Posted by: luckymulyadisejarah | July 27, 2008

Broery Pesolima

In Memoriam Broery Pesolima

 

 

Oleh Muhammad Mulyadi

 

 

 

Lelaki pemilik suara berat dan jernih dengan gaya penampilannya yang mantap di atas panggung ini adalah seorang penyanyi yang punya banyak penggemar di Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Terlahir dengan nama Simon Domingus Pesolima pada 25 Juni 1944, itulah Broery Pesolima.

Ketika pertama kali populer di Indonesia menggunakan nama Broery Marantika. Pernah juga menjadi Broery Abdullah. Perubahan nama itu karena pada saat itu usia enam tahun Broery tinggal dengan paman dari pihak ibunya yang mempunyai fam (marga) Marantika. Bahkan Broery menjadi anak angkat pamannya.

Nama Marantika hanya digunakan Broery dari awal meniti kariernya menjadi penyanyi sampai menuju puncak popularitas pada awal tahun 1970-an. Perubahan nama belakang dari pesolima menjadi Marantika ini membuat Broery mau tidak mau harus menghadapi protes ayah kandungnya, yang menganggap penggunaan nama Marantika membuat silsilah keluarga menjadi kacau. Padahal Broery berpendapat bahwa pemakaian nama Marantika adalah hanya untuk kepentingan komersial semata. Perbedaan pendapat itu sempat berlanjut sampai ke pengadilan di Ambon. Namun akhirnya Broery mengalah terhadap kemauan ayahnya dan kembali menggunakan nama belakang Pesolima pada 1974.

Broery sempat menggunakan nama Abdullah pada tahun 1981 sampai 1985. Ketika Broery menikah dengan Anita Serawak, seorang penyanyi asal Malaysia. Pernikahan dilakukan secara Islam dan Broery memakai nama belakang Abdullah. Setelah bercerai dengan Anita Serawak pada 31 Desember 1985, pada tahun 1986 Broery kembali menggunakan nama belakang Pesolima. Nama itu sampai akhir hayatnya tetap dipakai.

 

Awal Karier

Saat masih tinggal dengan orangtuanya, Broery mendapat pengaruh musik dari sang ayah yang mempunyai pengetahuan seni. Karena ayah Broery sering menjadi konduktor paduan suara gereja serta senang mendengarkan lagu-lagu Barat. Hal ini menjadikan Broery kecil lebih banyak mengenal lagu Barat ketimbang lagu Indonesia.

Kemudian, saat tinggal dengan pamannya yang seorang pendeta telah mendekatkan Broery dengan musik gereja. Broery menjadi anggota koor gereja terkecil.

Bakat sesunguhnya dari Broery Pesolima semakin terlihat ketika pada usia delapan tahun pindah ke Jakarta. Di kota Jakarta lah Broery dibesarkan.

Pada masa remaja remaja, Broery mulai mencoba tampil di panggung dengan band Vilamita. Bersama kelompok ini, Broery berkesempatan tampil di berbagai tempat pesta. Dari mulai pesta perkawinan sampai pesta dansa anak muda. Saat itu, tahun 1960-an, pada umumnya hamper setiap pesta anak muda kelas atas selalu menampilkan band. Broery yang ketika itu pelajar SMA PSLD I Jakarta, mulai tampil menjelajah dari satu pesta ke pesta lainnya.

 

Satu lagu latihannya enam bulan

Lulus SMA Broery kemudian bergabung dengan band Anagatha. Ketika bergabung dengan band inilah ia mendapatkan pengalaman yang tidak mengenakkan yang dikenang selama hidupnya.

Pengalaman tersebut adalah disoraki dan dilempar oleh penonton pada suatu pesta anak muda di kawasan Senayan Jakarta. Pengalaman pahit lainnya yang diingat selalu olehnya adalah ketika melamar menjadi penyanyi di perusahaan rekaman Irama.

Di perusahaan tersebut Broery dites oleh beberapa penyanyi dan musisi dengan kualitas terbagus saat itu seperti Mus Mualim, Nurseha, Alfian, dan Oni Suryono. Salah satu dari mereka, yaitu Mus Mualim menyuruhnya untuk menyanyikan lagu Ayam den Lapen tanpa iringan musik.

Hal itu menyulitkan Broery karena dia tidak terbiasa menyanyikan lagu Indonesia. Semua yang hadir di studio menertawakan Broery. Setelah menjalani tes tersebut, Broery diminta dating lagi seminggu kemudian untuk dites ulang. Minggu berikutnya Broery dites untuk menyanyikan lagu Ayam den Lapeh lagi. Hal itu terjadi berkali-kali, dalam jangka waktu kira-kira enam  bulan menyanyikan lagu  Ayam den Lapeh tanpa pernah ada keputusan.

 

Sikap Positif

Peristiwa pahit itu menjadi cambuk bagi Broery untuk meningkatkan kualitas suara dan penampilannya. Suatu sikap positif yang pantas ditiru oleh penyanyi yang sedang meniti karier  yakni adanya sikap kesadaran dalam berproses. Broery yakin kejadian-kejadian itu merupakan suatu proses  untuk mencapai cita-citanya sebagai penyanyi. Oleh karena itu, Broery tegar menjalani berbagai cobaan tersebut. Bahkan untuk memantapkan dan memfokuskan langkahnya di dunia tarik suara, dia keluar dari kuliahnya di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Indonesia.

Pada tahun 1964 Broery  pernah mengikuti kejuaraan Bintang Radio di Ambon. Dalam kejuaraan tersebut Broery menjadi juara III untuk kategori hiburan. Kemudian pada tahun 1968 dia mengikuti Festival  Pop Singer di Jakarta dan menjadi juara II, festival itu merupakan titik terang menuju popularitas. Kepopuleran Broery semakin melejit setelah terpilih sebagai favorit kedua dalam angket siaran ABRI.

Pada angket tersebut Broery hanya berada satu tingkat di bawah Muchsin Alatas, yang pada saat itu menjadi raja musik pop.

Kepopuleran Broery dikukuhkan dengan dua kali menjuarai Festival Lagu Pop Tingkat Nasional. Dalam festival tahun 1973 Broery menjadi juara juara pertama setelah dengan manis membawakan lagu Gubahanku ciptaan Gatot Sunyoto. Pada  tahun berikutnya kembali menjadi juara pertama lewat lagu yang berjudul Cinta ciptaan Titik Puspa.  Namun diantara manisnya menjuarai festival tingkat nasional, Broery  mengalami pula kegagalan. Hal itu terjadi pada tingkat internasional. Ketika dirinya gagal menjadi juara pada festival Lagu Pop di Tokyo tahun 1974 dan 1975.

Di antara kegiatannya dalam berbagai festival dan musik panggung, secara perlahan namun pastiBroery tetap berupaya untuk menjadi penyanyi rekaman.

Pada tahun 1967 setelah melalui tes, Broery bergabung dengan The Pro’s yang terdiri dari Enteng Tanamal, Dimas Wahab, Fuad dan Pomo. Setahun kemudian The Pro’s mengeluarkan album  Danny Boy yang terjual sebanyak 6.000 keping. Pada tahun 1960-an angka tersebut merupakan suatu jumlah penjualan yang sangat besar. Sebagai vokalis Band the Pro’s, Broery kemudian mendapat julukan “Danny Boy”.

Sukses dalam berkarier sebagai anak band, diikuti pula dengan suskses sebagai penyanyi solo. Hal itu diawali Broery dengan merekam lagu Angin Malam karya  A Riyanto pada tahun 1970. Album lagu itu terjual sebanyak 3.000 keping dan menghasilkan piringan emas bagi Broery. Lagu tersebut merupakan theme song  untuk film yang dibintangi dirinya yaitu film Akhir Sebuah Impian.

Selama berkarier dengan band The Pro’s, Broery berkesempatan melanglang buana ke berbagai Negara. Antara lain bermain di Singapura selama satu tahun pada tahun 1968. Kemudian selama tahun 1971 Broery bersama The Pro’s bermukim di New York, Amerika Serikat, untuk menjadi home band  Restoran Ramayana.

Dalam bidang rekaman, pretasi Broey ternyata memiliki catatan internasional. Rekaman lagunya di Singapura telah dilaksanakan pada tahun 1975. Lagu yang berjudul  Hapuslah Air Matamu dinyanyikan dalam tiga bahasa, yaitu Inggris, Italia, dan Spanyol. Kemudian pada tahun 1981  Broery pernah dikontrak oleh WEA (Warner Bros, EMI, Atlantic), sebuah perusahaan rekaman raksasa di Amerika Serikat.

Di tengah kepopulerannya, Broery justru menenggelamkan diri dalam kesibukan yang lain. Sejak perkawinannya dengan Anita Serawak pada tahun 1981, dia menarik diri dari dunia tarik suara. Alasannya Anita Serawak lebih super star, sehingga lebih pantas untuk terus maju, Broery merasa dirinya tidak pantas berlomba untuk menjadi bintang dengan Anita Serawak. Karena itu, dia lebih memfokuskan diri pada dunia bisnis. Tanpa diketahui bisnis apa yang dikerjakannya pada saat itu. Yang jelas kegiatannya meliputi tiga Negara, yaitu Singapura, Malaysia dan Indonesia. Kesibukannya itu menyebabkan Broery kehilangan kontak dengan penggemarnya di Indonesia.

Akan tetapi, usia perkawinannya dengan Anita Serawak ternyata hanya berlangsung selama lima tahun. Pada Desember 1985 pasangan ini resmi mengumumkan  perceraiannya. Broery kemudian kembali menetap di Indonesia. Pada saat kembali ke Indonesia, dia menyatakan sudah siap menjadi gelandangan karena rumahnya yang di Jakarta sudah tidak layak ditinggali, seperti gudang katanya.

 

Didatangi Rinto

Bisnis yang ditekuni Broery tidak berkembang dan dia berpendapat sudah kehilangan kemampuannya dalam bernyanyi. Namun di luar dugaan, Broery didatangi Rinto Harahap yang menawarkan untuk menyanyikan lagu ciptaannya yang berjudul Aku Jatuh Cinta.  Rinto bahkan menegaskan bahwa lagu itu hanya ingin dinyanyikan oleh Broery.

Kepercayaan dari Rinto merupakan tantangan bagi Broery, karena itu Broery berupaya untuk tidak mengecewakan kepercayaan yang diberikan Rinto Harahap. Pada awal penerimaan tersebut, Broery sebenarnya mengakui pesimis akan bisa come back ke dunia tarik suara.

Namanya sudah hilang dari percaturan musik Indonesia hamper selama lima tahun, dengan begitu Broery berpikir sulit untuk kembali menuju tangga popularitas yang pada saat itu dihuni oleh banyak penyanyi yang lebih muda. Sedangkan usianya pada saat mencoba come back-nya dibilang tidak muda lagi.

Tetapi pemikiran Broery itu ternyata salah, albumnya yang berjudul Aku Jatuh Cinta seolah mendekatkan kembali Broery dengan penggemarnya. Broery semakin dekat kembali dengan penggemarnya setelah lebih aktif memunculkan beberapa album rekaman selanjutnya. BERSAMBUNG

 

R Muhammad Mulyadi. Dosen Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran.

 

Tulisan ini dimuat di Harian Umum Galamedia 11 April 2000.

About these ads

Responses

  1. sambungannya mana??

  2. saya tunggu sambungannya ….

    punya lagu Broery yang judulnya Siti Nurbaya ?

  3. TAK SABAR MENANTI SAMBUNGAN ARTIKEL TUAN. SILA ADAKAN SAMBUNGANNYA…PLEASE!!!!

  4. ibu saya SOETIRAH (almarhum) sangat seang sekali dengan sosok Broery Pesolima/Marantika, saya ingat sekali, kalau di TV pada tahun dibawah 1980 hanya TVRI lah yang dapat menayangkan sosok Broery Pesolima, dan Ibu saya minta kepada Allah SWT agar kelak nanti cucunya menjadi penyanyi seperti suara bahkan postur wajahnya bergaya Broery Pesolima, sekarang Ibu saya telah tiada dan Broery pun telah tiada semoga ada penggantinya seperti Broery bahkan lebih dari itu dinegeri kita ini Indonesia, amin…..

  5. Sy fans berat broery sajak smp.smpai skrg pun stlh usia sy 40 th k kagumn sy tdk pudar….

  6. lau pun usia gw skrg ru 18 thn,
    tpii gw suka bngt’z m lagu’a beliau . . .
    is the best pokok’na . . !!!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: