Posted by: luckymulyadisejarah | June 12, 2008

Resensi Buku: Sejarah Indonesia – Perancis

DATA BUKU

Judul                         

Orang Indonesia dan Orang Perancis:

Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX

Judul Asli

Les Francais et I’Indonesie du XVIe

au XXe siecle

Penulis

Bernard Dorleans

Penterjemah

Tim Penterjemah UI, Parakitri T Simbolon

Jumlah Halaman

 XLII + 644

Penerbit

Kepustakaan Populer Gramedia

Tahun Terbit

September 2006

 

 Menelusuri Kepioniran Prancis di Indonesia

Oleh: Muhammad Mulyadi

 

Historiographi Indonesia yang ditulis oleh orang Eropa memang didominasi sejarawan Belanda. Hal ini disebabkan adanya kaitan historis emosional. Setelah sejarawan-sejarawan Belanda baru kemudian disusul oleh sarjana sejarah dari berbagai Negara Eropa lainnya. Salah satunya adalah para sejarawan Prancis. Nama yang paling dikenal dalam sejarah Indonesia tentu saja Denys Lombard. Sumbangannya dalam sejarah Indonesia adalah mahakaryanya mengenai Sejarah Kebudayaan di Nusantara yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Nusa Jawa Silang Budaya, yang terdiri dari tiga jilid, dan Kerajaan Aceh: Zaman Iskandar Muda.

Selain Denys Lombard, nama-nama sejarawan Prancis lainnya yang cukup akrab dengan historiography Indonesia adalah Anne Lombard, Claude Guillot, Jaques Dumarcay, dan Bernard Dorleans. Kali ini giliran Bernard Dorleans mengetengahkan sumbanganya bagi sejarah Indonesia dengan menuliskan persinggungan antara orang Indonesia dan orang Prancis dari mulai abad 16 sampai abad ke-20. Buku ini merupakan kajian atau “ramuan” dari kumpulan tulisan dari orang-orang Prancis yang singgah ke Nusantara ataupun catatan orang Prancis mengenai orang Nusantara dalam kurun waktu empat abad. Tulisan-tulisan dalam buku ini dapat dikategorikan sebagai sumber primer dalam sejarah. Hanya saja harus dipahami adanya proses pengeditan atau proses lainnya yang dilakukan oleh Bernard Dorleans yang menyebabkan tulisan-tulisan dalam bentuk aslinya tidak ditampilkan secara utuh. Hal ini disebabkan bahwa Bernard Dorleans sebagai seorang sejarawan harus menampilkan masa lalu dengan suatu kerangka pemikiran mengenai apa yang ingin ditulisnya, oleh karena itu dia memilah-milah yang penting dari tulisan-tulisan masa lampau tersebut sesuai kerangka pemikirannya. Bukan mengumpulkan, kemudian menerbitkan apa adanya.

 Tulisan dalam buku ini memberikan gambaran nusantara dari ujung timur sampai ke ujung barat. Mulai dari Aceh sampai ke Banda. Tulisan-tulisan tersebut memerikan kebiasaan penduduk setempat, mata pencaharian, makanan, pakaian, bentuk tubuh, dan agama. Gambaran mengenai Nusantara tersebut bersumber dari laporan perjalanan petualangan, wisatawan, hasil reportase wartawan dan ekspedisi ilmiah. Semua tulisan tersebut berhasil diramu dengan apik oleh Bernard Dorleans, sehingga menghasilkan suatu karya sejarah.

Selain mengisahkan berbagai peristiwa yang berkenaan dengan penduduk pribumi di Nusantara, dikisahkan pula mengenai penduduk Nusantara yang tidak berada di lingkungannya namun bersinggungan dengan orang Prancis. Sebagai contoh adalah mengenai orang Makasar di Siam dan perjalanan penduduk Nusantara ke Prancis.  Seperti perjalanan dua pangeran dari Makasar yaitu Daeng Ruru dan Daeng Tulolo yang dikirim ke Prancis oleh kantor dagang Prancis di Siam. Oleh karena status kedua orang tersebut adalah pangeran, maka Raja Louis XIV merasa berkewajiban memenuhi segala kebutuhan mereka. Sehingga kedua pangeran tersebut dikirimkan ke sekolah militer angkatan laut yang paling bergensi di Prancis, kemudian mereka mengabdi di Angkatan Laut Kerajaan Prancis.

Selain banyak memberikan informasi baru, sumbangan paling penting buku ini bagi sejarah Indonesia adalah memberikan persfektif dengan citra rasa yang berbeda dengan penulis-penulis Belanda mengenai sejarah Nusantara. Perbedaan tersebut disebabkan adanya penggunaan sumber yang berbeda, tulisan-tulisan masa lampau yang dihasilkan orang-orang Prancis mengenai Nusantara tidak dibatasi oleh sekat-sekat kekuasaan. Berbeda dengan sumber-sumber sejarah Indonesia yang menggunakan sumber tertulis Belanda yang biasanya merupakan laporan resmi pemerintah Hindia Belanda. Tulisan-tulisan masa lampau mengenai Nusantara yang dihasilkan oleh orang-orang Perancis kebanyakan tidak mengatasnamakan Kerajaan Prancis secara resmi, melainkan hanya diakui sebagai catatan pribadi.

Salah satu tujuan dari penulisan buku ini adalah memulihkan kembali peran luarbiasa para pionir Prancis dalam berbagai hal, termasuk dalam hubungannya dengan Nusantara. Oleh karena itu penonjolan beberapa hal mengenai Prancis di Nusantara, termasuk Daendels sebagai penguasa Nusantara atas nama Kerajaan Prancis,  sangat tepat.

Dalam sejarah kolonialisme, pemerintahan Prancis di Nusantara berlansung singkat, hanya tiga tahun lamanya. Itupun hanya berlangsung efektif di Jawa. Akan tetapi pemerintahan singkat itu “berkesan” mendalam bagi kehidupan politik di Nusantara. Daendels, yang diangkat sebagai gubernur jendral oleh Prancis telah meletakan dasar-dasar sebuah negara sentralistik, hal itu terlihat ketika dia berupaya menjadikan raja-raja di Jawa sebagai pegawai pemerintah. Kepioniran Prancis pun terlihat ketika Daendels membuat revolusi transportasi di Pulau Jawa, dengan membuat jalan darat seribu kilometer yang membentang antara Anyer sampai Panarukan. Dengan adanya jalan tersebut, waktu tempuh perjalanan Batavia – Surabaya yang sebelumnya ditempuh dalam waktu lebih dari dua minggu, dapat dipersingkat menjadi enam hari saja. Pembangunan jalan tersebut juga mencatatkan suatu kegetiran yang monumental, karena ribuan jiwa penduduk pribumi menjadi korban keganasan ambisi Daendels tersebut. Ini pun kepioniran Perancis di Nusantara.

Orang Prancis semakin banyak yang bermukim di Nusantara pada abad ke-19. Di Batavia mayoritas orang Prancis bermukim di kawasan Rijswijkstraat (sekarang jalan Majapahit). Prancis pada saat itu merupakan trend setter kebudayaan masyarakat Eropa. Segala sesuatu yang berasal dari Prancis dianggap bermutu tinggi. Oleh karena itu, toko-toko Prancis yang berjejer di Rijswijkstraat sangat popular di kalangan elit Batavia. Sejarah pun kemudian mencatat bahwa Prancis pun menularkan kepionirannya dalam mode ke Nusantara.

 

Muhammad Mulyadi, dosen Jurusan Sejarah

Fakultas  Sastra Universitas Padjadjaran

 

About these ads

Responses

  1. jelek!! gada pengetahuannya!! hu!!

  2. [...] Orang Indonesia dan Orang Perancis: Dari Abad XVI sampai dengan Abad XX Share this:TwitterFacebookLike this:SukaBe the first to like this. Filed under Uncategorized | Tinggalkan Komentar [...]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: