Posted by: luckymulyadisejarah | June 11, 2008

Sejarah Kependudukan Malaysia

Sejarah Kependudukan Malaysia:

Terbentuknya Masyarakat Majemuk Malaysia

 

Oleh: Linda Sunarti

 

 

 

 Latar Belakang

 

            Malaysia saat ini telah menjadi tempat tinggal berbagai masyarakat suku bangsa, agama, dan etnis. Dengan sifat multietnis nya ini terbentuklah berbagai corak budaya, bahasa, agama dan adat istiadat. Corak masyarakat Malaysia seperti ini merupakan dampak dari perubahan struktur politiknya. Sebelum abad ke-19, penduduk  Malaysia (dahulu dikenal dengan Tanah Melayu) mayoritasnya adalah orang Melayu ditambah orang asli, dan sejumlah kecil kelompok etnis lain. Oleh sebab itu wilayah ini lebih dikenal sebagai Semenanjung Melayu.

            Aktivitas migrasi (perpindahan penduduk) merupakan aktivitas biasa dalam sebuah masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Hal ini bisa terjadi di mana saja dan berlaku baik dari satu kampung ke kampung lain atau yang melibatkan dari sebuah wilayah/negara ke negara lain (imigrasi). Hal yang istimewa di Tanah Melayu, aktivitas migrasi dari luar Tanah Melayu adalah faktor utama yang sangat berperan mengubah keseluruhan wajah masyarakat Tanah Melayu dan memberi dampak yang sangat besar terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakatnya hingga sekarang. Aktivitas migrasi akan menjadi pokok pembahasan dalam tulisan ini, yang membahas tentang latar belakang terbentuknya masyarakat majemuk Malaysia. Dalam hal ini akan disinggung teori yang diungkapkan ole T.G.Mc Gee dalam bukunya yang berjudul  Population: A Preliminary Analysis”;  T.G.Mc Gee menjelaskan ada lima tahap kedatangan penduduk di Semananjung, Sabah dan Serawak sejak beribu tahun yang lalu hingga tahun 1940-an.1  Kedatangan paling awal atau fase pertama terjadi beribu-beribu tahun sebelum Masehi ketika orang Melayu (Melayu Austronesia) yang tinggal disebelah selatan benua Asia bermigrasi ke Semenanjung dan  ke kepulauan Borneo (Kalimantan) serta kepulauan Nusantara lainnya. Kedatangan mereka secara tidak langsung telah menyebabkan penduduk pribumi Semenanjung (orang Asli) terdesak pindah ke kawasan pedalaman. Kedatangan mereka juga telah mengubah struktur kependudukan,. Orang Asli sebagai penduduk paling awal yang mendiami kawasan Semenanjung tinggal di kawasan pedalaman, sementara orang Melayu tinggal di kawasan pantai dan muara-muara sungai.

Berdasarkan teori ini orang Melayu adalah pendatang, bedanya dengan pendatang  lain yang datang belakangan, orang Melayu ini telah datang dan tinggal di kepulauan Melayu sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Hal ini menyebabkan orang Melayu menjadi penghuni tertua setelah orang pribumi (orang asli) di Semenanjung. Sampai hari ini orang Melayu dikelompokan sebagai penduduk awal atau pribumi Tanah Melayu, dan memiliki identitas tersendiri berbeda dengan orang Asli. Maka tidak heran jika Orang Melayu sering menganggap diri mereka adalah penduduk asli negara Malaysia, walaupun banyak juga pihak yang tidak sependapat.

Fase kedatangan yang kedua terjadi  ketika berkembangnya kerajaan–kerajaan  Melayu Hindu, kedatangan Islam ke wilayah Nusantara dan hubungan awal dengan orang-orang Barat (Portugis dan Belanda) serta dengan orang Cina.2 Proses ini terjadi pada awal-awal abad selepas Masehi hingga abad ke-16, satu jangka masa yang panjang dan prosesnya terjadi perlahan-lahan. Pada waktu itu orang-orang yang berhijrah ke negeri-negeri Melayu berasal dari Sumatera terutama orang Minangkabau. Mereka kebanyakan datang ke Malaka, suatu kerajaan yang makmur di bawah Kesultanan Melayu Malaka. Pada waktu yang sama sejumlah kecil orang Cina dan India telah datang dan tinggal menetap di Malaka. Kebanyakan dari mereka adalah pedagang. Pada proses ini terjadi perkawinan campur dan asimilasi budaya antara pendatang dan penduduk setempat, perkawinan campur terjadi tidak hanya terbatas di kalangan rakyat biasa tetapi juga berlaku di kalangan penguasa, misalnya pernikahan antara Sultan Mansyur Syah dengan Puteri Hang Li Po dari negeri Cina.3  Hasil dari perkawinan campur dan asimilasi budaya antara kebudayaan para pendatang dan kebudayaan setempat, telah melahirkan keturunan Baba dan Nyonya. Keturunan itu masih ada sampai sekarang terutama di Malaka dan Pulau Pinang. Pada tahap ini juga ada sejumlah kecil orang India dan Cina di Sarawak dan Sabah.4

Fase ketiga berhubungan erat dengan kedatangan Inggris ke negeri Melayu, Sabah dan Sarawak pada abad ke-18 dan 19. Menurut T.G. Mc Gee , fase inilah yang mengubah komposisi penduduk Semenanjung secara menyeluruh dan membentuk masyarakat majemuk yang ada sekarang. Pentingnya fase ini terletak pada dua hal utama. Pertama adalah membanjirnya pendatang-pendatang dari Cina, India dan kepulauan Indonesia dalam jumlah yang banyak. Kedua, berkaitan dengan jumlah kelahiran dan kematian di kalangan kaum pendatang. Bagi pendatang Cina dan India jumlahnya memang besar dan terus bertambah dari tahun ketahun tetapi kebanyakan terdiri dari buruh-buruh lelaki akibatnya jumlah kelahiran di kalangan mereka sangat rendah. Berbeda dengan buruh dari kepulauan Indonesia mereka kebanyakan datang bersama keluarga, akibatnya jumlah kelahiran di kalangan mereka lebih tinggi. Selain itu pada tahap ini, tidak banyak berlaku perkawinan campur antara pendatang dengan penduduk setempat. Hal ini menjadi faktor tidak terjadinya asimilasi melalui perkawinan baik dikalangan antara kelompok pendatang maupun dengan penduduk setempat. Sehingga sifat majemuk masyarakat tetap terpelihara. Sementara itu, di Sarawak akibat dari kebijakan James Broeke yang tidak menggalakan masuknya pendatang dalam jumlah besar ke wilayahnya menyebabkan struktur masyarakatnya tidak terganggu.

Jika fase pertama, kedua dan ketiga tidak dapat dipastikan kapan tahunnya, bagi fase keempat  dapat dikatakan dengan pasti terjadi dalam tempo antara 1918 hingga 1947. Pada waktu ini sebenarnya jumlah pendatang menurun, namun karena yang datang kebanyakan adalah buruh-buruh perempuan maka jumlah kelahiran di kalangan pendatang meningkat dan dalam waktu yang sama jumlah kematian menurun karena pelayanan kesehatan yang semakin baik. Dengan keadaan masyarakat pendatang bertambah jumlahnya melalui proses biologi. Namun, jumlah pertambahan penduduk terganggu ketika Tanah Melayu diduduki Jepang pada 1940-an. Sementara itu di Sabah, walaupun negeri itu didatangi kaum pendatang tetapi jumlah pertumbuhan penduduknya tidak setinggi di negeri-negeri Melayu.

Fase kelima yaitu tahap setelah tahun 1947 an. Di tahun sebelum 1947an jumlah penduduk di Tanah Melayu terus meningkat, namun pada periode 1947 hingga 1957, jumlah pertambahan penduduk untuk pertama kalinya menurun. Jika dahulu negeri-negeri Melayu menjadi tumpuan pendatang dari berbagai negeri tetapi pada tempo ini juga banyak pendatang yang meninggalkan Tanah Melayu baik itu pindah ke Singapura ataupun ke tempat-tempat lain. Diperkirakan sejumlah 141.100 orang berhijrah ke Singapura dan 110.000 orang berhijrah ke tempat lain. Fenomena ini dikaitkan dengan suasana politik yang tidak stabil ketika keadaan darurat diterapkan di Tanah Melayu pada tahun 1948 karena pemberontakan Partai Komunis Malaya (PKM). Sementara itu keadaan sebaliknya berlaku di Sabah dan Sarawak. Jumlah pertumbuhan penduduk bertambah akibat dari naiknya jumlah kelahiran dan turunnya jumlah kematian yang merupakan dampak dari keberhasilan pemerintah dalam pelayanan kesehatan.

 

Struktur Masyarakat Malaysia Sebelum Abad ke-18

            Sebelum abad ke-18 dan 19 orang Asli, Melayu dan kaum bumiputera Sabah dan Sarawak menjadi penduduk mayoritas. Walaupun telah ada migrasi dari luar namun jumlahnya sedikit selain itu juga terjadi proses asimilasi budaya antara para pendatang dengan penduduk setempat. Selain itu juga terdapat sejumlah pendatang yang berasal dari Sumatera yang kebetulan berasal dari rumpun bangsa yang sama, sehingga corak masyarakat asli masyarakat Melayu tidak berubah. Walaupun dari dari segi sifatnya tidak bercorak majemuk tetapi penduduk Tanah Melayu ketika itu terdiri dari berbagai suku yang berbeda, terutama di Sabah dan Sarawak. Orang Asli sebagai penduduk asli Tanah Melayu antara lain terdiri dari beberapa kelompok seperti Semang, Jakun, Sakai, Negrito dan Orang Laut. Sementara itu di Sabah penduduk pribuminya terdiri dari suku Kadazan/Dusun, Murut, Bajau, Brunai, Illanus dan Kedayan. Suku Kadazan/Dusun dan Murut merupakan suku terbesar di Sarawak, selain kedua suku ini juga terdapat Suku Iban/Dayan Laut, Bidayuh/Dayak Darat, Kayan, Kenyah, Kelabit, Kedayan, Bisaya dan Melanau.5

            Dari segi jenis pekerjaan, Orang Asli yang tinggal di kawasan pedalaman hidup berpindah-pindah dengan pekerjaan berburu binatang, mengambil hasil hutan. Selain itu juga ada yang menanam padi huma. Orang Laut biasanya menjadi nelayan. Sedangkan orang Melayu kebanyakan hidup dengan bercocok tanam seperti menanam padi, berladang. Mereka yang tinggal di kawasan pantai menjadikan laut sebagai sumber mata pencaharian. Namun ada juga yang berburu dan memungut hasil hutan. Berlainan dengan orang Asli yang masih hidup berpindah-pindah, orang Melayu hidup menetap di satu tempat.

            Pada masa kejayaan Kesultanan Malaka, banyak juga orang Melayu yang terlibat dalam perdagangan. Biasanya mereka menjadi pedagang perantara (orang tengah) yang memasarkan hasil-hasil hutan yang berharga (damar, kemenyan, kapur barus, dll) dan juga rempah-rempah kepada pedagang-pedagang asing dari India, Timur Tengah, Cina dan lainnya. Pada periode ini aktivitas penambangan lebih bertumpu pada penambangan bijih besi dan emas. Bijih timah juga ditambang tetapi jumlahnya lebih sedikit dibandingkan emas.

            Struktur masyarakat Orang Asli dibagi dalam beberapa puak dan dipimpin oleh seorang ketua. Sementara itu stratifikasi masyarakat Melayu terdiri dari dua golongan. Pertama golongan yang memerintah dan kedua golongan yang diperintah (Penguasa dan Rakyat). Hierarki tertinggi ditempati oleh Sultan, kemudian Kelas Bangsawan, Kelas Pembesar, Rakyat Biasa dan Hamba. Sultan, kelas bangsawan dan kelas pembesar termasuk dalam golongan yang memerintah. Sedangkan rakyat biasa dan hamba adalah golongan yang diperintah.

            Hidup rakyat biasa umumnya sederhana dan umumnya bekerja sebagai petani yang hasilnya hanya cukup untuk keperluan sendiri (self sufficient) dan untuk membayar pajak kepada penguasa. Dalam waktu yang sama mereka juga terikat dengan kerja wajib untuk golongan penguasa. Sistem ini memaksa rakyat meninggalkan pekerjaan mereka untuk bekerja bagi pihak penguasa tanpa mendapat upah. Situasi ini sebenarnya adalah keadaan yang umum bagi kebanyakan masyarakat Asia Tenggara saat itu. Lapisan yang paling bawah sekali adalah golongan hamba (orang yang terikat dengan tuannya)..

            Struktur masyarakat Melayu seperti ini mulai berubah secara perlahan menjelang awal abad ke-18 seiring dengan perkembangan yang terjadi baik dari segi politik maupun ekonomi. Hal ini juga berlaku di sebagian besar negara-negara Asia Tenggara lainnya. Namun begitu, perubahan dalam struktur masyarakat yang terjadi di Malaysia sangat terlihat jelas dibanding negara-negara Asia Tenggara lainnya. Fenomena migrasi dari luar yang terjadi akibat faktor penarik yang ada di Tanah Melayu maupun faktor pendorong di negara asal menjadi hal yang sangat berperan dalam melihat perubahan yang memiliki dampak sangat besar hingga saat ini.

 

Aktivitas Migrasi  dari Luar

            Menjelang akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19 aktivitas perpindahan penduduk begitu mendadak dengan jumlah yang besar dan tidak terputus-putus hingga awal abad ke-20. Keadaan ini dapat dikaitan dengan kedatangan Inggris ke negeri-negeri Melayu sejak pengambilan Pulau Pinang pada tahun 1786, diikuti Singapura pada 1819, Malaka 1824, Perak 1874 dan negeri-negeri Melayu lainnya pada tahun-tahun berikutnya. Motivasi kedatangan Inggris ke negeri-negeri Melayu sama dengan motivasi bangsa Eropa lainnya adalah mencari kekayaan hasil buminya. Atas dasar inilah Inggris mendorong kegiatan penambangan bijih timah dan penanaman tanaman-tanaman dagang yang diminati pasar Eropa. Dalam rangka mencapai tujuannya tersebut, Inggris mendorong pembukaan tambang-tambang bijih timah baru dan memperkenalkan penanaman tanaman-tanaman dagang seperti lada hitam, tebu, karet dan kopi. Permintaan karet yang tinggi untuk keperluan pembuatan pelbagai jenis barang seperti ban, sepatu, pembatas barang-barang elektronik di Eropa dan Amerika Serikat6 telah mendorong pemerintah Inggris melakukan usaha penanaman karet secara besar-besaran.

            Untuk mendukung kegiatan ekonomi yang sedang berkembang pesat ini, pihak Inggris memerlukan tenaga pekerja/buruh yang banyak. Atas dasar tidak ingin mengutak-atik struktur masyarakat Melayu yang sudah ada dan juga karena minat orang Melayu tidak begitu besar untuk menjadi pekerja/buruh di tambang-tambang timah dan perkebunan yang baru dibuka, maka sebagai jalan keluar pihak Inggris mengambil kebijakan mendatangkan tenaga buruh dari luar. Kebetulan pula pada saat itu buruh murah mudah didapat terutama dari Cina, India dan kepulauan Indonesia. Buruh-buruh Cina ditempatkan di tambang-tambang bijih timah, buruh India di perkebunan –perkebunan baik perkebunan kopi,tebu ,karet dan lainnya. Bermula dari era inilah maka Semenanjung Melayu mulai dibanjiri kaum pendatang dari luar. 

 

Migrasi dari Cina

            Keluar dari kemiskinan hidup di tanah air mereka7 adalah pendorong utama orang Cina berhijrah keluar termasuk datang ke negeri-negeri Melayu. Ketidakstabilan ekonomi dan politik terutama setelah meletusnya pemberontakan Taiping tahun 1857 di Cina bagian tengah dan seatan menjadi factor pendorong di samping masalah kelebihan jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang besar di kawasan selatan melahirkan masalah pengangguran yang tinggi dan akhirnya memunculkan malapetaka kelaparan. Kawasan yang paling banyak penduduknya berhijrah atau migrasi keluar adalah daerah Kwantung, Fukien dan Kwangsi. Dalam waktu yang sama muncul faktor yang menarik mereka di Tanah Melayu yaitu terbukanya lapangan pekerjaan baru akibat dari meningkatnya aktivitas ekonomi Inggris.

            Masyarakat  Cina terbagi dalam berbagai kelompok berdasarkan bahasa atau dialek penuturan mereka.  Jika ditinjau dari pola penghijrahan berdasarkan kelompok bahasa atau dialeknya, dapat dikategorikan bahwa pendatang-pendatang itu terdiri dari kelompok bahasa Teochew dan Kantonis yang berasal dari Kwantung, Hokkienbdari Fukien, mereka yang bertutur dalam dialek Hakka berasal dari dari pegunungan Kwantung, Kwangsi serta Fukien dan kelompok dialek Hainanis dari pulau Hainan.

            Negeri yang menjadi tujuan utama mereka adalah Negeri-Negeri Selat (Pulau Penang, Malakan dan Singapura) dan kemudian negeri-negeri Melayu yang lain antara lain Selangor, Perak, Negeri Sembilan (yang tergabung dalam negeri-negeri Melayu Bersekutu) dan Johor. Di Sabah dan Sarawak tujuan utama mereka adalah kawasan-kawasan kota /Bandar seperti daerah sandakan, Tawau, Kuching dan Miri. Dari keseluruhan pendatang Cina hampir 60% tinggal di Semenanjung Melayu, 27% di Singapura dan 13% di Borneo (Sabah dan Sarawak).8

            Kedatangan buruh-buruh Cina ke negeri-negeri Melayu melalui beberapa cara. Pertama diusahakan oleh para perantara yaitu orang Cina yang telah lama menetap di Tanah Melayu. Sistem “tiket kredit” (memberikan pinjaman uang sebagai tiket untuk pejalanan mereka ke Tanah Melayu) sangat popular dan mayoritas buruh Cina yang datang diambil melalui sistem ini, walaupun banyak memberi dampak yang tidak baik bagi kehidupan mereka selanjutnya, karena banyak yang terjerat hutang untuk membayar kembali hutang mereka. Sistem ini kemudian digantikan dengan sistem pengambilan buruh oleh majikan yang memerlukan buruh secara langsung  .

            Jumlah buruh-buruh Cina yang datang banyak jumlahnya, dan senantiasa bertambah dari tahun ketahun, namun angka yang tepat susah dipastikan. Namun begitu diperkirakan bahwa dalam masa dua tahun yaitu dari tahun 1898 hingga 1900 tidak kurang dari 100.000 orang dewasa Cina telah tiba di Negeri-Negeri Melayu Bersekutu saja, tidak termasuk wilayah lain. Dampak dari kehadiran mereka begitu terasa apabila pada tahun 1901 didapati bahwa 65% dari keseluruhan penduduk negeri Selangor adalah kaum pendatang Cina.9 Secara tidak langsung ini telah mengalahkan jumlah penduduk Melayu sebagai penduduk mayoritas.

            Jika ditinjau dari segi pekerjaan, hampir sebagian besar orang Cina dari dialek Hakka dan Kantonis terlibat dalam sektor pertambangan dan pekerjaan yang memerlukan keahlian tangan. Orang Hokkiean dan Teochew lebih banyak terlibat dalam sektor pertanian, pedagang kecil dan pendayung perahu.10  Hal ini memperlihatkan bahwa pola kependudukan masyarakat Cina ketika itu adalah berdasarkan dialek bahasa dan jenis pekerjaan.

            Walaupun secara umum diketahui mayoritas utama pekerjaan mereka pada sektor pertambangan, namun mereka juga ada yang terlibat dalam sektor-sektor lain seperti perkebunan, pertanian, kerajinan tangan, perdagangan, penarik becak dan lain-lain. Dari segi jumlah diperkirakan bahwa pada tahun 1907, buruh-buruh Cina di pertambangan-pertambangan Negeri-Negeri Melayu Bersekutu meningkat pada jumlah 231.368 berbanding 186.337 pada tahun 1903. Sementara itu di sektor perkebunan pada tahun 1907 terdapat sejumlah 5348 buruh Cina dan meningkat ke angka 12.402 dua tahun kemudian.11  Dalam bidang pertanian terdapat sejumlah 49.504 orang Cina  pada tahun 1921 di Negeri-Negeri Selat, dan orang Cina yang bekerja sebagai penarik becak berjumlah 22.985 orang pada tahun yang sama.12

            Di Sabah dan Sarawak, perkembangan ekonominya tidak sepesat di Semenanjung Melayu, aktivitas kedatangan orang-orang Cina juga terjadi tetapi tidak sebanyak seperti di Semenanjung Melayu. Kebanyakan dari buruh-buruh ini bekerja di perkebunan-perkebunan tembakau yang beroperasi di Sabah. Selain bekerja di perkebunan tembakau dan teh, ada juga yang bekerja sebagai pedagang. Pada tahun 1901 di Sabah dan Sarawak terdapat 12.282 orang buruh Cina dan pada dua puluh tahun kemudian meningkat menjadi 39.356 orang.13

 

Migrasi dari India

            Kelompok kedua pendatang terbesar ke Tanah Melayu adalah dari India. Kebanyakan mereka berasal dari India Selatan yaitu dari daerah Negapatam dan Madras. Kemiskinan dan kelaparan mendorong banyak orang India berhijrah ke negeri-negeri lain termasuk ke Tanah Melayu. Faktor pendorong ini sama dengan faktor penghijrahan orang-orang Cina, disamping faktor penarik yang ada di Tanah Melayu. Berbeda dengan pendatang-pendatang dari Cina pendatang-pendatang dari India ini tidak dipisahkan pada beberapa kelompok berdasarkan bahasa dan dialek. Sebaliknya mereka dipisahkan oleh daerah yang berlainan dan sistem kasta. Bagaimanapun pemisahan ini tidak begitu terlihat jelas dibandingkan dengan buruh-buruh Cina.

            Buruh-buruh India datang sejak dibukanya Pulau Pinang oleh Inggris. Pada waktu itu jumlah mereka masih sedikit. Setelah Inggris menguasai negeri-negeri Melayu jumlah mereka semakin bertambah. Sebelum perkebunan karet di usahakan secara besar-besaran, buruh-buruh India ini di pekerjakan di perkebunan-perkebunan tebu di Seberang Perai, di utara Perak dan kebun kopi di Selangor. Sampai dengan tahun 1890 jumlah buruh India tidak begitu banyak dibandingkan buruh Cina.  Bahkan ketika harga kopi jatuh menjelang abad ke-20, banyak pendatang India yang kembali ke negeri mereka.

            Meningkatnya perkembangan perkebunan karet mendorong pihak Inggris mencari berbagai cara untuk menarik buruh-buruh India agar datang bekerja ke negeri-negeri Melayu. Usaha pihak Inggris antara lain dengan melakukan pendirian lembaga Dana Imigran India (Tamil Immigration Fund). India yang ketika itu berada di bawah jajahan Inggris memberikan kemudahan bagi urusan pengambilan buruh-buruh. Dampak dari keterlibatan pemerintah yang begitu intensif memberi dampak yang besar dalam hal kedatangan buruh-buruh India ke negeri-negeri Melayu. Pada tahun 1906 diperkirakan sejumlah 95.000 buruh India telah datang ke Tanah Melayu. Dari jumlah itu sejumlah 43.824 orang bekerja di perkebunan karet di seluruh Tanah Melayu, dan pada tahun 1904 jumlah itu meningkat pada 55.132 pada tahun 1909.14 Sisanya bekerja di sektor-sektor pembangunan jalan kereta api dan pekerjaan pekerjaan sipil lainnya. Pada tahun 1921 diperkirakan sejumlah 8.000 orang India telah bekerja sebagai buruh kereta api.15 Di Sabah, buruh-buruh India bekerja pada pasukan keamanan, sedangkan di Sarawak mereka bekerja di tambang-tambang emas di Sambas dan Bau.

            Cara mendatangkan buruh-buruh India agak berbeda dengan buruh-buruh Cina dan lebih sistematik. Sistem buruh kontrak merupakan cara yang pertama dilakukan, dan melibatkan majikan secara langsung dalam usaha mencari buruh melalui wakilnya yang dikirim India. Sistem Kangany menggantikan sistem buruh kontrak yang mulai dilarang pada tahun 1910 karena banyaknya penganiayaan terhadap buruh-buruh yang terlibat. Selain daripada itu terdapat juga buruh bebas yang bernasib lebih baik karena dapat memilih pekerjaan yang diingini.

            Walaupun jumlah buruh India yang dibawa masuk ke negeri-negeri Melayu cukup banyak, namun mereka yang menetap di Tanah Melayu agak kurang dibandingkan dengan pendatang Cina. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya adalah sebab kesehatan. Jika dibandingkan dengan pendatang Cina, tingkat kematian pendatang India cukup tinggi. Contohnya pada tahun 1908 sebanyak 5419 orang meninggal akibat berbagai penyakit. Keadaan ini barangkali dapat dikaitkan dengan dengan keadaan kehidupan mereka yang tidak teratur di perkebunan yang baru dibuka dan pelayanan kesehatan yang buruk. Barangkali karena sebab yang sama yang telah mendorong banyak dari mereka meninggalkan Tanah Melayu. Misalnya pada taun 1908 sebanyak 12.000 orang telah meninggalkan Tanah Melayu dari 38.801 orang yang datang pada tahun tersebut.16

 

Migrasi dari Wilayah lain

            Tanah Melayu, Sabah dan Sarawak menjadi tujuan utama bukan hanya bagi pendatang dari Cina dan India tetapi juga telah menarik minat pendatang dari tempat lain termasuk  Ceylon/Srilangka dan Indonesia. Meski jumlahnya tidak sebanyak pendatang Cina dan India. Di Negeri-negeri Melayu kebanyakan pendatang dari Indonesia datang dari Jawa dan Sumatera, sementara di Sabah dan Sarawak mereka datang dari Jawa, Kalimantan (orang Banjar), Sulawesi (Bugis) dan Timor. Namun di Sabah dan Sarawak jumlah pendatang dari Indonesia lebih besar, hal ini karena kurangnya jumlah pendatang Cina dan India yang datang ke wilayah ini, selain itu Sabah dan Sarawak secara geografis lebih mudah dijangkau dari Kalimantan dan Sulawesi berbanding Tanah Melayu.

            Selain faktor kedekatan geografis, yang mendorong kedatangan orang-orang Indonesia ke negeri-negeri Melayu pada abad ke-18 dan 19 ada beberapa faktor lain diantaranya adalah akibat padatnya jumlah penduduk terutama di pulau Jawa dan Madura,17 kemudian tekanan pemerintah kolonial Belanda terhadap penduduk setempat misalnya pada saat Tanam Paksa. Di samping itu ada juga yang melarikan diri ke Tanah Melayu akibat keterlibatan mereka dalam pergerakan politik yang dilarang pemerintah.

            Kedatangan mereka selain ada yang berusaha sendiri ada juga yang melalui perusahaan tenaga kerja khususnya bagi pendatang dari pulau Jawa.18 Mereka yang datang sendiri bebas memilih pekerjaan, sedangkan yang dating lewat perusahaan perusahaan, ditempat di tempat-tempat yang memerlukan.  Pada umumnya di negeri-negeri Melayu buruh-buruh dari wilayah kepulauan Indonesia bekerja di sektor perkebunan baik di perkebunan tebu maupun perkebunan karet. Diperkirakan pada tahun 1909 terdapat sejumlah 6170 orang Jawa bekerja di kebun-kebun di seluruh Negara-Negara Melayu Bersekutu terutama di Selangor. Di Sabah, buruh umumnya orang Bugis kebanyakan bekerja di ladang. Diperkirakan pada tahun 1921 terdapat sejumlah 11.223 buruh Indonesia bekerja di perkebunan-perkebunan di Sabah.19 Ini merupakan satu jumlah yang besar bahkan lebih tinggi daripada di Semenanjung.

            Selain pendatang dari Indonesia, juga ada kelompok pendatang dari Srilangka, sebuah negara di ujung negara India,  kebanyakan dari mereka dari suku Sinhala. Mereka datang dari kawasan pantai selatan negara tersebut.20  Mereka datang dengan jumlah yang agak banyak sejak akhir abad ke-19 dan berlanjut hingga abad berikutnya terutama setelah negeri Srilangka dikuasai oleh Inggris. Jika dibandingkan dengan pendatang dari tempat lain,  faktor kesulitan ekonomi bukanlah merupakan faktor utama yang menyebabkan orang Sinhala ini bermigrasi. Sebaliknya mereka bermigrasi atas tujuan mencari penghasilan yang lebih baik daripada yang mereka peroleh di negara mereka sendiri.21 Oleh sebab itu kebanyakan mereka yang datang masih berusia muda dan datang lewat usaha sendiri, tidak melalui agen atau perusahaan pengambilan tenaga kerja. Dari segi jenis pekerjaan, kebanyakan dari mereka bertumpu pada pekerjaan yang berkaitan dengan kereta api di samping menjadi pedagang keperluan sehari-hari. Tujuan mereka adalah kota-kota besar seperti Kuala Lumpur, Ipoh, Taiping, Pulau Pinang, dan Malaka. Di Sabah dan Sarawak dapat dikatakan tidak ada orang Sinhala yang datang ke wilayah ini.

 

Dampak-Dampak Migrasi

            Fenomena migrasi telah  mendatangkan dampak yang sangat besar pada wilayah Semenanjung Melayu terutama pada pola dan struktur masyarakatnya. Dampak dari kedatangan imigran secara cepat dan dalam jumlah besar menjadikan penghuni negeri-negeri Melayu, Sabah dan Sarawak bertambah sangat signifikan.  Pertambahan penduduk yang sangat pesat ini dapat dilihat dalam jangka masa 10 tahun antara 1891 hingga 1901 didapati bahwa jumlah pertambahan penduduk pribumi di Negeri-Negeri Melayu Bersekutu hanya naik 34.9% dibanding orang Cina yang meningkat sebanyak 83.4% dan orang India sebanyak 188.8%.

            Pola dan penyebaran penduduk tergantung kawasan dan negeri yang menerima dampak akibat fenomena ini.  Dengan kedatangan kaum imigran ini lahirlah satu bentuk baru dari segi penyebaran penduduk, dimana aktivitas ekonomi Inggris begitu dominan terutama negeri-negeri Melayu pantai Barat (yang tergabung dalam Negeri-Negeri Melayu Bersekutu) jumlah penduduknya padat. Dalam waktu yang sama terdapat satu kawasan yang tetap berada dalam keadaan seperti semula seperti di negeri-negeri Melayu pantai Timur (Kelantan dan Trengganu) dimana aktivitas ekonomi kolonial tidak begitu besar jumlah penduduknya sedikit dan tidak terjadi perubahan yang signifikan dalam pola dan struktur masyarakatnya. Ini menunjukan ketidakseimbangan jumlah penduduk antara Pantai Barat dengan Pantai Timur. Penyebaran peduduk berdasarkan etnis juga sangat terlihat jelas. Orang Melayu lebih banyak tinggal di luar perkotaan, sedangkan kaum pendatang lebih banyak tinggal di pusat-pusat kota, daerah pertambangan dan perkebunan. Pola seperti ini jauh berbeda dengan corak masyarakat Tanah Melayu sebelum kedatangan kaum imgran.

            Satu lagi dampak yang terlihat jelas adalah, akibat migrasi dari luar menyebabkan bertambahnya jumlah suku bangsa/etnis dan agama yang mendiami Tanah Melayu.Tanah Melayu yang sebelumnya hanya didiami oleh kaum bumiputera yang berasal dari satu rumpun bangsa, kini telah menjadi tempat tinggal bagi orang Cina, India, Sinhala, dan Eurasia yang masing-masing  mengamalkan budaya dan adat istiadat serta agama mereka sendiri. Maka lahirlah masyarakat majemuk di Malaysia. Dengan kehadiran kaum pendatang, masyarakat Melayu bukan lagi bukan lagi penduduk mayoritas. Bahkan kini orang Melayu hanya merupakan sebagian dari penduduk Malaysia, bahkan dari prosentasenya tidak sampai 50% dari jumlah keseluruhan penduduk.

            Terdapat pembagian atau garis pemisah yang sangat jelas dalam aspek kependudukan dan pekerjaan. Dapat dikatakan tidak banyak perubahan yang terjadi pada pola kependudukan dan pekerjaan orang Melayu dan juga Orang Asli, bahkan mereka sebenarnya makin terpinggir. Meskipun sebenarnya banyak juga orang Melayu yang tinggal di perkotaan meskipun jumlahnya kecil jika dibandingkan dengan kelompok lain. Banyak dari mereka adalah keturunan campuran/peranakan baik Arab maupun India yang lebih banyak menjalankan perdagangan. Di samping itu juga orang Melayu dari lapisan atas yang bekerja pada pemerintah dan bidang pedidikan.

            Orang Cina lebih banyak tinggal di wilayah yang dekat dengan kawasn pertambangan bijih timah yang akhirnya berkembang menjadi kota/Bandar. Maka tidak heran jika terdapat mayoritas penduduk kawasan perkotaan adalah orang Cina. Mereka tinggal di kawasan-kawasan yang berpotensi berkembang maju karena prestasi ekonomi kawasan tesebut. Contoh terbaik adalah Kuala Lumpur. Awalnya adalah merupakan salah satu kawasan penambangan bijih timah tetapi kini berkembang pesat sebagai pusat perkembangan ekonomi dan pemerintahan. Mayoritas penduduk Kuala Lumpur adalah orang Cina. Sementara itu mereka yang terlibat dalam sektor perkebunan tinggal di kawasan perkebunan. Singkatnya, orang Cina lebih banyak tinggal di negeri-negeri Pantai Barat karena tabang-tambang bijih timah dan perkebunan kebanyakan ada di wilayah ini.

            Bagi orang India, pola kependudukannya lebih banyak bertumpu di kawasan perkebunan di wilayah Pantai Barat. Karena potensi ekonominya, kawasan-kawasan ini berkembang menjadi kawasan tempat tinggal yang memiliki infrasrukur yang cukup memadai. Ini akhirnya menumbuhkan kota-kota baru yang terus berkembang memenuhi kebutuhan penduduknya. Walaupun jumlah mereka yang datang ke Tanah Melayu cukup besar, tetapi akhirnya jumlah mereka merosot  karena banyak juga yang pulang kembali ke negerinya. Orang India tidak seperti mayoritas orang Cina  yang mengambil keputusan untuk terus tinggal menetap di Tanah Melayu. Karena itu jumlah orang India tidak dapat menyamai jumlah orang Cina dan orang Melayu.

            Di Sabah dan Sarawak, karena jumlah kaum imigran tidak sebanyak seperti di Semenanjung Melayu, jumlah penduduk bumiputeranya tetap mayoritas. Sehingga hal ini tidak begitu banyak mengubah corak dan penyebaran penduduk di kedua wilayah tersebut. Dari segi penyebarannya, kaum pendatang lebih banyak tinggal di kawasan perkotaan tempat peluang ekonomi lebih banyak tersedia dibanding kawasan pedalaman. Jumlah pendatang Cina lebih banyak dibanding pendatang India tetapi mungkin sama atau lebih sedikit disbanding pendatang Indonesia di Sabah. Sedangkan di Sarawak, jumlah pendatang Cina hanya meningkat selepas Perang Dunia Kedua. Bagaimanapun, karena potensi ekonominya kurang memikat jumlahnya masih tetap sedikit jika dibandingkan penduduk bumiputeranya.

            Berdasarkan pada pola penyebaran kependudukan Masyaraka Malaysia, didapati bahwa hubungan sosial antara sesama mereka terutama pada masa awal pembentukan masyarakat majemuk, sangat terbatas dan tidak begitu baik. Akibat terpisah dari segi kawasan tempat tinggal, pekerjaan, sistem pendidikan, maka hubungan sosial antara mereka tidak dapat dipupuk, bahkan pernah meletus beberapa kerusuhan etnis/suku dalam sejarah Malaysia. Barangkali sikap ini timbul karena masing-masing kelompok belum dapat menerima kenyataan bahwa mereka telah tinggal dalam satu Negara dan sama-sama telah membangun ekonomi Negara tesebut, sehingga mereka mempunyai hak yang sama untuk hidup dan mengelola kekayaan bersama. Bagi orang Melayu, pada tahap  awal  banyaknya kedatangan kaum imigran, mereka tidak begitu ambil peduli. Bahkan ada pembesar-pembesar Melayu yang bekerjasama dan berhubungan erat dengan tauke-tauke atau kapiten-kapiten Cina untuk mengusahakan pertambangan bijih timah milik mereka. Pembesar-Pembesar ini tidak merasa ragu untuk mengambl burh-buruh Cina untuk bekerja dengan mereka.

            Berkaitan dengan sikap ini, kemungkinan besar orang Melayu mengambil sikap itu karena mereka menganggap bahwa kaum pendatang ini tidak akan tinggal menetap, mereka akan pulang ke negara jika kekayaan yang mereka cari telah berhasil didapat. Anggapan ini muncul, karena kebanyakan pendatang datang sendiri tidak membawa keluarga mereka. Dan memang pada tahap awal ini kebanyakan pendatang pulang ke negeri mereka setelah berhasil memperoleh kekayaan. Kaum pendatang ini juga tidak begitu peduli dengan pemerintahan dan politik negeri-negeri Melayu. Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, dan orang Melayu merasa tidak perlu untuk duduk bersama dan bergaul dengan kaum pendatang. Namun, sikap ini telah mulai berubah pada tahun-tahun 1920-an. Perubahan sikap ini berkaitan dengan perubahan sikap kelompok pendatang terhadap Tanah Melayu, terutama di kalangan mereka yang telah lama tinggal di Tanah Melayu atau yang memang lahir di negeri tersebut dan memperoleh kerakyatan Inggris (British Subject) serta berpendidikan Inggris.

            Kelompok pendatang ini telah mulai menyuarakan berbagai tuntutan sebagai penduduk tetap negeri-negeri Melayu termasuk hak dalam politik. Mereka secara terbuka menyatakan keinginan untuk terus tinggal menetap di Negara tersebut dan tidak akan pulang ke negeri asal masing-masing, dengan janji bahwa mereka akan taat setia dan  tidak terbagi lagi. Mereka tidak ingin dianggap sebagai pendatang lagi. Kesetiaan mereka hanya akan diberikan bagi Tanah Melayu. Mendengar tuntutan-tuntutan tersebut, orang Melayu mulai peka dengan kehadiran kaum pendatang. Mereka merasa  bahwa tuntutan tersebut adalah tidak wajar untuk dipenuhi pihak Inggris. Orang Melayu berpendidikan yang tinggal d kota-kota besar yang paling awal tidak suka terhadap tuntutan-tuntukan kaum pendatang. Sebagai balasan, mereka mulai turut serta menyatakan secara terbuka penentangan mereka terhadap tuntutan tersebut dengan alas an bahwa kaum pendatang bukanlah penduduk asli Negara tersebut. Dari sini munculah penggunaan istilah masyarakat “bumiputera” untuk membedakan antara masyarakat Melayu dengan golongan /suku lain. Bagi masyarakat Melayu, kaum pendatang sudah cukup memperoleh kekayaan dari hasil bumi Tanah Melayu dan tidak perlu menuntut hak lain lain terutama hak politik. Orang Melayu mulai merasa khawatir dengan kedudukan mereka sebagai penduduk bumiputera bahkan mereka merasa tergugat,  selain itu mereka sendiri sadar bahwa dari segi kemajuan ekonomi dan pendidikan mereka jauh tertinggal dibanding kaum imigran ini.

            Hubungan yang tidak begitu baik ini terus berlanjut sampai Tanah Melayu memperoleh kemerdekaan. Orang Melayu akhirnya merasa tidak ada pilihan lain selain menerima hakekat bahwa pihak Inggris telah memenuhi tuntutan–tuntutan kaum pendatang ketika terbentuknya Persekutuan Tanah Melayu tahun 1948. Orang Melayu hanya bisa mengajukan syarat-syarat yang ketat pada tuntutan tesebut. Hal ini terjadi karena pihak Inggris melihat juga peran penting kaum imigran pada perekonomian Tanah Melayu.

            Dengan kemerdekaan Tanah Melayu yang mengakui hak-hak penduduk bukan Melayu secara undang-undang  melalui  perlembagaan/negara Malaysia, maka lahirlah satu bentuk masyarakat baru bagi Malaysia yang sangat berbeda dengan suasana dan corak sebelum abad 18. Bagaimanapun ini tidak bermakna bahwa masing masing golongan benar-benar telah dapat menerima hakekat tersebut dan menghormati hak-hak yang telah ditetapkan dalam undang-undang Negara tersebut. Ini terbukti ketika muncul beberapa peritiwa kerusahan etnis/golongan terutama antara orang Melayu dan Cina akibat tidak puas dengan kedudukan masing-masing baik di bidang politik maupun ekonomi. Hubungan yang tida harmonis ini berusaha diperbaiki oleh pemerintah Malaysia hingga saat ini.

 

Linda Sunarti

Malaysianis, Pengajar di Departemen Sejarah

Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia



1 T.G.Mc Gee, 1965. “Population: A Preliminary Analysis”, Malaysia: A Survey . London, Frederick A Preager, hal.69-72

 

2 T.G.Mc.Gee, op.cit., hal.69

 

3 W.G. Shellabear, 1991.Sejarah Melayu. Petaling Jaya, Fajar Bakti, hal.96

 

4 Lee Yong Leng. 1965. North Borneo. Singapore: Eastern University, hal.17

 

5 James P Ongkili. 1985. Nation Building in Malaysia 1946-1974. Singapore: Oxford University Press, hal.4

 

6 Mohd Amin bin Hasan, 1992. “Asas Perkembangan Ekonomi Tanah Melayu: Bijih Timah dan Getah”, Malaysia: Warisan dan Perkembangan. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa Pustaka. Hal.154

 

7 B.W. Andaya & L.Y Andaya, 1983. Sejarah Malaysia. Petaling Jaya: Mac Millan, hal. 159

 

8 T.G.Mc.Gee, op.cit, hal.77

 

9 W.L Blythe, 1953. Historical Sketch of Chinese Labour in Malaya. Malayan Branch Royal Asiatic Society,  hal.3

 

10 B.W Andaya & L.Y Andaya, op.cit, hal.163

 

11 Chai Hon Chan, 1967. The Development of British Malaya 1896-1909. Kuala Lumpur: Oxford University Press, hal.100 dan 122

 

12 Tham Seong Chee, 1977. Malays and Modernization. Singapore: Singapore University Press, hal.4 dan 47

 

13 Chai Hon Chan, op.cit

 

14 Ibid

 

15 Amarjit Kaur, 1990. “Working on the Railway: Indian Workers in Malaya 1880-1957”, The Underside of Malaysian History. Singapore: Singapore University Press, hal.106

 

16 Chai Hon Chan, op.cit

 

17Khazim Mohd Tamrin, 1987. Orang Jawa di Selangor; Penghijrahan dan Penempatan 1880-1940. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, hal.30

 

18 Ibid, hal.71

 

19 Lee Yong Leng, op.cit, hal.49

 

20 S.N. Arseculeratne, 1991. Sinhalese Immigrants in Malaysia and Singapore 1860-1990. Colombo: K.V.G. De Silva & Sons Ltd, hal.8

 

21 Ibid, hal.10

About these ads

Responses

  1. mbak linda mo nanya gimana kalo mahasiswa malaysia baik dari etnik manapun datang ke indonesia dalam rangka belajar di Indonesia, ototmatis mereka akan tinggal selama kontrak belajar mereka habis, asumsinya bagimnapun ketika semua orang yang berbeda etnis akan melebur jadi malaysia namun ketika keplularan etnik dipertahankan dinegaranya pasti akan tetap bertahan, jadi bagaimankah pencairan etnik malaysia ketika mereka bermigrasi keluar negaranya? terimakasih

  2. Mohon izin, pak.

    Izin bertamu dan izin copy tulisan “Terbentuknya Masyarakat Majemuk Malaysia” untuk bahan bacaan dan arsip pribadi.

    Terima kasih, pak.

    • silakan, di link ok.

  3. SALAM KENAL dan SALING MENGUNJUNGI serta SALING BERBAGI.WAH…WEB-NYA CUKUP INFORMATIF …OYA,BISA PASANG LINK/BANNER GA YAH…???
    http://DUTACIPTA.WORDPRESS.COM


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: