belakang</p>
<p>	Kesenian, khususnya seni musik, merupakan bagian dari kebudayaan. Melalui musik, manusia mengekspresikan perasaan, harapan, aspirasi, dan cita-cita, yang me-representasikan pandangan hidup dan semangat zamannya. Oleh karena itu, melalui kesenian, kita juga bisa menangkap ide-ide dan semangat yang mewarnai pergulatan zaman bersangkutan.<br />
	Indonesia sendiri adalah suatu negeri yang kaya dengan berbagai karya seni, khususnya seni musik, yang mewakili pandangan hidup dan semangat zamannya. Salah satu era yang penting dalam perjalanan bangsa ini adalah era Orde Baru yang dimulai dengan naiknya Jenderal Soeharto ke tampuk pimpinan pemerintahan pada penghujung 1960-an sampai berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto pada penghu-jung 1990-an. <span id="more-114"></span><br />
	Salah satu grup musik yang sempat mewarnai era Orde Baru adalah Swami, dengan ikonnya Iwan Fals. Mereka telah menelurkan sejumlah album dan salah satu yang menonjol adalah album Swami I. Lirik-lirik lagu dalam album Swami I ini me-wakili pandangan hidup mereka, sekaligus mengekspresikan semangat zamannya. Untuk memahami lirik-lirik lagu yang ditampilkan dalam album Swami I, kita perlu meninjau konteks kondisi sosial, ekonomi, dan politik Indonesia pada era tersebut.  </p>
<p>1.1	Kondisi Sosial, Ekonomi, dan Politik Indonesia 1989<br />
Penghujung 1980-an adalah saat rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto mencapai puncak kekuatannya.  Pemerintah Soeharto menjadikan ekonomi sebagai panglima dan seluruh elemen masyarakat dimobilisasi di bawah panji “pembangunan” (development).<br />
Konsep utama pembangunan seharusnya adalah perbaikan mutu kehidupan rakyat. Dalam pembangunan, seharusnya tercakup unsur perubahan yang berdimensi sosial kultural dan ekonomi, serta bersifat kualitatif dan kuantitatif. Namun, seperti di banyak negara berkembang lain,  pembangunan di Indonesia telah direduksi makna-nya menjadi “pertumbuhan ekonomi” (economic growth) semata sehingga pembangunan secara sederhana berarti pertumbuhan pendapatan setiap orang di daerah yang secara ekonomis terbelakang.<br />
Harus diakui, pembangunan ekonomi yang substansial memang pernah berja-lan di Indonesia. Pada tahun 1966, pendapatan per kapita tahunan di Indonesia sekitar US$ 75. Ekonomi ini terus tumbuh lewat utang luar negeri dan sumbangan sektor migas. Pertumbuhan ekonomi riil selama tahun 1980-an dan 1990-an hampir selalu berkisar antara 6 sampai 7 persen per tahun. Inflasi tahunan rata-rata masih dapat ditekan di bawah level 10 persen.<br />
Perbaikan yang berarti juga dicapai dalam pemberantasan tuna aksara di ka-langan orang dewasa, peningkatan  usia harapan hidup, menurunnya angka kematian bayi, dan pembatasan tingkat pertumbuhan penduduk lewat program KB.<br />
Berbagai  hasil ini mendorong Bank Dunia untuk menjadikan Indonesia seba-gai contoh “model sukses” pembangunan. Indonesia diajukan sebagai tolok ukur ki-nerja negara-negara berkembang lain, dalam Laporan Pembangunan Dunia (World Development Report) 1990, yang disusun oleh Bank Dunia.<br />
Namun, ada harga yang harus dibayar untuk “kesuksesan ekonomi” itu. Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tersebut, pemerintah memerlukan kestabilan politik di dalam negeri. Selanjutnya, dengan dalih perlunya stabilitas politik ini, pemerintah bersikap represif dan memberlakukan sejumlah aturan otoriter.<br />
Pers dan media massa dikontrol ketat. Media yang kritis dibreidel dan dilarang terbit. Jumlah partai politik dibatasi, dan mereka tidak boleh masuk ke desa-desa. Sementara pegawai negeri dan anggota keluarga ABRI dipaksa memilih Golkar, partainya penguasa. Lewat para pejabat, Golkar justru leluasa masuk ke desa-desa.<br />
Tokoh-tokoh oposisi yang kritis dipenjarakan atau disingkirkan,  sedangkan, kebebasan berekspresi di bidang seni juga ditindas, khususnya kalangan seniman yang tidak sejalan dengan kepentingan rezim.  Jika diperlukan, pemerintah juga tidak se-gan-segan menggunakan cara-cara represif, demi “menjaga ketertiban masyarakat” dan “melancarkan jalannya roda pembangunan.”<br />
Karena yang dinomorsatukan adalah pertumbuhan ekonomi, sementara distri-busi ekonomi atau pemerataan kesejahteraan tidak menjadi prioritas, maka terjadilah kesenjangan antara kelompok elite atau mereka yang diuntungkan oleh “pem-bangunan,” dan rakyat banyak yang tertinggal atau ditinggalkan dalam proses “pem-bangunan.”<br />
Ada sejumlah konglomerat, pengusaha, birokrat, dan pejabat yang -karena kedekatan dengan penguasa- menikmati kue pembangunan. Sebaliknya, banyak rak-yat kecil yang hidupnya tertekan. Teori bahwa kemakmuran di kalangan atas pada akhirnya akan mengalir ke bawah (trickle-down effect) dan dinikmati oleh kalangan bawah, ternyata tidak terbukti.<br />
Yang kaya bisa semakin kaya, sedangkan yang miskin semakin miskin. Presiden Soeharto sendiri diduga memiliki kekayaan miliaran dollar pada tahun 1989. Jika digabung dengan harta istri dan anak-anaknya, ditambah lingkaran kroni sipil dan militernya, jumlah tersebut membengkak sampai puluhan miliar dollar.  Keakuratan angka ini mungkin bisa diperdebatkan, tetapi fakta bahwa Soeharto beserta keluarga dan kroni-kroninya telah menumpuk kekayaan dengan memanfaatkan kekuasaan, tampaknya disepakati oleh banyak pengamat.<br />
Strategi politik dan ekonomi Soeharto – yang bermotivasi pengumpulan harta besar-besaran  bagi segelintir manusia, sementara mengesampingkan kepentingan ma-yoritas penduduk – telah ditanamkan di Indonesia sejak akhir tahun 1960-an.  Sayangnya, sistem politik Indonesia yang otoriter menyulitkan berjalannya pengawasan yang efektif terhadap pihak-pihak yang ingin menggunakan kekayaan negara untuk keuntungan pribadi.<br />
Kesenjangan semacam inilah yang dilihat para anggota Swami dalam inter-aksinya sebagai seniman dengan masyarakat sehari-hari. Gambaran suram dan mem-prihatinkan inilah yang memberi inspirasi pada karya-karya mereka, yang bercorak kritik sosial. Pihak yang kaya dan berkuasa asyik dengan ambisi dan kenikmatan hidupnya sendiri, sementara rakyat kecil yang seharusnya disejahterakan ternyata nasibnya malah diabaikan. </p>
<p>1.2.  Alasan Pemilihan Album Swami I<br />
	Album Swami I dipilih karena album ini dianggap mewakili semangat zaman-nya. Salah satu ukuran keterwakilan itu adalah respons positif masyarakat terhadap album serta lagu-lagu di dalamnya, yang bisa dilihat dari angka penjualan. Album Swami ini meledak di pasaran.<br />
Angka penjualan album ini sangat tinggi, hingga mencapai 800 ribu kopi dalam jangka waktu satu bulan. Padahal, angka penjualan tersebut dicapai tanpa pro-mosi besar-besaran. Swami I berhasil mencapai sukses di pasar industri musik Indo-nesia dengan lagu-lagu yang sarat dengan kritik sosial sekaligus menghibur. </p>
<p>1.3. Alasan Pemilihan Empat lagu<br />
Hampir semua lagu di album Swami I ini menjadi hits, tetapi yang dikate-gorikan sebagai hits besar dari Swami adalah lagu Bento dan Bongkar.  Dua lagu lain yang dipilih untuk dianalisis di sini adalah Potret dan Oh…Ya!. Empat lagu ini dipilih karena popularitasnya, dan sekaligus juga karena lagu-lagu itu menunjukkan karakter yang kuat dalam konteks kritik sosial. </p>
<p>1.4. Permasalahan<br />
Secara sepintas, lagu-lagu dalam album Swami I mengekspresikan kritik sosial. Namun, tim peneliti ingin menelaah secara lebih spesifik. Pertama, bagaimanakah penguasa atau kelas atas ditampilkan dalam lirik-lirik lagu Swami? Kedua, di sisi lain, bagaimanakah kelas bawah ditampilkan? Ketiga, bagaimanakah pertentangan kelas ditampilkan? Dan terakhir, kritik sosial macam apakah yang diangkat di dalam keempat lirik ini? </p>
<p>1.5. Tujuan<br />
Makalah ini hendak menunjukkan kritik sosial yang ditampilkan dalam lirik dari keempat lagu Swami I dengan menganalisis representasi penguasa, kelas atas, kelas bawah, dan pertentangan di antara mereka.</p>
<p>1.6. Metodologi dan Metode Penelitian<br />
Makalah ini menggunakan pendekatan kualitatif dan lintas disiplin yang meliputi bidang ilmu sejarah, filsafat, susastra, dan linguistik.<br />
Metodologi yang diterapkan adalah metodologi kualitatif karena objek pene-litian berupa lirik lagu, dan tujuan penelitian adalah memahami isi lirik lagu, dalam kaitannya dengan peristiwa sosial. Pemahaman dilakukan melalui interpretasi peneliti dengan pisau analisis teori konotasi dari Barthes.<br />
	Berhubungan dengan metodologi tersebut, berikut ini uraian metode yang dilaksanakan: Lirik lagu dari album Swami I diklasifikasi berdasarkan topik. Pada tahap selanjutnya, dipilih empat lirik lagu berdasarkan sebuah topik. Kemudian, kata-kata yang memperlihatkan fenomena yang sesuai dengan topik dipilah dan dikelom-pokkan. Akhirnya, data dianalisis untuk mencapai tujuan penelitian.</p>
<p>II. Grup Musik Swami<br />
2.1. Lahirnya Swami<br />
Swami adalah grup musik yang dibentuk oleh Setiawan Djodi, Iwan Fals, Sawung Jabo,  Innisisri, Naniel,  dan Nanoe pada tahun 1989. Swami dijadikan nama grup, atas usul Sawung Jabo yang berasal dari plesetan &#8216;Suami,&#8217; karena semua anggotanya berstatus suami.<br />
Kesepakatan awal para anggota Swami adalah membentuk grup untuk jangka waktu tiga tahun. Oleh karena itu, Swami membubarkan diri pada 1991.<br />
Tidak lama setelah dibentuk, Swami berhasil mengeluarkan album yang diberi judul Swami. Dalam album Swami I yang berformat kaset, terdapat sepuluh lagu yang masing-masing side memuat lima lagu. Dalam side A termuat lagu-lagu, dengan data musisi yang menciptakan lagu tersebut. Lengkapnya adalah sebagai berikut:<br />
Side A<br />
1. Bento (Iwan Fals / Naniel ) -SWAMI<br />
2. Bongkar (Iwan Fals / Sawung Jabo) -SWAMI<br />
3. Badut (Iwan Fals / Sawung Jabo / Naniel) -SWAMI<br />
4. Esek.Esek..Udug.Udug.. (Iwan/ Jabo / Naniel) -SWAMI<br />
5. Potret (Iwan Fals / Sawung Jabo / Naniel) -SWAMI</p>
<p>Sementara dalam side B, lagu-lagu yang dimuat dengan data musisi yang menciptakannya adalah sebagai berikut:<br />
Side B<br />
1. Bunga Trotoar (S Djody / Iwan / Jabo / Naniel) -SWAMI<br />
2. Oh&#8230; Ya! (Iwan Fals / Sawung Jabo / Naniel) -SWAMI<br />
3. Condet (Iwan Fals / Naniel) &#8211; -SWAMI<br />
4. Perjalanan Waktu (Iwan Fals / S.Jabo / Naniel) –SWAMI<br />
5.  Cinta (Iwan Fals/ Sawung Jabo/Naniel)- SWAMI</p>
<p>Album Swami I ini diproduksi pada tahun 1990 oleh Airo Records Pro-ductions, suatu perusahaan rekaman yang dapat dikelompokkan sebagai minor label . Pada sampul album ini nama Iwan Fals dicantumkan di atas nama Swami, atas usulan Setiawan Djodi, yang merasa tanpa nama Iwan Fals, album Swami tidak akan dilirik. Dengan demikian Iwan Fals dijadikan trade mark, bukan Sawung Jabo dengan grup Sirkus Barock-nya.<br />
Saat itu Iwan Fals dinilai sebagai musisi yang berani mengkritik korupsi dalam pemerintah yang berkuasa (terutama pada masa rezim Orde Baru) dan yang lirik-liriknya menyentuh hati berbagai kalangan masyarakat (terutama rakyat kecil). Hal ini menjadi istimewa mengingat tidak banyak artis yang memiliki keberanian dan karakter merakyat seperti Iwan Fals. Kebanyakan artis pop pada masa itu dipandang kurang peka pada masalah-masalah sosial sehingga ada yang mengatakan bahwa mu-sik Iwan Fals merupakan suara rakyat (voices of people).<br />
Faktor utama yang menyebabkan popularitas lagu-lagu Iwan Fals dan kelom-pok musik Swami I adalah tema musik yang mengambil inspirasinya dari kehidupan sehari-hari sehingga meninggalkan kesan memasyarakat, serta kritik sosialnya yang dinilai berani.<br />
Masuknya Setiawan Djodi ke dalam kelompok Swami merupakan suatu anomali. Pada satu sisi kelompok Swami adalah kelompok musik yang mengusung lagu-lagu protes sosial sebagai tema utamanya, pada sisi lain Setiawan Djodi adalah bagian dari kelas sosial yang diprotes. Setiawan Djodi dikenal sebagai seorang konglomerat kaya raya, yang punya hubungan dekat atau perkawanan dengan putra-putra Presiden Soeharto.<br />
Popularitas memang tidak otomatis identik dengan kualitas karya. Namun, dalam melihat kualitas musik Swami I, harus dipahami bahwa seni (modern) tidak hanya identik dengan keindahan, melainkan meliputi kategori-kategori lainnya, seper-ti tragis dan ketidakharmonisan (sebagai kebalikan dari keselarasan), serta pemberon-takan.<br />
Manusia memang tidak selalu menjadi homo estheticus, melainkan juga manusia sosial, yang berakar pada sejarah dan kondisi sosial-masyarakat tertentu sehingga tidak mengherankan, jika dalam menciptakan sebuah karya seni seorang se-niman akan mendapat pengaruh pula dari lingkungan dan zamannya.<br />
2.2. Konteks Pembuatan Lagu<br />
Menurut pengakuan Iwan Fals, sebagai bagian dari grup Swami, semua lagu yang dibuatnya jujur dan mempunyai peristiwa, meskipun ada unsur pendramtisa-sian. Unsur pendramatisasian paling tampak pada lagu-lagu pesanan.<br />
Secara pasti Iwan Fals juga menyatakan bahwa tujuannya membuat lagu adalah untuk dijual dan laku. Namun, antara pilihan laku dan suara hati, Iwan menya-takan suara hati adalah pilihannya, meskipun unsur ingin laku selalu mempenga-ruhinya. Hanya saja pada saat membuat syair, tidak ada urusannya dengan itu.<br />
Lagu Bongkar, misalnya, pada awalnya bukan seperti yang sudah ada di al-bum rekaman Swami I. Gagasan lagu Bongkar berasal dari beberapa kasus penggu-suran yang terjadi pada saat Orde Baru, seperti kasus Kedung Ombo, Kaca Piring, dan Way Jepara. Kemudian Sawung Jabo mengusulkan perubahan lagu Bongkar dan disetujui oleh anggota Swami.<br />
Perubahan dilakukan dengan tidak membahas kasus per kasus dalam setiap lagu. Iwan melihat usulan Sawung Jabo tersebut sebagai pemikiran yang tepat, karena lagu Bongkar lebih langsung mengenai sasaran. Lebih otentik dan jujur.  </p>
<p>III. Kerangka Teori<br />
Representasi merupakan salah satu proses dalam sirkuit kebudayaan di sam-ping identitas, produksi, konsumsi, dan regulasi yang beroperasi berdasarkan sistem tanda. Tanda-tanda tersebut menghasilkan makna tertentu, yang pada akhirnya dapat memperlihatkan identitas individu atau kolektif, serta posisi yang diambil oleh pem-buat representasi.<br />
Posisi yang berbeda akan menghasilkan representasi yang berbeda. Represen-tasi budaya yang dihasilkan pemerintah Orde Baru pastilah berbeda dari representasi budaya yang dihasilkan oleh mereka yang berada pada posisi yang berseberangan dengan Orde Baru.</p>
<p>3.1 Teori Konotasi Roland Barthes<br />
	Dalam linguistik modern, makna unsur leksikal dibedakan atas makna yang objektif dan tetap, serta yang subjektif dan bervariasi. Meskipun berbeda, kedua makna tersebut ditentukan oleh konteks.<br />
Makna yang pertama, makna denotatif,  berkaitan dengan sosok acuan, mi-salnya kata merah bermakna ‘warna seperti warna darah’ (secara lebih objektif, makna dapat digambarkan menurut tata sinar). Konteks dalam hal ini untuk meme-cahkan masalah polisemi; sedangkan pada makna konotatif, konteks mendukung munculnya makna yang tidak objektif.<br />
		Barthes mengatakan bahwa sebuah tanda (dalam hal ini tanda bahasa) adalah sebuah sistem yang terdiri atas expression/Signifier (E) yang dihubungkan (Relation/R) dengan content (C). Dalam kaitannya dengan penanda (expression/ signifier) dan petanda/konsep (content/signified), Barthes menggambarkan hubungan kedua makna tersebut sebagai berikut:</p>
<p>           Expression2                 (R<br />
           MERAH<br />
	2)     Content 2<br />
	‘gembira/komunis’</p>
<p>Expression1 (R<br />
  MERAH<br />
	1) Content 1<br />
	     ‘warna’<br />
          Tanda<br />
          sekunder:  konotasi</p>
<p>           Tanda<br />
           primer: denotasi</p>
<p>Menurut Barthes, makna lain yang tidak objektif dan tidak tetap seperti itu adalah makna konotatif. Makna ini berkaitan dengan:<br />
1.  majas (metafora, metonimi, hiperbola, eufemisme, ironi, satira, dan sebagainya);<br />
2. pengalaman pribadi atau masyarakat penuturnya, yang menimbulkan reaksi dan memberi makna konotasi emotif. Misalnya: halus, kasar/tidak sopan, peyoratif, akrab, kanak-kanak, menyenangkan, menakutkan, bahaya, tenang, dan sebagainya. Jenis ini tidak terbatas.<br />
Pada contoh di atas: MERAH bermakna konotatif emotif. Konotasi ini bertujuan membongkar makna yang terselubung.<br />
	Lirik lagu Swami menarik dianalisis dengan teori Barthes, karena mengan-dung makna konotatif, baik yang berupa majas maupun yang berupa reaksi.</p>
<p>3.2 Teori Pertentangan Kelas Karl Marx </p>
<p>Marx menyatakan bahwa sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pa-da dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas, yakni antara kelas yang memi-liki alat-alat produksi (kaum kapitalis) dan kelas yang tidak memiliki alat-alat pro-duksi (kelas pekerja atau buruh).<br />
Kaum kapitalis memeras tenaga buruh demi keuntungan modal dan membuat kelas pekerja ini hidup dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi. Dengan demi-kian, kelas pekerja ini teralienasi dan tidak bisa mengembangkan potensi-potensi ke-manusiaannya.<br />
Marx percaya bahwa kapitalisme yang ada pada akhirnya akan kalah dan di-gantikan dengan komunisme. Kapitalisme akan berakhir akibat aksi yang dikelola oleh kelas pekerja internasional. Kondisi ideal masyarakat tanpa kelas akhirnya akan tercapai, setelah beberapa periode dari sosialisme radikal yang menjadikan negara sebagai wujud kediktaktoran proletariat.<br />
Di Indonesia, Soekarno mencoba menerjemahkan, mengadaptasi, dan menga-plikasikan teori Marx tersebut ke dalam konteks Indonesia, yang berbeda dengan kon-teks Rusia, tempat asal teori Marx. Di Indonesia, yang ada bukanlah kelas pekerja (buruh) yang sama sekali tidak memiliki alat-alat produksi seperti di Rusia, melain-kan kalangan rakyat kecil yang memiliki alat produksi sendiri, tetapi dalam jumlah yang sangat kecil, misalnya, petani yang memiliki sepetak sawah kecil, tukang bakso yang  memiliki satu gerobak bakso sendiri, pedagang asongan yang memiliki lapak kecil, tukang becak yang memiliki satu becak sendiri, dan sebagainya. Bung Karno menyebut mereka sebagai “kaum Marhaen,”  dan ideologinya disebut Marhae-nisme.<br />
Teori pertentangan kelas dari Marx, dengan versi adaptasinya seperti yang digagas oleh Soekarno, digunakan dalam menganalisis teks di makalah ini. Pertimbangan penggunaannya adalah karena teori tersebut dianggap cocok dengan konteks situasi dan kondisi masyarakat Indonesia era Orde Baru (1989), khususnya pada saat kelompok musik Swami menghasilkan karya-karyanya. </p>
<p>IV. Analisis Lirik Lagu</p>
<p>Keberadaan Iwan Fals, yang dikenal dengan lagu-lagunya yang penuh dengan kritik sosial, sebagai anggota grup band SWAMI menjanjikan bahwa album SWAMI I diwarnai oleh lirik lagu yang bersifat mengritik penguasa. Memang jika dilihat dari permukaan, tampaknya keempat lirik lagu ini ditandai dengan kritikan terhadap  penguasa dan penindasan yang mereka lakukan kepada masyarakat miskin. Keempat lirik lagu mengangkat dua kelas sosial yang saling berseberangan, yaitu kelas bawah yang tertindas dan kelas atas yang menindas.<br />
Kelas bawah diwakili oleh tiga lirik lagu, yaitu Potret, Oh ya, dan Bongkar sementara kelas atas diwakili oleh lirik lagu Bento. Kelas bawah di dalam keempat lirik ini digambarkan sebagai kelompok orang yang tertindas oleh kemiskinan dan oleh kesewenangan dan keserakahan penguasa. Ketertindasan oleh kemiskinan diangkat dalam lirik lagu Potret dan Oh ya. Potret menyoroti miskinnya kehidupan masyarakat di kalangan ini sehingga yang menjadi tujuan hidup mereka hanya memenuhi kebutuhan primer, yaitu uang untuk membeli makanan. Hal ini secara gamblang dinyatakan di dalam bait pertama dan bait ketiga:<br />
Orang orang resah<br />
Berlomba kejar nafkah<br />
Demi anak bini<br />
Demi sesuap nasi</p>
<p>Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?<br />
Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?</p>
<p>Orang-orang dari kelompok sosial ini ditampilkan sebagai orang-orang yang resah karena harus berlomba mengejar nafkah. Mencari uang untuk membeli makanan diumpamakan sebagai sebuah pertandingan. Siapa cepat dia yang dapat. Itu semua dilakukan hanya untuk mendapatkan uang dan nasi, yang berarti bahwa nafkah yang dikejar itu bukan uang dalam jumlah besar melainkan jumlah yang kecil. Ukuran kecil di sini karena hanya cukup untuk membeli makanan. Pengulangan pertanyaan Uang dimana uang? Nasi dimana nasi? dalam bait ketiga memperlihatkan bahwa yang menjadi obsesi orang-orang ini adalah uang dan nasi.<br />
Dalam lirik lagu Oh ya, kondisi miskin yang menguasai kelas bawah diperlihatkan secara tajam melalui kontras antara impian masyarakat kelas bawah dengan kenyataan yang dihadapinya. Di dalam lirik lagu ini, aku lirik yang berasal dari kelas bawah bermimpi untuk memiliki materi dan kedudukan yang umumnya menjadi penanda kelas atas. Materi yang diimpikan adalah mobil yang dikontraskan dengan bus, dan rumah dengan gubuk. Meskipun mobil dan bus sama-sama merupakan alat transportasi, tetapi kualitasnya berbeda. Demikian juga rumah dan gubuk. Mobil dan rumah menawarkan kenyamanan sekaligus prestise yang tidak didapatkan dari bus dan gubuk. </p>
<p>Andaikata aku di mobil itu<br />
Tentu tidak di bus ini<br />
Seandainya aku rumah itu<br />
Tentu tidak di gubuk ini</p>
<p>Impian lainnya berkaitan dengan kedudukan yang ditandai dengan kontras antara direktur dengan penganggur. Selain menyatakan jabatan yang tinggi di dalam susunan organisasi perusahaan, direktur juga mengindikasikan posisi yang tinggi di dalam pandangan masyarakat yang tidak didapatkan aku lirik sebagai penganggur. Kontras ini menunjukkan betapa jauhnya perbedaan antara impian dengan kenyataan yang dihidupi oleh aku lirik. </p>
<p>Kalau saja aku jadi direktur<br />
Tentu tidak jadi penganggur<br />
Umpamanya aku dapat lotere<br />
Tentu saja aku tidak kere</p>
<p>Setelah berangan-angan untuk menjadi direktur, aku lirik berandai-andai mendapat lotere, yang kemudian dikontraskan dengan kenyataan bahwa ia hanya kere. Pemilihan kata kere ini menunjukkan bahwa aku lirik berada pada tingkat sosial yang paling rendah. Terdapat rasa pesimis di sini bahwa keadaan aku lirik sudah sedemikian terpuruk sehingga tidak ada lagi yang dapat dilakukan untuk mengubahnya. Yang dapat dilakukannya hanyalah berkhayal sebagaimana tampak dari pengulangan kata-kata pengandaian seperti andaikata, seandainya, kalau saja, umpamanya.<br />
A a a andaikata<br />
Se se se seandainya<br />
Oh ya!<br />
Ka ka ka kalau saja<br />
U u u umpamanya<br />
Oh ya!</p>
<p>Oh ya! Ya nasib<br />
Nasibmu jelas bukan nasibku<br />
Oh ya! Ya takdir<br />
Takdirmu jelas bukan takdirku (2x)</p>
<p>Aku bosan</p>
<p>A a a andaikata<br />
Se se se seandainya<br />
Ka ka ka kalau saja<br />
U u u umpamanya<br />
Oh ya!</p>
<p>Karena terlalu sering bermimpi, pada akhirnya aku lirik menjadi bosan dan pasrah pada nasib, pada takdir. Dengan mengatakan bahwa semua perbedaan itu merupakan nasib dan takdir, maka aku lirik tidak melihat adanya jalan keluar dari kemiskinannya.<br />
	Di dalam lirik lagu Bongkar sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang kami (jamak), yang merupakan bagian dari kelas bawah. Lagu ini menunjukkan bagaimana kelas bawah memandang dirinya sendiri serta kelas atas, dalam hal ini penguasa. Kami menampilkan dirinya sebagai sebagai orang-orang yang marah karena merasa telah menjadi korban penindasan orang-orang yang berkuasa.<br />
Kalau cinta sudah di buang<br />
Jangan harap keadilan akan datang</p>
<p>Sabar sabar sabar dan tunggu<br />
Itu jawaban yang kami terima</p>
<p>Mereka terbiasa diperlakukan dengan tidak adil yang tercermin dari tidak adanya harapan bahwa keadilan akan datang. Mereka juga terbiasa ditelantarkan dan tidak dilayani sebagaimana tampak dari jawaban yang mereka terima (sabar sabar sabar dan tunggu) dari orang-orang yang seharusnya memberikan layanan publik.<br />
Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan<br />
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan</p>
<p>Lirik ini dengan gamblang memperlihatkan kemuakan dan kemarahan mereka akan ketidakpastian dan keserakahan, yang mengacu pada penguasa yang tidak adil dan tidak kompeten dalam menjalankan tugas mereka.<br />
	Kelas penguasa di dalam lirik lagu Bongkar dapat dikategorikan ke dalam kelas atas karena mereka memiliki posisi yang tinggi dalam masyarakat. Mereka memiliki kekuasaan untuk mengatur dan mengelola masyarakat. Kelas atas, dalam hal ini penguasa, diperlihatkan telah kehilangan cinta yang dapat dibaca sebagai telah kehilangan hati nurani yang membuat mereka mampu bertindak sewenang-wenang.<br />
Penindasan serta kesewenang wenangan<br />
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan<br />
…<br />
Kesedihan hanya tontonan<br />
Bagi mereka yang diperkuda jabatan</p>
<p>Pemakaian kata diperkuda jabatan  mengacu pada penguasa yang telah dikuasai oleh jabatan mereka sehingga kehilangan hati nurani. Akibatnya, mereka melihat kesedihan orang lain hanya sebagai tontonan dan tidak tergerak untuk berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Mereka ini adalah orang-orang yang terobsesi dengan kedudukan mereka sehingga kehilangan kemanusiaan mereka.<br />
	Penggambaran yang serupa juga ada di dalam lirik lagu Bento. Aku lirik di dalam lagu ini adalah Bento yang adalah seseorang pengusaha papan atas. Untuk mengukuhkan kedudukannya sebagai tokoh kelas atas, Bento memamerkan kekayaannya, status sosialnya dan kekuasaannya.<br />
Namaku Bento rumah real estate<br />
Mobilku banyak harta berlimpah<br />
Orang memanggilku boss eksekutif<br />
Tokoh papan atas atas segalanya</p>
<p>Asyik</p>
<p>Tingkat kekayaan yang dipamerkannya ditandai dengan rumah, mobil, dan harta. Pemakaian kata real estate yang berasal dari bahasa Inggris menunjukkan bahwa rumah yang dimaksud bukan rumah biasa melainkan rumah yang memiliki nilai sosial tertentu. Mobil yang dimilikinya juga tidak hanya satu, tetapi banyak yang semakin diperkuat dengan harta yang berlimpah. Untuk memperlihatkan kedudukannya, ia memosisikan dirinya sebagai boss eksekutif. Kata boss menunjukkan bahwa ia berada pada puncak pimpinan sehingga memiliki kekuasaan yang besar atas bawahannya. Eksekutif dapat memiliki dua arti karena dapat berarti top management dari suatu perusahaan, tapi dapat juga mengacu pada badan eksekutif pemerintahan. Tidak cukup dengan memperlihatkan posisi strukturalnya, Bento menegaskan bahwa ia merupakan tokoh papan atas atas segalanya yang dapat diartikan bahwa ia menganggap dirinya sebagai tokoh masyarakat di dalam segala bidang.<br />
	 Deksripsi diri yang dilakukan Bento  memperlihatkan nada sombong dan pongah. Ia tampak begitu menikmati kedudukan, kekayaan dan keberhasilannya. Ia bahkan melanjutkan deskripsi dirinya dengan menyombongkan wajahnya yang ganteng yang menjadikannya pujaan banyak wanita. Banyak simpanan yang mengacu pada wanita yang sekali dilirik mau dijadikan simpanannya merupakan suatu cara untuk menunjukkan bahwa kekuasaannya tidak berhenti pada materi dan kedudukan, tetapi juga manusia.<br />
Wajahku ganteng banyak simpanan<br />
Sekali lirik oke sajalah<br />
Bisnisku menjagal jagal apa saja<br />
Yang penting aku senang aku menang</p>
<p>Sikap yang sama juga ditunjukkan dengan deskripsinya tentang bagaimana ia menjalankan usahanya. Bento diperlihatkan menyombongkan dirinya dengan mengatakan bahwa bisnisnya menjagal apa saja yang ia inginkan. Secara implisit pernyataan ini menunjukkan bahwa kekuasaannya begitu besar sehingga ia dapat dengan mudah menjatuhkan orang lain yang diinginkannya.<br />
Persetan orang susah karena aku<br />
Yang penting asyik sekali lagi</p>
<p>Asyik</p>
<p>Pengulangan kata asyik semakin menekankan bahwa kesenangan dan kepuasannya adalah yang paling penting baginya. Ia tidak peduli pada akibat yang ditimbulkannya pada orang lain.</p>
<p>Khotbah soal moral omong keadilan<br />
Sarapan pagiku<br />
Aksi tipu tipu lobying dan upeti<br />
Woow jagonya</p>
<p>Maling kelas teri bandit kelas coro<br />
Itu kantong sampah<br />
Siapa yang mau berguru datang padaku<br />
Sebut tiga kali namaku Bento Bento Bento</p>
<p>Asyik</p>
<p>Bento juga memperlihatkan dirinya sebagai penipu ulung yang tidak memiliki rasa bersalah. Ia bahkan memproklamasikan dirinya sebagai penjahat paling top, jauh di atas maling dan bandit.<br />
	Secara keseluruhan, deskripsi Bento tentang dirinya sebenarnya merupakan suatu strategi untuk membongkar apa yang ada di balik kekayaan dan keberhasilan yang tampak dari luar tanpa harus menudingkan jari kepada orang lain karena Bento membuka kedoknya sendiri. Kepongahan Bento di satu sisi merupakan satir terhadap kepongahan kelas atas dan di sisi lainnya menciptakan jarak antara pembaca dengan Bento  karena sulit bagi pembaca untuk bersimpati pada tokoh seperti dia.<br />
Jika representasi kelas bawah dan atas diperbandingkan, tampak ada perbedaan kelas antara yang kaya dan yang miskin, antara yang berkuasa dan yang tertindas. Dalam beberapa lirik lagu, perbedaan tersebut mengarah pada pertentangan kelas. Yang paling menonjol terlihat di dalam lirik lagu Bongkar. Di dalam lirik lagu ini jalan keluar yang dipilih kelas bawah untuk menyampaikan aspirasi mereka adalah dengan turun ke jalan atau melakukan demonstrasi. Penguasa direpresentasikan sebagai setan yang berdiri mengangkang yang dapat diartikan sebagai kekuatan jahat yang menunjukkan kekuasaannya dengan menghalangi tercapainya tujuan demonstrasi. Pertentangan dipertajam dengan refrain lagu yang mengulang-ulang kata bongkar.<br />
Ternyata kita harus ke jalan<br />
Robohkan setan yang berdiri mengangkang</p>
<p>Oh oh ya oh ya oh ya bongkar<br />
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar<br />
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar<br />
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar</p>
<p>Dalam Bongkar, kaum yang tertindas pada awalnya diperlihatkan memiliki keberanian menyuarakan keinginannya untuk mengubah keadaan. Akan tetapi, menjelang akhir lirik, pertentangan kelas yang dilakukan di jalan itu ditarik ke dalam rumah, yaitu pada kehidupan rumah yang tidak harmonis. Rumah dalam lirik ini merupakan analogi sebagai keadaan negara atau pemerintahan yang diacu di bagian awal lirik. Jika pemerintahan dianalogikan sebagai rumah Dalam rumah ada orang tua yang juga dapat dianalogikan sebagai pemimpin atau pemerintahan.<br />
Karena pemerintah dianalogikan sebagai keluarga, seolah-olah menjadi sebuah kemustahilan untuk melakukan perlawanan. Melalui analogi semacam itu, pertentangan kelas pun tidak terlihat frontal. Seperti halnya dalam keluarga, harmoni tetap dijaga, meskipun terjadi perselisihan-perselisihan dalam keluarga. Kata cinta dan keinginan diperlakukan manusiawi yang muncul pada lirik puisi, mengurangi tegangan emosi yang terdapat pada larik-larik sebelumnya sehingga perlawanan menjadi lebih “halus”.<br />
Ungkapan Kok Bisa? Bisa kok! yang mengakhiri lirik lagu ini dapat dimaknai sebagai sebuah keingintahuan akan sebuah jawaban. Pertanyaan Kok Bisa? meragukan kemungkinan melawan “orang tua” tetapi jawaban Bisa kok! memberikan nada optimis bahwa perlawanan mungkin untuk dilakukan.<br />
Pertentangan kelas yang halus dan tidak frontal tersebut didukung oleh persamaan antara kedua kelas. Kedua kelas yang tampaknya berseberangan dan berbeda ini ternyata memaknai keberhasilan dan kesuksesan dari segi materi, yaitu rumah, mobil, harta, dan kedudukan. Hal ini terlihat jelas dalam lirik lagu Oh ya  dan Bento. Kelas bawah dalam Oh ya  bermimpi naik mobil dan bukan bus, memiliki rumah dan bukan gubuk, menjadi direktur dan bukan penganggur, serta mendapat uang banyak dari lotere sehingga tidak lagi menjadi kere. Sementara Bento sesumbar bahwa rumahnya adalah rumah real estate, mobilnya banyak, hartanya berlimpah dan jabatannya boss eksekutif serta tokoh papan atas.<br />
Kedua kelas juga sama-sama diperlihatkan diperbudak oleh obsesi dan ambisi mereka. Dalam Potret diperlihatkan bahwa orang-orang dari kelas bawah ini resah karena mereka harus mengejar nafkah hidup mereka. Mereka bahkan ditampilkan sangat terobsesi dengan pencarian nafkah hidup tersebut, sebagaimana terlihat dalam pemakaian pertanyaan Uang dimana uang? dan nasi dimana nasi? sebagai refrain lagu.<br />
Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?<br />
Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?</p>
<p>Obsesi itu begitu menguasai mereka sehingga mereka ditampilkan telah kehilangan kemanusiaan mereka. Mereka dibandingkan dengan hewan dan dengan kereta api.<br />
Seperti binatang<br />
Bila lapar menerjang<br />
Seperti kereta<br />
Nafasnya terdengar</p>
<p>Lidahnya terjulur<br />
Syahwatnya siap lentur<br />
Soal harga diri<br />
Sudah tak berarti</p>
<p>Orang-orang yang terobsesi oleh urusan perut dan nafkah ini diperlihatkan seperti binatang yang dikuasai rasa lapar, dikuasa insting dan bukan lagi rasio. Mereka dibandingkan dengan kereta yang nafasnya memburu dan seperti binatang yang dikuasai nafsu: nafasnya memburu, lidahnya terjulur dan syahwatnya siap lentur. Lebih jauh lagi secara gamblang dinyatakan bahwa mereka tidak lagi peduli soal harga diri sebab yang ada dalam pikiran mereka semata-mata adalah mendapatkan uang dan nasi.<br />
Obsesi kelas atas diperlihatkan dalam Bento. Bagi orang macam Bento, bukan uang dan nasi yang dicari karena ia sudah memiliki kemewahan dan kelimpahan dalam segala hal.<br />
Namaku Bento rumah real estate<br />
Mobilku banyak harta berlimpah</p>
<p>Rumahnya bukan di kampung, tetapi di real estate yang menunjukkan bahwa ia merupakan bagian dari kelas atas. Dengan mobil yang banyak dan harta berlimpah tentu saja kebutuhan Bento bukan lagi pada kebutuhan tahap primer, berbeda dari orang-orang resah yang dipotret dalam lirik lagu Potret.<br />
Bento direpresentasikan sebagai orang yang dikuasai dan diperbudak oleh nafsunya.<br />
Bisnisku menjagal jagal apa saja<br />
Yang penting aku senang aku menang</p>
<p>Persetan orang susah karena aku<br />
Yang penting asyik sekali lagi</p>
<p>Asyik</p>
<p>Obsesinya adalah mendapatkan apa saja yang dia inginkan karena hal itu mendatangkan kesenangan dan keasyikan, meskipun cara yang dipakai adalah dengan melakukan berbagai tindakan yang merugikan orang lain (Bisnisku menjagal jagal apa saja). Pengulangan kata asyik menekankan bahwa keasyikan dan kesenangan untuk meraih apapun yang dia inginkan sudah begitu menguasai Bento sehingga ia menjadi tidak lagi manusiawi.<br />
Dehumanisasi juga muncul di dalam lirik lagu Bongkar. Di sini penguasa diperkuda oleh jabatan yang berarti bahwa penguasa dikuasai oleh obsesi mereka akan jabatan. Obsesi pada jabatan ini membuat mereka kehilangan hati nurani (cinta) yang mengakibatkan mereka tidak dapat memerintah dengan adil dan bahkan menjadi kebal dengan kesedihan orang lain (kesedihan hanya tontonan)<br />
Kalau cinta sudah di buang<br />
Jangan harap keadilan akan datang<br />
Kesedihan hanya tontonan<br />
Bagi mereka yang diperkuda jabatan</p>
<p>Penguasa di dalam lagu ini ditampilkan serupa dengan Bento yang tidak pernah memikirkan penderitaan yang ditimbulkannya akibat ulahnya menjagal bisnis orang lain. Keduanya sama-sama mementingkan diri sendiri dan tidak memiliki hati nurani dan rasa keadilan. Jika melihat bahwa lirik lagu ini mengetengahkan bahwa dehumanisasi terjadi pada kedua kelas yang tampaknya saling berseberangan dan berlawanan, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya kedua kelas masyarakat ini memiliki sifat yang serupa. Kedua kelas tersebut dikuasai oleh obsesi mereka sehingga berfokus pada diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain.<br />
Di samping gagasan pertentangan kelas, gagasan lain yang muncul adalah kecemburuan sosial si miskin kepada si kaya (terutama dalam Oh ya). Meskipun demikian, kelas bawah hanya berani berandai-andai karena sadar akan adanya sekat-sekat yang memisahkan keduanya yang disebutnya sebagai takdir dan nasib. Kepasrahan pada nasib dan takdir memperlihatkan tidak adanya jalan ke luar dari kemiskinan.<br />
Oh ya! Ya nasib<br />
Nasibmu jelas bukan nasibku<br />
Oh ya! Ya takdir<br />
Takdirmu jelas bukan takdirku</p>
<p>Kritik sosial yang diangkat dalam keempat lirik lagu SWAMI I disampaikan melalui nada satiris dan ironis. Lirik lagu  Potret dan Oh Ya mengritik kesenjangan sosial antara dua kelompok masyarakat, yaitu antara si kaya dan si miskin. Dalam dua lirik tersebut, kritik disampaikan secara lunak. Kekayaan dan keberhasilan ternyata hanya milik segelintir orang sementara yang lainnya adalah orang-orang resah yang harus bersusah payah berjuang untuk hidup.<br />
Lirik Oh Ya yang diawali dengan deskripsi kondisi sosial, ditutup dengan larik tanah lahirku aku cinta kau dan Bumi darahku aku cinta engkau. Penyajian tersebut menjadikan kritik sosial tidak tajam. Di satu sisi ada unsur kepasrahan, di sisi lain, ada motivasi untuk tetap mencintai negeri ini bagaimana pun keadaannya.<br />
Berbeda dengan dua lirik lainnya, yaitu Bento dan Bongkar, kritik sosial yang muncul lebih tegas, meski tetap tidak subversif. Dalam kedua lirik lagu tersebut, kritik ditujukan pada kalangan atas yang memiliki kekuasaan yang cenderung menyalahgunakan kekayaan dan kekuasaannya untuk menindas dan memarjinalkan yang lain.<br />
Di balik sosok Bento yang tampan, berkelas dan berkuasa, ia ternyata memiliki sifat seperti “preman” yang “mengancam”, dan “menjagal” tanpa hati nurani. Ironi penguasa sebagai “pengkhotbah moral” dan “guru” yang dipertentangkan dengan aksi “menipu”, dan “mencuri,” menimbulkan kesan sindiran yang tajam pada kelompok penguasa. Pengulangan kata asyik menguatkan kesan bahwa kalangan ini menikmati penindasan yang mereka lakukan terhadap rakyat kecil.<br />
Lirik lagu Bongkar diawali dengan kritik yang cukup tajam karena adanya kesadaran dari kelas bawah untuk membongkar kekuasaan. Kesan sarkastis muncul pada kata-kata “setan yang berdiri mengangkang” ingin dirobohkan. Istilah tersebut ditujukan pada kekuasaan yang menindas. Kata “bongkar” dapat dimaknai sebagai sebuah kritik terhadap penguasa saat terjadi penggusuran-penggusuran yang semakin memarjinalkan kelompok miskin dan tidak berdaya. Kata “bongkar” menjadi “teriakan” penguasa yang tidak peduli pada nasib rakyat kecil, atau dapat pula dimaknai kekuatan kelas bawah yang bisa memiliki “kekuatan” atau “kekuasaan” melakukan perlawanan dan melakukan cara-cara “preman” atau “tidak humanis”, seperti yang dilakukan oleh para penguasa. Akan tetapi di akhir lirik, pemilihan kata “orang tua” sebagai analogi penguasa menyiratkan bahwa yang dilawan adalah orang tua sendiri sehingga perlawanan tidak mungkin dilakukan secara frontal.<br />
Vokalisasi yang bisa saja berubah tempat, antara posisi penindas (Bento) dan yang ditindas (Potret, Oh ya, dan Bongkar), mengurangi ketajaman kritik sehingga menjadi sebuah lirik yang lebih terkesan menghibur daripada menyudutkan pihak tertentu. Mungkin hal tersebut merupakan alasan album SWAMI I dapat diterima masyarakat dan juga pemerintah yang berkuasa pada masa itu.</p>
<p>V. Kesimpulan </p>
<p>Representasi kelas sosial dan pertentangannya diungkapkan melalui peng-ontrasan. Kelas bawah direpresentasikan sebagai rakyat kecil, yang kondisi kehidupannya sangat kontras berbeda dengan kalangan yang menikmati kue pem-bangunan. Dua kelas ini merupakan pencerminan kondisi sosial di era Orde Baru, di mana pertumbuhan ekonomi cukup baik, tetapi terdapat kesenjangan sosial yang lebar, antara kelompok yang sukses dan kelompok masyarakat yang terpuruk atau tertinggal dalam pembangunan.<br />
Kelas atas ditampilkan sebagai orang-orang yang menikmati kue pembangunan, punya banyak uang, punya harta dan rumah mewah, punya jabatan tinggi, berkuasa, bisa ber-buat semaunya, hidup enak dan nyaman. Mereka asyik dengan kenikmatan hidupnya sendiri, dan tidak perduli dengan hidup orang lain yang ditindas atau menjadi korban aksi manipulasinya.<br />
Pertentangan kedua kelas tersebut diungkapkan dengan mengkontraskan kondisi sosial, harapan dan kenyataan antara kedua kelas tersebut. Kesenjangan sosial antara kedua kelas itu tak terjembatani karena tidak ada cara yang dapat ditempuh oleh kelompok masyarakat miskin untuk dapat meningkatkan status sosial mereka.<br />
	Keempat lirik lagu SWAMI I memperlihatkan adanya pertentangan kelas dengan nuansa yang berbeda-beda. Pertentangan kelas yang tercermin di dalam keempat lagu ini berbeda dari pengertian Marxis karena tidak bersifat revolusioner model Eropa. Walaupun terdapat nada ketidakpuasan dan keinginan untuk memberontak, kelas bawah dalam lirik lagu tetap menganggap penguasa sebagai orang tua dan tetap mencintai negara dan bangsanya.<br />
Ajakan untuk membongkar tidak ditujukan secara langsung kepada penguasa, tetapi pada penindasan dan kesewenang-wenangan, ketidakpastian dan keserakahan. Tidak ada nama atau figur spesifik nyata yang disebut dalam keempat lirik lagu.<br />
Jadi ajakan untuk membongkar adalah membongkar sistem nilai yang dirasakan tidak adil, bukan membongkar atau merobohkan kekuasaan. Meskipun muara sistem nilai itu pada akhirnya berada pada penguasa dan pemilik kapital besar. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh kehadiran Setiawan Djodi sebagai penyandang dana dalam grup Swami.</p>
<p>DAFTAR PUSTAKA</p>
<p>Adian, Donny Gahral. 2006. Percik Pemikiran Kontemporer: Sebuah Pengantar Komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.</p>
<p>Boangmanalau, Singkop Boas. 2008. Marx, Dostoievsky, Nietzsche: Menggugat Teodisi dan Merekonstruksi Antropodisi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.</p>
<p>Budianta, Melani. 2000. “Discourse of Cultural Identity in Indonesia During the 1997-1998 Monetary Crisis,” Inter-Asia Cultural Studies, vol. 1 no. 1, hlm. 110-127.</p>
<p>Christomy, T., dan Untung Yuwono (ed.). 2004. Semiotika Budaya. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat UI. </p>
<p>Honderich, Ted. 1995. The Oxford Companion to Philosophy. Oxford/New York: Oxford University Press.</p>
<p>Kathryn Woodward. 1999. Identity and Difference. London: Sage Publication.</p>
<p>Storey, John. 2006. Cultural Theory and Popular Culture: an Introduction. Fourth Edition. Athens, Georgia: The University of Georgia Press.</p>
<p>Tabloid Bintang No 293/Th. VI, Minggu Kedua, Oktober 1996. </p>
<p>Winters, Jeffrey A. 1999. Dosa-dosa Politik Orde Baru, Jakarta: Penerbit Djambatan.</p>
<p>Hoed, Benny H. 2008. Semiotika dan Dinamika. Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.</p>
<p>Nöth, Wienfried. 1995. Handbook of Semiotics. Indiana: Indiana University Press. Hlm.311-313.</p>
<p>Lampiran 1</p>
<p>Potret<br />
(Iwan Fals / Sawung Jabo / Naniel) –SWAMI</p>
<p>Orang orang resah<br />
Berlomba kejar nafkah<br />
Demi anak bini<br />
Demi sesuap nasi</p>
<p>Kuno kuno memang<br />
Memang memang kuno<br />
Namun kenyataan<br />
Kita butuh soal itu</p>
<p>Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?<br />
Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?</p>
<p>Seperti binatang<br />
Bila lapar menerjang<br />
Seperti kereta<br />
Nafasnya terdengar</p>
<p>Lidahnya terjulur<br />
Syahwatnya siap lentur<br />
Soal harga diri<br />
Sudah tak berarti</p>
<p>Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?<br />
Uang dimana uang?<br />
Nasi dimana nasi?</p>
<p>Pergi kau!<br />
Jangan nasehati aku oh ya!<br />
Pergi kau!<br />
Aku mau uangmu oh ya!<br />
Pergi kau!<br />
Jangan menggurui aku oh ya!<br />
Pergi kau!<br />
Aku mau nasimu oh!</p>
<p>Anak anak kecil tengadahkan tangan<br />
Mainkan tamborin gapai masa depan<br />
Tanah lahirku aku cinta kau<br />
Bumi darahku aku cium engkau</p>
<p>Lampiran 2</p>
<p>Oh&#8230; Ya!<br />
(Iwan Fals &amp; Sawung Jabo) &#8211; SWAMI</p>
<p>Andaikata aku di mobil itu<br />
Tentu tidak di bus ini<br />
Seandainya aku rumah itu<br />
Tentu tidak di gubuk ini</p>
<p>A a a andaikata<br />
Se se se seandainya<br />
Oh ya!</p>
<p>Kalau saja aku jadi direktur<br />
Tentu tidak jadi penganggur<br />
Umpamanya aku dapat lotere<br />
Tentu saja aku tidak kere</p>
<p>Ka ka ka kalau saja<br />
U u u umpamanya<br />
Oh ya!</p>
<p>Oh ya! Ya nasib<br />
Nasibmu jelas bukan nasibku<br />
Oh ya! Ya takdir<br />
Takdirmu jelas bukan takdirku</p>
<p>Oh ya! Ya nasib<br />
Nasibmu jelas bukan nasibku<br />
Oh ya! Ya takdir<br />
Takdirmu jelas bukan takdirku</p>
<p>Aku bosan</p>
<p>A a a andaikata<br />
Se se se seandainya<br />
Ka ka ka kalau saja<br />
U u u umpamanya<br />
Oh ya!</p>
<p>Oh ya! Ya nasib<br />
Nasibmu jelas bukan nasibku<br />
Oh ya! Ya takdir<br />
Takdirmu jelas bukan takdirku</p>
<p>Oh ya! Ya nasib<br />
Nasibmu jelas bukan nasibku<br />
Oh ya! Ya takdir<br />
Takdirmu jelas bukan takdirku</p>
<p>La la la<br />
La la la<br />
La la la la la la la la la la la la la</p>
<p>La la la<br />
La la la<br />
La la la la la la la la la la la la la</p>
<p>Lampiran 3:</p>
<p>Bento<br />
(Iwan Fals / Naniel ) -SWAMI</p>
<p>Namaku Bento rumah real estate<br />
Mobilku banyak harta berlimpah<br />
Orang memanggilku bos eksekutive<br />
Tokoh papan atas atas s’galanya. Asyik . . . . . . . . .<br />
Wajahku ganteng banyak simpanan<br />
Sekali lirik oke sajalah<br />
Bisnisku menjagal jagal apa saja<br />
Yang penting aku menang aku senang<br />
Persetan orang susah karena aku<br />
Yang penting asyik. Sekali lagi asyik . . . . . . . . .<br />
Reff:<br />
Khotbah soal moral omong keadilan sarapan pagiku<br />
Aksi tipu-tipu lobbying dan upeti woh . . . jagonya . .<br />
Maling kelas teri bandit kelas coro, itu kan tong sampah<br />
Siapa yang mau berguru, datang padaku<br />
Sebut tiga kali namaku: Bento . . . .Bento . . . . Bento . . . . .<br />
Asyik . . . . . . . ! ! ! ! ! ! Asyik . . . . . .</p>
<p>Lampiran 4:</p>
<p>Bongkar<br />
(Iwan Fals / Sawung Jabo) -SWAMI</p>
<p>Kalau cinta sudah di buang<br />
Jangan harap keadilan akan datang<br />
Kesedihan hanya tontonan<br />
Bagi mereka yang diperkuda jabatan</p>
<p>Oh oh ya oh ya oh ya bongkar<br />
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar</p>
<p>Sabar sabar sabar dan tunggu<br />
Itu jawaban yang kami terima<br />
Ternyata kita harus ke jalan<br />
Robohkan setan yang berdiri mengangkang</p>
<p>Oh oh ya oh ya oh ya bongkar<br />
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar<br />
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar<br />
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar</p>
<p>Penindasan serta kesewenang wenangan<br />
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan<br />
Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan<br />
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan</p>
<p>Dijalanan kami sandarkan cita cita<br />
Sebab dirumah tak ada lagi yang bisa dipercaya<br />
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia<br />
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=114&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/02/02/swami-dan-kritik-sosial/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9a7d927023f818dbbfc586ca6699ccae?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadisejarah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sejarah Industri Musik</title>
		<link>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/01/27/sejarah-industri-musik/</link>
		<comments>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/01/27/sejarah-industri-musik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Jan 2009 06:10:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadisejarah</dc:creator>
				<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[Industri Musik Indonesia dan Sumber Daya Budaya Oleh: Lucky Muhammad Mulyadi   Apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, industri musik Indonesia sebenarnya termasuk yang beruntung. Keberuntungan Indonesia terletak pada akar budaya yang telah ditanamkan sejak orde lama. Peran Soekarno yang dicemooh sebagai pembelengu kebebasan dalam ekspresi seni pasca keruntuhannya, saat ini justru harus dikaji sebagai orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=112&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;"><span style="font-family:Times New Roman;">Industri Musik Indonesia dan Sumber Daya Budaya</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:center;margin:0;" align="center"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Oleh: Lucky Muhammad Mulyadi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Apabila dibandingkan dengan negara-negara lain, industri musik Indonesia sebenarnya termasuk yang beruntung. Keberuntungan Indonesia terletak pada akar budaya yang telah ditanamkan sejak orde lama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Peran Soekarno yang dicemooh sebagai pembelengu kebebasan dalam ekspresi seni pasca keruntuhannya, saat ini justru harus dikaji sebagai orang yang berjasa menggali dan mempertahankan kebudayaan Indonesia dari gempuran budaya asing. Tanpa kebijakannya tersebut, rasanya sulit untuk mengatakan bahwa industri musik Indonesia akan ada pecinta setianya. Meskipun ada fakto-faktor lainnya seperti musisi-musisi Indonesia yang memanfaatkan momentum kebijakan tersebut dengan menciptakan berbagai musik dan lagu yang selaras dengan kebijakan Soekarno.</span></p>
<p><span id="more-112"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Untuk menciptakan kecintaan terhadap musik Indonesia, Soekarno juga mendorong kreativitas musisi dengan mendirikan Lokananta. Suatu perusahaan rekaman negara yang mendokumentasikan dan menyebarluaskan musik-musik Indonesia ke berbagai daerah. Kebijakan Soekarno yang antibarat telah mengakibatkan dominannya lagu-lagu berbahasa Indonesia dan lagu-lagu daerah di tanah air. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Era Soeharto, disengaja atau tidak, juga telah melanjutkan ke-Indonesia-an melalui musik terus berlanjut. Pada era pemerintahan Soeharto inilah industri musik Indonesia semakin berkembang. Soeharto tidak mengeluarkan kebijakan anti barat seperti yang dilakukan Soekarno, tetapi melalui kebijakannya yang menetapkan TVRI sebagai satu-satunya stasiun tv di Indonesia, telah menjaga keberuntungan industri musik Indonesia. Keberuntungan tersebut disebabkan TVRI hanya menyiarkan musik-musik Indonesia. TVRI merupakan media yang paling efektif untuk mengiklankan, secara tersembunyi, musik Indonesia sampai ke pelosok daerah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dibandingkan dengan negara tetangga, misalnya Malaysia dan Filipina pelaku industri musik di Indonesia seharusnya menyadari adanya kekuatan sumber daya budaya bangsa Indonesia dalam hal musik. Malaysia sudah digempur oleh label asing sejak tahun 1960-an, dalam ukuran industri karya-karya lokal Malaysia dapat dikatakan tidak berkembang terlalu baik. Pasar lokal mereka dikuasai oleh label asing. Pasar industri musik Malaysia sendiri sejak tahun 1960-an sudah menjadi pasar bagi industri musik Indonesia. Saat ini para pelaku industri musik di Malaysia sedang menunggu diberlakukannya ketentuan untuk membatasi lagu-lagu asing, termasuk. lagu Indonesia. Industri musik Malaysia menganggap perlu melindungi dirinya dari serbuan asing. Meskipun dilihat dari kacamata “semangat jaman” kebijakan pelaku industri Malaysia itu sudah tidak cocok lagi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Filipina meskipun terkenal dengan kemampuan musisi dan penyanyinya yang banyak main di berbagai club dan hotel mancanegara ternyata tidak berdaya dalam industri musiknya sendiri. Sampai akhirnya beberapa musisi Filipina meminta kebijakan Presiden Marcos untuk memutar satu lagu Filipina dalam satu jam siaran di radio-radio swasta di Filipina. Hal itu disebabkan stasiun-stasiun radio di Filipina dalam jam siarnya hampir secara penuh menyiarkan lagu berbahasa Inggris dari penyanyi asing. Pada saat presiden Aquino, kebijakan itu berubah menjadi tiga lagu untuk satu jam siaran. Karena akar budaya yang tidak kuat dalam musik pop nya generasi muda Filipina lebih menyenangi musik barat daripada musiknya sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dengan kenyataan seperti itu, harus dipertimbangkan berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh generasi muda Malaysia dan Filipina untuk belanja musik pop asing. Dalam kasus di Malaysia, betapa frustasinya pelaku industri musik di Malaysia sehingga melemahkan semangat daya cipta mereka dan meminta kekuasaan pemerintah bertindak melindungi<span>  </span>pasar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Akar musik nasional yang telah ditanamkan oleh Soekarno hampir sama dengan yang terjadi di Korea Selatan. Pada tahun 1960-1970-an<span>  </span>pemerintah Korea Selatan juga melakukan kebijakan yang sama dengan kebijakan Soekarno. Bedanya, di Indonesia pelarangan dilakukan saat kebudayaan Barat belum masuk secara intens, sementara di Korea Selatan pelarangan dilakukan ketika musik asing sudah intens sejak tahun 1950an. Pemerintah Korea Selatan pada tahun 1960-1970an menganggap bahwa generasi mudanya telah terpengaruh oleh budaya yang tidak sehat, seperti penggunaan rok mini dan gaya rambut yang kebaratan-baratan, dan terutama nyanyian yang tidak sehat. Untuk itu pemerintah melarang musik asing dan dikembangkanlah musik yang harus mencerminkan identitas nasional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Langkah yang ditempuh Orde Lama dan Pemerintah Korea Selatan dalam melindungi kebudayaannya telah menghasilkan sesuatu yang sama pula yaitu Indonesia dan Korea Selatan sama-sama memiliki akar budaya yang kuat. Akan tetapi, kita tidak seperti Korea Selatan yang telah mendunia melalui K-pop nya. Lewat akarnya yang kuat, ditunjang oleh manajemen yang baik, dan dukungan pemerintah, Korea Selatan telah berhasil menapaki industri musik dunia. Ini tentu bukan keberuntungan, melainkan kerja keras dan kecerdasan membaca pasar.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Seperti halnya Korea Selatan, industri musik Indonesia mempunyai modal sumber daya budaya yaitu bangsa Indonesia sebagai konsumen yang setia pada musiknya dan musisi yang kreatif. Akan tetapi,<span>  </span>hal tersebut tidak akan menunjukkan tingkat keberartian apabila tidak ditunjang manajemen yang baik dan dukungan pemerintah. Masalah-masalah klasik dalam industri musik harus segera dibenahi seperti pembajakan misalnya, dalam penelitian Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya Universitas Indonesia (PPKB-UI) pada tahun 2005 telah memperlihatkan bahwa 46,50% konsumen musik di berbagai daerah sampel yang diteliti menyatakan bahwa mereka membeli musik bajakan. Angka ini kemungkinan terus bertambah, dan harus segera diambil tindakan “tanpa ampun” apabila pemerintah serius ingin mengembangkan industri kreatif.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Apabila dikaitkan dengan isu “industri musik Indonesia kiamat” yang salah satunya ditandai dengan penurunan angka penjualan album rekaman nasional, sebetulnya hanya menunjukkan adanya pergeseran dan perubahan saja. Pergeseran terjadi dari nasional menuju lokal. Munculnya indie label di berbagai daerah di Indonesia yang mempunyai pasar tidak hanya di dalam komunitas lokalnya melainkan sampai ke luar negeri. Indie label disini tidak hanya diartikan sebagai kelompok musik tertentu, melainkan segala kelompok musik, termasuk musik pop berbahasa daerah dan musik tradisional. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PPKB-UI di beberapa daerah di Indonesia yang sebelumya tidak mengenal industri rekaman, sejak sekitar lima tahun yang lalu mulai memperlihatkan hal yang berbeda. Teknologi yang semakin murah dan familiar telah menyebabkan minat masyarakat untuk membuat rekaman sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kemunculan tv swasta lokal di berbagai daerah juga telah menyuburkan industri musik di daerah. Tv-tv swasta lokal di Bandung tentunya selalu memerlukan lagu-lagu berbahasa Sunda, penyanyi dan band-band lokal. Tv swasta lokal di Bali menampilkan artis lokalnya seperti Widi Widiane atau Lolot, demikian juga halnya J-TV di Jawa Timur Sony Joss menjadi bintangnya di sana. Munculnya lokalitas mungkin menjadi salah satu sebab mengapa angka penjualan album nasional menurun. Tetapi, di sisi lan telah menunjukkan adanya aktivitas industri rekaman di daerah yang angka penjualan sering tidak tercatat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Sementara perubahan yang terjadi adalah dalam bentuk wujud musik, masa kaset dan cd hampir berlalu. Saat ini, wujud perdagangan musik yang berkembang di Indonesia adalah melalui internet dan Ring Back Tone (RBT). Dengan bergesernya konsumen kepada internet dan RBT telah memotong beberapa jalur distribusi industri, seperti distributor dan toko-toko kaset. Dan jelas menurunkan angka penjualan album rekaman dalam bentuk konvensional. Selain itu, saat ini produser rekaman harus berbagi keuntungan dengan provider telepon seluler. Akan tetapi, apakah angka penjualan secara keseluruhan dengan demikian dapat dikatakan menurun? Juga penghasilan artis apakah menurun?<span>  </span>Gejala penurunan angka penjualan album rekaman memang menurun secara global, tetapi angka penjualan digital secara global juga mulai menunjukkan trend yang meningkat. HP yang pernah dituduh sebagai salah satu penyebab turunnya penjualan album, karena generasi muda lebih banyak mengalokasikan dananya untuk pulsa daripada membeli lagu, ternyata telah menjadi penyelamat. Generasi muda adalah konsumen utama RBT. Selain itu,<span>  </span>RBT bebas dari pembajakan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Dengan demikian pergeseran dan perubahan dalam industri musik inilah yang patut dicermati pelaku industri rekaman. Kiamat bagi musik industri musik Indonesia dapat terjadi apabila masyarakat Indonesia sudah tidak mau mendengarkan dan tidak mempunyai kreativitas dalam bermain musiknya. Hal itu dimungkinkan dengan serbuan musik asing, bukan hanya Barat, yang semakin gencar ke Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Kegairahan anak-anak muda dalam skala nasional maupun daerah dalam bermusik harus disikapi sebagai peluang dalam industri musik. Penggalian dan pemasaran sumber daya budaya dalam industri musik harus dilakukan terus menerus. Bahkan harus dipikirkan secara serius untuk mengekspor musik Indonesia. Bukan hanya bertahan dari serbuan-serbuan musik asing. Keberhasilan mengekspor musik ke luar negeri akan membangkitkan kebanggaan. Umpan baliknya masyarakat kita akan semakin bangga terhadap musiknya.<span>  </span>Korea bisa, kenapa kita tidak bisa? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Lucky Muhammad Mulyadi, Peneliti Industri Budaya, dosen Sejarah Unpad.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;">Tulisan dimuat di Seputar Indonesia tanggal 10 November 2008</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/112/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/112/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/112/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=112&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2009/01/27/sejarah-industri-musik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9a7d927023f818dbbfc586ca6699ccae?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadisejarah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Broery Pesolima</title>
		<link>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2008/07/27/broery-pesolima/</link>
		<comments>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2008/07/27/broery-pesolima/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 05:07:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadisejarah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[In Memoriam Broery Pesolima     Oleh Muhammad Mulyadi       Lelaki pemilik suara berat dan jernih dengan gaya penampilannya yang mantap di atas panggung ini adalah seorang penyanyi yang punya banyak penggemar di Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Terlahir dengan nama Simon Domingus Pesolima pada 25 Juni 1944, itulah Broery Pesolima. Ketika pertama kali [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=56&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:18pt;color:#0000ff;font-family:Gautami;">In Memoriam Broery Pesolima</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Oleh Muhammad Mulyadi</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Lelaki pemilik suara berat dan jernih dengan gaya penampilannya yang mantap di atas panggung ini adalah seorang penyanyi yang punya banyak penggemar di Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Terlahir dengan nama Simon Domingus Pesolima pada 25 Juni 1944, itulah Broery Pesolima.</span></span></strong></p>
<p><span id="more-56"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Ketika pertama kali populer di Indonesia menggunakan nama Broery Marantika. Pernah juga menjadi Broery Abdullah. Perubahan nama itu karena pada saat itu usia enam tahun Broery tinggal dengan paman dari pihak ibunya yang mempunyai fam (marga) Marantika. Bahkan Broery menjadi anak angkat pamannya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Nama Marantika hanya digunakan Broery dari awal meniti kariernya menjadi penyanyi sampai menuju puncak popularitas pada awal tahun 1970-an. Perubahan nama belakang dari pesolima menjadi Marantika ini membuat Broery mau tidak mau harus menghadapi protes ayah kandungnya, yang menganggap penggunaan nama Marantika membuat silsilah keluarga menjadi kacau. Padahal Broery berpendapat bahwa pemakaian nama Marantika adalah hanya untuk kepentingan komersial semata. Perbedaan pendapat itu sempat berlanjut sampai ke pengadilan di Ambon. Namun akhirnya Broery mengalah terhadap kemauan ayahnya dan kembali menggunakan nama belakang Pesolima pada 1974.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Broery sempat menggunakan nama Abdullah pada tahun 1981 sampai 1985. Ketika Broery menikah dengan Anita Serawak, seorang penyanyi asal Malaysia. Pernikahan dilakukan secara Islam dan Broery memakai nama belakang Abdullah. Setelah bercerai dengan Anita Serawak pada 31 Desember 1985, pada tahun 1986 Broery kembali menggunakan nama belakang Pesolima. Nama itu sampai akhir hayatnya tetap dipakai.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Awal Karier</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Saat masih tinggal dengan orangtuanya, Broery mendapat pengaruh musik dari sang ayah yang mempunyai pengetahuan seni. Karena ayah Broery sering menjadi konduktor paduan suara gereja serta senang mendengarkan lagu-lagu Barat. Hal ini menjadikan Broery kecil lebih banyak mengenal lagu Barat ketimbang lagu Indonesia.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Kemudian, saat tinggal dengan pamannya yang seorang pendeta telah mendekatkan Broery dengan musik gereja. Broery menjadi anggota koor gereja terkecil.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Bakat sesunguhnya dari Broery Pesolima semakin terlihat ketika pada usia delapan tahun pindah ke Jakarta. Di kota Jakarta lah Broery dibesarkan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Pada masa remaja remaja, Broery mulai mencoba tampil di panggung dengan band Vilamita. Bersama kelompok ini, Broery berkesempatan tampil di berbagai tempat pesta. Dari mulai pesta perkawinan sampai pesta dansa anak muda. Saat itu, tahun 1960-an, pada umumnya hamper setiap pesta anak muda kelas atas selalu menampilkan band. Broery yang ketika itu pelajar SMA PSLD I Jakarta, mulai tampil menjelajah dari satu pesta ke pesta lainnya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Satu lagu latihannya enam bulan</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Lulus SMA Broery kemudian bergabung dengan band Anagatha. Ketika bergabung dengan band inilah ia mendapatkan pengalaman yang tidak mengenakkan yang dikenang selama hidupnya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Pengalaman tersebut adalah disoraki dan dilempar oleh penonton pada suatu pesta anak muda di kawasan Senayan Jakarta. Pengalaman pahit lainnya yang diingat selalu olehnya adalah ketika melamar menjadi penyanyi di perusahaan rekaman Irama.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Di perusahaan tersebut Broery dites oleh beberapa penyanyi dan musisi dengan kualitas terbagus saat itu seperti Mus Mualim, Nurseha, Alfian, dan Oni Suryono. Salah satu dari mereka, yaitu Mus Mualim menyuruhnya untuk menyanyikan lagu Ayam den Lapen tanpa iringan musik.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Hal itu menyulitkan Broery karena dia tidak terbiasa menyanyikan lagu Indonesia. Semua yang hadir di studio menertawakan Broery. Setelah menjalani tes tersebut, Broery diminta dating lagi seminggu kemudian untuk dites ulang. Minggu berikutnya Broery dites untuk menyanyikan lagu Ayam den Lapeh lagi. Hal itu terjadi berkali-kali, dalam jangka waktu kira-kira enam<span>  </span>bulan menyanyikan lagu<span>  </span>Ayam den Lapeh tanpa pernah ada keputusan.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Sikap Positif</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Peristiwa pahit itu menjadi cambuk bagi Broery untuk meningkatkan kualitas suara dan penampilannya. Suatu sikap positif yang pantas ditiru oleh penyanyi yang sedang meniti karier<span>  </span>yakni adanya sikap kesadaran dalam berproses. Broery yakin kejadian-kejadian itu merupakan suatu proses<span>  </span>untuk mencapai cita-citanya sebagai penyanyi. Oleh karena itu, Broery tegar menjalani berbagai cobaan tersebut. Bahkan untuk memantapkan dan memfokuskan langkahnya di dunia tarik suara, dia keluar dari kuliahnya di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Indonesia.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Pada tahun 1964 Broery<span>  </span>pernah mengikuti kejuaraan Bintang Radio di Ambon. Dalam kejuaraan tersebut Broery menjadi juara III untuk kategori hiburan. Kemudian pada tahun 1968 dia mengikuti Festival<span>  </span>Pop Singer di Jakarta dan menjadi juara II, festival itu merupakan titik terang menuju popularitas. Kepopuleran Broery semakin melejit setelah terpilih sebagai favorit kedua dalam angket siaran ABRI.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Pada angket tersebut Broery hanya berada satu tingkat di bawah Muchsin Alatas, yang pada saat itu menjadi raja musik pop.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Kepopuleran Broery dikukuhkan dengan dua kali menjuarai Festival Lagu Pop Tingkat Nasional. Dalam festival tahun 1973 Broery menjadi juara juara pertama setelah dengan manis membawakan lagu <em>Gubahanku</em> ciptaan Gatot Sunyoto. Pada<span>  </span>tahun berikutnya kembali menjadi juara pertama lewat lagu yang berjudul <em>Cinta</em> ciptaan Titik Puspa.<span>  </span>Namun diantara manisnya menjuarai festival tingkat nasional, Broery<span>  </span>mengalami pula kegagalan. Hal itu terjadi pada tingkat internasional. Ketika dirinya gagal menjadi juara pada festival Lagu Pop di Tokyo tahun 1974 dan 1975.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Di antara kegiatannya dalam berbagai festival dan musik panggung, secara perlahan namun pastiBroery tetap berupaya untuk menjadi penyanyi rekaman.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Pada tahun 1967 setelah melalui tes, Broery bergabung dengan The Pro’s yang terdiri dari Enteng Tanamal, Dimas Wahab, Fuad dan Pomo. Setahun kemudian The Pro’s mengeluarkan album<span>  </span><em>Danny Boy</em> yang terjual sebanyak 6.000 keping. Pada tahun 1960-an angka tersebut merupakan suatu jumlah penjualan yang sangat besar. Sebagai vokalis Band the Pro’s, Broery kemudian mendapat julukan “Danny Boy”.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Sukses dalam berkarier sebagai anak band, diikuti pula dengan suskses sebagai penyanyi solo. Hal itu diawali Broery dengan merekam lagu <em>Angin Malam</em> karya<span>  </span>A Riyanto pada tahun 1970. Album lagu itu terjual sebanyak 3.000 keping dan menghasilkan piringan emas bagi Broery. Lagu tersebut merupakan <em>theme song </em><span> </span>untuk film yang dibintangi dirinya yaitu film <em>Akhir Sebuah Impian</em>. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Selama berkarier dengan band The Pro’s, Broery berkesempatan melanglang buana ke berbagai Negara. Antara lain bermain di Singapura selama satu tahun pada tahun 1968. Kemudian selama tahun 1971 Broery bersama The Pro’s bermukim di New York, Amerika Serikat, untuk menjadi <em>home band </em><span> </span>Restoran Ramayana.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Dalam bidang rekaman, pretasi Broey ternyata memiliki catatan internasional. Rekaman lagunya di Singapura telah dilaksanakan pada tahun 1975. Lagu yang berjudul<span>  </span><em>Hapuslah Air Matamu</em> dinyanyikan dalam tiga bahasa, yaitu Inggris, Italia, dan Spanyol. Kemudian pada tahun 1981<span>  </span>Broery pernah dikontrak oleh WEA (Warner Bros, EMI, Atlantic), sebuah perusahaan rekaman raksasa di Amerika Serikat.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Di tengah kepopulerannya, Broery justru menenggelamkan diri dalam kesibukan yang lain. Sejak perkawinannya dengan Anita Serawak pada tahun 1981, dia menarik diri dari dunia tarik suara. Alasannya Anita Serawak lebih super star, sehingga lebih pantas untuk terus maju, Broery merasa dirinya tidak pantas berlomba untuk menjadi bintang dengan Anita Serawak. Karena itu, dia lebih memfokuskan diri pada dunia bisnis. Tanpa diketahui bisnis apa yang dikerjakannya pada saat itu. Yang jelas kegiatannya meliputi tiga Negara, yaitu Singapura, Malaysia dan Indonesia. Kesibukannya itu menyebabkan Broery kehilangan kontak dengan penggemarnya di Indonesia.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Akan tetapi, usia perkawinannya dengan Anita Serawak ternyata hanya berlangsung selama lima tahun. Pada Desember 1985 pasangan ini resmi mengumumkan<span>  </span>perceraiannya. Broery kemudian kembali menetap di Indonesia. Pada saat kembali ke Indonesia, dia menyatakan sudah siap menjadi gelandangan karena rumahnya yang di Jakarta sudah tidak layak ditinggali, seperti gudang katanya.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Didatangi Rinto</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Bisnis yang ditekuni Broery tidak berkembang dan dia berpendapat sudah kehilangan kemampuannya dalam bernyanyi. Namun di luar dugaan, Broery didatangi Rinto Harahap yang menawarkan untuk menyanyikan lagu ciptaannya yang berjudul <em>Aku Jatuh Cinta. </em><span> </span>Rinto bahkan menegaskan bahwa lagu itu hanya ingin dinyanyikan oleh Broery.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Kepercayaan dari Rinto merupakan tantangan bagi Broery, karena itu Broery berupaya untuk tidak mengecewakan kepercayaan yang diberikan Rinto Harahap.<em> </em>Pada awal penerimaan tersebut, Broery sebenarnya mengakui pesimis akan bisa <em>come back</em> ke dunia tarik suara. </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Namanya sudah hilang dari percaturan musik Indonesia hamper selama lima tahun, dengan begitu Broery berpikir sulit untuk kembali menuju tangga popularitas yang pada saat itu dihuni oleh banyak penyanyi yang lebih muda. Sedangkan usianya pada saat mencoba <em>come back</em>-nya dibilang tidak muda lagi.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Tetapi pemikiran Broery itu ternyata salah, albumnya yang berjudul <em>Aku Jatuh Cinta </em>seolah mendekatkan kembali Broery dengan penggemarnya. Broery semakin dekat kembali dengan penggemarnya setelah lebih aktif memunculkan beberapa album rekaman selanjutnya. BERSAMBUNG</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-48pt;margin:0 0 0 48pt;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">R Muhammad Mulyadi. Dosen Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-48pt;margin:0 0 0 48pt;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;"> </span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-48pt;margin:0 0 0 48pt;"><strong><span style="color:#0000ff;font-family:Gautami;"><span style="font-size:small;">Tulisan ini dimuat di Harian Umum Galamedia 11 April 2000.</span></span></strong></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=56&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2008/07/27/broery-pesolima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9a7d927023f818dbbfc586ca6699ccae?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadisejarah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jawa; Sejarah Budaya; Denys Lombard</title>
		<link>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2008/07/11/jawa-sejarah-budaya-denys-lombard/</link>
		<comments>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2008/07/11/jawa-sejarah-budaya-denys-lombard/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jul 2008 02:17:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>luckymulyadisejarah</dc:creator>
				<category><![CDATA[ilmu sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[Resensi buku]]></category>
		<category><![CDATA[sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[    Judul Asli Le Carrefour Javanais Essai d H’Histoire Globale Judul Buku (terjemahan) Nusa Jawa Silang Budaya Penulis Denys Lombard Penerbit PT Gramedia Tahun Terbit 1996     Mengkaji Sejarah Cara Denys   Oleh : R Muhammad Mulyadi   Karya Denys Lombard ini terdiri dari tiga jilid dengan anak judul yang berbeda pada setiap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=39&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<table class="MsoTableGrid" style="border-collapse:collapse;margin:auto auto auto 41.4pt;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr style="height:29.25pt;">
<td style="width:174.75pt;height:29.25pt;background-color:transparent;border:#ece9d8;padding:0 5.4pt;" width="233" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Judul Asli</span></span></span></p>
</td>
<td style="width:191.25pt;height:29.25pt;background-color:transparent;border:#ece9d8;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Le Carrefour Javanais Essai d H’Histoire Globale</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:14.25pt;">
<td style="width:174.75pt;height:14.25pt;background-color:transparent;border:#ece9d8;padding:0 5.4pt;" width="233" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Judul Buku (terjemahan)</span></span></span></p>
</td>
<td style="width:191.25pt;height:14.25pt;background-color:transparent;border:#ece9d8;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Nusa Jawa Silang Budaya</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:14.25pt;">
<td style="width:174.75pt;height:14.25pt;background-color:transparent;border:#ece9d8;padding:0 5.4pt;" width="233" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Penulis </span></span></span></p>
</td>
<td style="width:191.25pt;height:14.25pt;background-color:transparent;border:#ece9d8;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Denys Lombard</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:14.25pt;">
<td style="width:174.75pt;height:14.25pt;background-color:transparent;border:#ece9d8;padding:0 5.4pt;" width="233" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Penerbit</span></span></span></p>
</td>
<td style="width:191.25pt;height:14.25pt;background-color:transparent;border:#ece9d8;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">PT Gramedia</span></span></span></p>
</td>
</tr>
<tr style="height:14.25pt;">
<td style="width:174.75pt;height:14.25pt;background-color:transparent;border:#ece9d8;padding:0 5.4pt;" width="233" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Tahun Terbit</span></span></span></p>
</td>
<td style="width:191.25pt;height:14.25pt;background-color:transparent;border:#ece9d8;padding:0 5.4pt;" width="255" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">1996</span></span></span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="font-size:16pt;color:#ff0000;font-family:Arial;">Mengkaji Sejarah Cara Denys</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0;"><strong><span style="font-size:16pt;color:#ff0000;font-family:Arial;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;margin:0;" align="center"><strong><span style="color:#ff0000;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Oleh : R Muhammad Mulyadi</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;"><span style="font-size:small;font-family:Times New Roman;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Karya Denys Lombard ini terdiri dari tiga jilid dengan anak judul yang berbeda pada setiap jilidnya. Jilid pertama dengan anak judul <em>Batas-batas Pembaratan</em>, yang mengamati dampak dan perkembangan hubungan Jawa dengan Eropa, dengan memaksimalkan sumber-sumber Belanda dan Indonesia. Jilid kedua beranak judul<span>  </span><em>Jaringan<span>  </span>Asia</em> mengamati lingkungan masyarakat urban yang muncul pada abad ke 15. Masyarakat<span>  </span>pedagang itu menjadi saingan bangsa berat bangsa pendatang (terutama Eropa) yang seringkali tidak menyadari kekuatannya. Sumber kajian dalam bab ini antara lain kesustraaan Melayu untuk peranan agama Islam sebagai pembentuk masyarakat baru, dan pendekatan sejarah dan etnografis untuk menilai peranan kaum Cina peranakan. Jilid terakhir beranak judul <em>Warisan-warisan Kerajaan Konsentris</em>, mengkaji peranan negara-negara<span>  </span>yang<span>  </span>pernah berkembang di Jawa Tengah, di Jawa Timur (Majapahit) dan kembali ke Jawa Tengah lagi (Mataram).</span></span></p>
<p><span id="more-39"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Indonesia dan Pulau Jawa khususnya, selama dua ribu tahun sejarahnya telah menjadi sebuah persilangan budaya, peradaban-peradaban yang penting di dunia<span>  </span>(Islam, India, Cina, dan Eropa) bertemu di situ, diterima, diolah, dikembangkan, dan diperbarui. Untuk kalangan ilmuwan, Pulau Jawa merupakan suatu contoh yang luar biasa untuk penelitian konsep-konsep tradisi, pengaruh budaya, kesukuan, dan<span>  </span>akulturasi. Tidak mengherankan Jawa melahirkan karya-karya besar seperti <em>History of Java</em> yang ditulis oleh Thomas Stamford Raffles, Pigeaud menulis <em>Java in the<span>  </span>14<sup>th</sup> Century, a Study in Cultural History</em>, kemudian <em>Religion of Java</em> karya Clifford Geerzt yang menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa antropologi dan sejarah di Cornell University.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Denys Lombard adalah pengajar Asia Tenggara di Paris, sejarah kebudayaan Indonesia bukan barang baru baginya. Bidang kajian ini telah digelutinya hamper selama tigapuluh tahun. Karya beliau terdiri dari sejumlah buku dan artikel dalam berbagai bidang antara lain, Aceh, Sejarah Jawa, Masyarakat Cina Peranakan, serta Bahasa dan Sastra Indonesia.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Dalam ketiga jilid karyanya ini Lombard cenderung mengabaikan peristiwa-peristiwa yang dianggap penting dan klasik bagi sejarah Jawa dan republic. Seperti politik colonial, pergerakan nasional, atau perang melawan penguasa colonial. Pengabaian tersebut dimungkinkan oleh pendekatan sejarah structural. Suatu pendekatan sejarah yang menyatakan bahwa struktur-struktur social yang ada adalah suatu proses perjalanan panjang yang telah berurat berakar. Dengan demikian, walaupun mengalami goncangan-goncangan yang terlihat mengganti struktur yang sudah ada. Namun pada kenyataannya struktur lama masih tetap ada. Misalnya masuknya agama Islamke Jawa tidak menghapuskan struktur yang sebelumnya sudah ada secara total. Masih ada yang Islam sekaligus kejawen. Hal itu menandakan bahwa struktur lama itu tidak hilang begitu saja.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Dalam epilog karyanya Denys Lombard menegaskan bahwa prosedur<span>  </span>yang ditempuhnya bersifat klasifikatoris yang berupaya menonjolkan hal-hal yang tetap (tidak berubah) dalam jangka waktu yang panjang dan menampilkan kontras unsur-unsur pokok masyarakat<span>  </span>Jawa modern. Sebagai contoh dia menunjukkan masih adanya sisa-sisa masyarakat dari fase pra Negara di luar Jawa bahkan di Pulau Jawa sendiri (masyarakat Baduy) dan bias diduga bahwa asal masyarakat tersebut lebih kuno daripada kerajaan-kerajaan konsentris, betapa langgeng unsure-unsur arkais tertentu seperti perlambang macapat, penempatan warna-warna dasar, sistem penanggalan, atau ciri-ciri magis pewayangan dan kaitan antara pengorbanan kerbau dengan pemujaan arwah-arwah mati.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:36pt;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Pendekatan structural yang digunakan harus dipahami dengan melihat latar belakang Denys Lombard sebagai sejarawan Perancis, yang didominasi oleh konvensi historiografi mahzab Annales yang dibentuk oleh Marc Bloch pada tahun 1929. pendekatan ini menginginkan suatu penulisan sejarah secara komprehensif dan multidimensional dalam jangka waktu yang sangat panjang. Oleh karena itu, karya-karya dari mazhab Annales ini biasanya merupakan karya raksasa. Karya Lombard ini saja misalnya, jilid pertama terdiri 309 halaman, jilid kedua terdiri dari 498 halaman, dan jilid tiga 346 halaman, dengan 2.500 catatan kaki, daftar pustaka sebanyak 60 halaman, dan 45 halaman daftar kata, tentunya bukan data kuantitatif itu saja yang menjadikan karya ini digolongkan menjadi karya raksasa, tetapi keluasan isi serta pembahasan yang mendalam harus menjadi pertimbangan utama.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent:-42pt;text-align:justify;margin:0 0 0 42pt;"><span style="color:#ff0000;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">R. Muhammad Mulyadi. Dosen di Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;"> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#ff0000;font-family:Arial;"><span style="font-size:small;">Tulisan ini dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat tanggal 2 Februari 1997.</span></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/luckymulyadisejarah.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=luckymulyadisejarah.wordpress.com&amp;blog=3949344&amp;post=39&amp;subd=luckymulyadisejarah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://luckymulyadisejarah.wordpress.com/2008/07/11/jawa-sejarah-budaya-denys-lombard/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9a7d927023f818dbbfc586ca6699ccae?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">luckymulyadisejarah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
